Belajar Diving


Sejarah Selam




Sejarah Selam


Menyelam adalah kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan air, dengan atau tanpa menggunakan peralatan, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 


Menyelam, sebagai suatu profesi, sudah dikenal lebih dari 5000 tahun lalu. Penyelam zaman dulu mungkin tidak bisa mencapai kedalaman lebih dari 100 feet. Biasanya kegiatan ini dilakukan untuk mengambil kerang dan mutiara. Dalam sejarah Yunani, Herodotus menceritakan seorang penyelam bernama Scyllis yang dipekerjakan Raja Persia Xerxes untuk mengambil harta karun yang tenggelam pada abad ke 5 SM.


Sejak jaman dulu, penyelam juga dipergunakan untuk militer, seperti menenggelamkan kapal musuh, memotong jangkar, dan melubangi kapal dari bawah. Alexander ¡°The Great¡± mengirimkan penyelam untuk meruntuhkan pelabuhan di kota Tyra (Libanon) yang kemudian dikuasai tahun 332 SM.


Para penyelam jaman dulu juga dipergunakan untuk menyelamatkan barang yang tenggelam. Pada abad pertama SM, khususnya di Mediterania barat, para penyelam sudah terorganisir dan pembayarannya sudah diatur hukum. Pembayarannya tergantung kedalaman air yang diselami. Jika kedalamannya 24 feet maka penyelam dibayar ¨ö barang yang diselamatkan. Kedalaman 12 feet maka diberikan 1/3, dalam kedalaman 3 feet maka diberikan 1/10. 




Pipa udara


Penyelam jaman dulu hanya memikirkan bahwa panjangnya pipa udara adalah sangat penting dalam penyelaman. Banyak design yang memakai pipa panjang yang fleksibel dengan bagian atas mengapung. Tentunya hal ini tidak akan bekerja dengan baik pada kedalaman 3 feet, karena akan menyebabkan penyelam kekurangan oksigen dan akan tenggelam. Tekanan air juga meningkat sehingga menekan pipa dan dada.


Hal ini menyebabkan design alat selam yang menggunakan pipa udara tidak praktis dan sukar dilakukan.





                                                     


Breathing Bag


Lukisan Asyiria pada abad 9 SM menggambarkan seorang penyelam menggunakan tanki udara terbuat dari kulit. Namun penafsiran lain menjelaskan bahwa itu adalah perenang yang menggunakan tanki udara untuk mengapung di air.







Diving Bell


Sekitar tahun 1500-1800 lonceng selam telah berkembang, sehingga penyelam dapat menyelam dalam hitungan jam. Lonceng selam adalah peralatan berbentuk bel dimana dasarnya terbuka di dalam laut.


Lonceng selam pertama sangat besar sehingga penyelam dapat menyelam dalam beberapa jam. pada perkembangan lanjut, lonceng selam ini terhubungkan dengan kabel dari permukaan. Lonceng ini tidak dapat bermanuver dengan baik. Penyelam dapat tetap didalam atau keluar lonceng sebentar sambil menahan napas.


Lonceng selam pertama dibuat tahun 1513. Pada tahun 1680, petualang bernama William Philip berhasil mengangkat harta tenggelam sebanyak $200.000 dengan metode ini.


Pada tahun 1690, seorang ahli astronomi Inggris, Edmund Halley mengembangkan lonceng selam, dengan menenggelamkan tong dengan pemberat. Bersama 4 temannya ia dapat bertahan 1 1/2 jam dalam kedalaman 60 feet di sungai Thomas. 26 tahun kemudian, dengan mengembangkan peralatannya menjadi lebih baik ia dapat bertahan 4 jam dalam kedalaman 66 feet.







Diving Suit


Pada tahun 1715, seorang Inggris bernama John Lethbridge mengembangkan baju selam. Pertama kali ia menciptakan sebuah tong dari kayu yang dilapisi kulit, juga dilengkapi dengan kaca di bagian depan, dan lubang untuk lengan. Dengan menggunakan peralatan ini penyelam bisa melakukan tugasnya. Peralatan ini diturunkan dari kapal ke dalam air. Baju selam ini cukup berhasil, karena kedalaman normal operasinya 60 feet dan selama 34 menit. Tapi kelemahannya hampir sama dengan lonceng selam, yaitu terbatasnya suplai udara.









Pada tahun 1823 John dan Charles Deane, mempatenkan pakaian pemadam kebakaran. Dengan pakaian tersebut, pemadam kebakaran dapat masuk ke dalam bangunan yang terbakar. Pada tahun 1828, pakaian tersebut dipatenkan untuk selam, dimana terdiri dari pakaian yang dapat menahan dingin, helm, dan hose yang menghubungkan dengan permukaan. Suplai udara berasal dari permukaan dan dikeluarkan lewat bagian bawah helm, sehingga jika posisi helm terbalik maka akan cepat terisi air. Akhirnya oleh Augustus Siebe, helm ini dilengkapi dengan seal di bagian leher dan katup kuras.




Beberapa penemu bekerja sama untuk membuat pakaian selam yang dilengkapi dengan senjata. Pakaian ini dapat mengatur tekanan sehingga tekanan udara yang dihirup sama dengan tekanan udara permukaan. Pakaian selam ini merupakan pengembangan dari pakaian John Lethbridge.


Penggunaan pakaian ini dipertanyakan, karena bentuknya agak kaku untuk melakukan tugas. Pada tahun 1930 kedalaman yang dicapai 700 feet, tetapi dengan pengembangan sekarang sudah mencapai 2000 feet air asin (fsw).









Caissons


Pada saat yang sama dalam pengembangan pakaian selam, para penemu bekerja keras untuk mengembangkan lonceng selam dengan meningkatkan ukuran dan menambah kapasitas pompa udara sehingga dapat menjaga tekanan udara dan mengeluarkan air di dalam lonceng.


Perkembangan pompa udara yang cepat menambah ukuran ruang yang cukup luas sehingga beberapa pekerja dapat bekerja dibawah air. Hal ini bermanfaat terutama dalam pembangunan kaki jembatan atau terowongan. Ruangan yang diciptakan disebut caissons, dalam bahasa Prancis berarti kotak besar.


Caisson didesain sehingga penyelam dapat mudah mencapai permukaan. Dengan mengggunakan sistem kunci, tekanan di dalam caisson dapat diatur saat penyelam masuk dan keluar. Pada akhirnya caisson berkembang cepat.


Tapi dengan pemakaian caisson ini banyak pekerja mengalami penyakit dekompressi, sehingga penyakit dekompresi disebut juga penyakit caisson.




SCUBA (Self Contained Breathing Apparatus)


Peralatan selam yang dikembangkan John Deane, Agustus Siebe memang memberikan penyelam waktu yang lama dalam air, tetapi mobilitas sangat kurang. Para penemu mencari metode lain tanpa menurunkan tingkat bahaya. Solusi terbaik adalah menyediakan suatu alat suplai udara yang dapat dibawa.


Pada awalnya tidak berhasil karena terbatasnya kapasitas pompa udara untuk menyimpan udara dalam tekanan tinggi. Setelah hal ini dapat diatasi, maka udara dapat disimpan dalam suatu tempat tabung dalam tekanan tinggi sehingga menyediakan suplai udara yang cukup lama.







Scuba berkembang dengan cepat sehingga berkembang menjadi 3 macam tipe dasar:



  • Open Circuit Scuba (dimana seluruh udara buang langsung dikeluarkan ke lingkungan sekitarnya). Regulatornya dikembangkan oleh Benoist Rouquayrol, sedangkan sistemnya dikembangkan oleh Jacques-Yves Cousteau dan Emile Gagnan.
  • Closed Circuit Scuba (dimana seluruh udara buang dimasukkan lagi ke sistem sehingga dapat di daur ulang). Henry A. Fleuss mengembangkan sistem ini pada tahun 1876 dan 1878, Fleuss kemudian berhasil menguji peralatannya pada tahun 1879 dalam tanki air hampir selama 1 jam.
  • Semiclosed Circuit Scuba (kombinasi dari keduanya).





Tipe Penyelaman


Kegiatan menyelam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung antara lain kepada, kedalaman, tujuan dan jenis peralatan yang digunakan. 


Jika kedalaman yang dijadikan tolok ukur, penyelaman dapat dibedakan menjadi:



  • Penyelaman dangkal.Yaitu penyelaman dengan kedalaman maksimum 10 m
  • Penyelaman sedang.Yaitu penyelaman dengan kedalaman < 10 m s/d 30 m
  • Penyelaman dalam.Penyelaman dengan kedalaman > 30 m.



Jika didasarkan kepada tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan itu, penyelaman bisa dibedakan menjadi :


Penyelaman untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara, antara lain:



  • Tactical (Combat) diving yaitu penyelaman untuk tugas-tugas tempur
  • Submarine Rescue, penyelamatan kapal selam
  • Search & Rescue (SAR)
  •  Inspection & Repair (inspeksi dan perbaikan)
  • Ship Salvage



Penyelaman-penyelaman jenis ini pada umumnya dilaksanakan oleh para penyelam Angkatan Bersenjata.



  • Penyelaman komersial.Yaitu penyelaman professional antara lain untuk kepentingan konstruksi dibawah permukaan air, penambangan lepas pantai (Off shore drilling), salvage, dll.
  • Penyelaman Ilmiah (Scientific Diving). Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan ilmiah, antara lain : penelitian biologi, geologi, arkeologi dan kelautan pada umumnya.
  • Penyelaman Olah Raga (Sport Diving). Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan mempertahankan atau meningkatkan kondisi kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga.



Untuk mengerti lebih jelas tipe-tipe penyelaman, maka disarankan lebih baik membaca dulu fisika penyelaman, dan aspek medisnya.




Ada lima tipe umum selam sesuai metode, yaitu:




Breatholding atau Free Diving


Disebut juga skin diving atau snorkeling, merupakan penyelaman yang paling mudah dan paling tua. Tidak menggunakan suplai udara, sehingga waktu menyelam tergantung lamanya penyelam dapat menahan napas. Umumnya penyelam menggunakan masker untuk melihat dalam air, fin untuk mengayuh, dan snorkel untuk bernapas ketika berenang dengan muka menghadap ke bawah air. Lebih baik lagi menggunakan baju wet suit, selain menghindari hipotermi, juga dapat menambah daya apung.




Scuba diving


Menggunakan tabung dan regulator tekanan. Penyelam biasanya menggunakan tabung selam yang berisi 72 atau 90 cubic feet (cuft) dengan tekanan 2200 atau 3300 pound per square inch gauge (PSIG). Seperti snorkeling, penyelam menggunakan masker, fin, snorkel, pemberat, BC, jam selam, dan depth gauge. Untuk menghindari hipotermia, penyelam menggunakan wet suit. Jika suhu air < 10 OC, biasanya menggunakan dry suit. Selain peralatan dasar, peralatan tambahan juga diperlukan untuk keamanan, navigasi, dan komunikasi.




Surface Supplied or Tethered diving


Penyelaman ini memerlukan suplai udara dari permukaan secara terus menerus biasanya untuk tujuan militer atau komersial.




Saturation diving


Konsep penyelaman ini adalah bahwa dalam 24 jam pada kedalaman tertentu, jaringan tubuh telah menyeimbangkan tekanan sehingga waktu  dan profil dekompresi tetap sama walaupun penyelam berhari-hari dalam air.


Sebelum melakukan penyelaman, biasanya penyelam akan tinggal di dalam ruang yang bertekanan sama dengan kedalaman, setelah itu diangkut kedalam kapsul atau lonceng selam ke kedalaman yang diinginkan.





One Atmosphere diving


Pada penyelaman ini, tekanan udara yang digirup penyelam diatur supaya sama dengan permukaan laut (1 ATM). Leonardo Da Vinci telah mendesain gambaran yang sama dengan model modern (lihat Armored Diving Suit), tetapi baru direalisasikan pada abad 20.





Rebreather diving


Konsepnya yaitu dengan mensirkulasikan kembali udara yang telah dibuang penyelam, dengan membuang karbondioksida, dan menambah oksigen sebelum masuk ke dalam tubuh penyelam kembali. Dengan adanya konsep ini, menyelam akan lebih dalam dan lebih lama, dan gelembung udara tidak ada yang mungkin mengganggu pandangan. Tetapi peralatan selam ini sangat berbahaya jika tidak digunakan dan dipelihara dengan baik.




Mixed Gas diving


Pada penyelaman ini tidak menggunakan udara bebas, tetapi menggunakan udara dengan komposisi tertentu. Udara dengan komposisi yang diatur ini dapat dipergunakan dalam berabagai tipe selam lain.


Ada tiga macam campuran udara yang dipakai dalam penyelaman:


   Enhanced Nitrox (I,II)


Nitrox adalah campuran gas yang terdiri dari oksigen dan nitrogen. Yang sering digunakan ada dua, yaitu Nitrox 1 (32 % oksigen, 68 % nitrogen) dan Nitrox II (36 % oksigen, 64 %). Hanya Nitrox I yang boleh digunakan dalam penyelaman olahraga.


Sebenarnya kata Nitrox berarti campuran gas dengan komposisi oksigen < 21 %. Biasanya dipergunakan dalam selam, dan penyelaman saturasi, dimana efek samping keracunan oksigen dapat dihindarai. Secara teknis, jika kadar oksigen > 20 % maka disebut "enrich air nitrox" (EAN) atau "oxygen enrich air" (OEA). Tapi dalam prakteknya istilah EAN dan Nitrox sering tertukar.


Dengan adanya EAN maka kemungkinan terjadinya penyakit dekompressi menjadi berkurang, namun efek samping keracunan oksigen akan lebih besar. Untuk penyelaman rekreasi, penggunaannya masih dalam perdebatan.


Keuntungan dan Kerugian Penggunaan EAN pada kedalaman 50-130 fsw:


Keuntungan:



  •  Menurunkan risiko penyakit dekompresi.
  •  Menurunkan kejadian keracunan nitrogen.
  •  Mengurangi waktu nitrogen sisa (residual nitrogen).
  •  Waktu surface interval lebih pendek.
  •  Mengurangi waktu dekompresi jika bottom time maksimum terlewati.
  •  Mengurangi waktu survace interval antara menyelam dan terbang.


Kerugian:



  •  Memerlukan pelatihan khusus.
  •  Menggunakan peralatan khusus Nitrox.
  •  Meningkatkan oksidasi tabung scuba menjadi cepat berkarat.
  •  Mempercepat kerusakan peralatan.
  •  Meningkatkan risiko kebakaran.
  •  Risiko keracunan oksigen lebih besar.


   Heliox 


Selain nitrox, yang sering digunakan adalah heliox, yaitu campuran helium dan oksigen. Helium merupakan gas inert, yang menggantikan nitrogen. Penggunaannya menghilangkan efek keracunan oksigen dan menurunkan keracunan oksigen. Heliox disarankan dalam penyelaman > 130 fsw. Heliox sangat mahal.




   Trimix


Trimix adalah campuran gas helium, nitrogen dan oksigen. Komposisinya tergantung dari profil waktu selam yang dipakai. Angkatan Laut AS menggunakan pada kedalaman > 190 fsw, dan selalu digunakan pada kedalaman ekstrim > 600 fsw.


Yang digunakan dalam penyelaman rekreasi adalah jenis helitrox yaitu trimix yang diperkaya oksigen. Campuran yang sering digunakan adalah TX 26/17 (26 % oksigen, 17 % helium, dan 57 % nitrogen). Beberapa kematian penyelam olahraga berkaitan dengan penggunaan heliox, sehingga penggunaan trimix helitrox untuk penyelaman rekreasi masih diperdebatkan.






Sumber:


USN Diving Manual 6th





Peralatan Selam

Oleh karena perbedaan lingkungan, seorang penyelam akan berhadapan dengan lingkungan yang baru yaitu air. Untuk itu diperlukan penyesuaian terhadap cairan, sehingga dibutuhkan suatu jenis peralatan sesuai dengan penggunaannya. Dengan demikian terciptalah berbagai peralatan untuk dapat menyesuaikan lingkungan cair tersebut. Peralatan selam terbagi dua, peralatan dasar selam dan peralatan tambahan.

Peralatan Dasar Selam
1. Masker
2. Snorkel
3. Fins & Boots
4. Rompi Apung
5. Pakaian Selam/Wet Suit
6. Sabuk Pemberat/Weight Belt
7. Pisau Selam
8. Sarung Tangan
9. Tas Selam/Gear Bag

Peralatan Tambahan
1. Peralatan Scuba
2. Pengukur Kedalaman (Depth Gauge)
3. Kompas
4. Jam Selam
5. Cairan Antifog

Masker
Penggunaan
Penglihatan di dalam air sangat buruk, maka diperlukan alat yaitu masker. Alat tersebut memberikan rongga udara antara mata dan air, sehingga penglihatan akan lebih jelas dan dapat melindungi terhadap iritasi air pada mata.
Sewaktu menyelam, masker akan mendapat tekanan hidrostatis. Oleh karena itu, pemakaian masker tidak boleh terlalu ketat dan selalu mengadakan equalisasi (penyesuaian tekanan) dengan menghembuskan udara ke dalam masker melalui hidung, maka hidung harus diikutsertakan ke dalam masker. Dengan alasan inilah kenapa goggle (kacamata renang) tidak dapat digunakan untuk menyelam.
Masker mempunyai kelemahan sebagai akibat dari kombinasi sudut bias dan indeks bias antara air, kaca, dan udara yang menyebabkan benda-benda akan terlihat ¡¾2 kali lebih besar dan ¡¾1/2 kali lebih dekat.
Untuk mendapatkan masker yang baik dan sesuai dengan kegunaannya, perlu memperhatikan ciri-ciri masker sebagai berikut:
1. Safety tempered glass
2. Frame terbuat dari bahan anti karat
3. Double seal/skirt yang lentur untuk wajah
4. Nose pocket/kantung hidung
5. Ikat kepala/strap dilengkapai dengan buckle
6. Katup Kuras 

Jenis-Jenis Masker
Ditinjau dari bahan:
1. Neoprene
2. Silicon
Ditinjau dari kaca:
1. Single
2. Double
3. Triple

Pemilihan Masker
Cara memilih masker yang baik sesuai dengan muka adalah dengan cara memasang pada muka tanpa menggunakan strapnya, hisap udara didalamnya dengan hidung sedikit mungkin kemudian tahan napas, jika masker tersebut tertahan pada muka, maka masker tersebut cocok untuk dipakai. Pilihlah masker yang kacanya tempered, volumenya kecil, medan penglihatan luas, hindari masker yang ada katup buangnya.
Perawatan Masker
Setelah dipakai menyelam bilaslah dengan air tawar yang bersih kemudian keringkan (hindari terkena panas langsung). Setelah kering berikan talk (bedak), lalu simpan di tempat yang sejuk. Jangan sampai tertekan waktu menyimpannya.

Snorkel
Penggunaan
Snorkel adalah sebuah pipa yang dipergunakan untuk bernapas bagi penyelam di permukaan air, berguna untuk skin diving sewaktu beristirahat di permukaan. Melalui snorkel seorang penyelam dapat mudah bernapas tanpa harus menegakkan kepala keluar dari air saat berada di permukaan, sehingga dapat bebas mengamati keadaan bawah air. Panjang pipa ¡¾ 30 cm, apabila lebih maka akan bertambah besar volume ruang udara mati (dead air space) yang dapat mengurangi udara baru yang masuk ke dalam paru-paru.
Snorkel biasanya digantungkan di sebelah kiri masker pada penyelaman, namun dapat juga di depan atau sebelah kanan, tergantung tipe snorkel.
Teknik napas melalui snorkel dengan menghembuskan udara terlebih dahulu, kemudian membuang napas, hal ini untuk menghindari adanya air yang masuk melalui ujung pipa yang terbuka.
Untuk mengetahui ujung pipa snorkel berada diatas permukaan, dapat di cek dengan dipegang oleh tangan kiri. Untuk mengetahui ujung pipa sudah masuk ke dalam air biasanya akan terdengar air masuk ke pipa snorkel pada telinga sebelah kiri atau kanan.
Jenis Snorkel
Ditinjau dari bahan:
1. Neoprene
2. Silicon

Ditinjau dari bentuk:
1. J-Shaped
2. L-Shaped
3. Type countour
4. Flexible Hose
  
Pemilihan Snorkel
Carilah snorkel yang bagian dalamnya licin, untuk mempermudah meniup sehingga tidak ada sisa air yang tertinggal. Pilih moutpiece yang cocok dan nyaman dimulut. Panjang antara 12 s/d 14 inci.
Perawatan Snorkel
Sehabis dipakai menyelam, bilas dengan air tawar yang bersih kemudian keringkan dan diberi talk (bedak) dan disimpan di tempat yang sejuk.

Fins
Penggunaan
Fins digunakan untuk menambah daya kayuh penyelam sehingga menambah laju pergerakan dalam air, bukan untuk kecepatan. Teknik pemakaian ayunan kaki perlahan namun kuat serta santai.
Fin yang diindonesiakan dengan istilah "sirip selam" atau "kaki katak" diciptakan untuk memberi kekuatan pada kaki dan merupakan piranti penggerak. Fins bukan dibuat demi menambah kecepatan berenang namun menambah daya kayuh. Dengan bantuan fins kemampuan renang kita bertambah 10 kali lebih besar dibanding tanpa menggunakan fins.

Tipe
a. Full Foot Style
b. Open Hill Style
c. Rocket/jet Fins
d. Open Tournamen Fins

Jenis Fins
Ditinjau dari bahan
a. Neoprene
b. Silicon

Pemilihan Fins
Pilihlah fins yang sesuai dengan ukuran kaki, jangan terlalu ketat dan sempit, sesuaikan tipe fins dengan keadaan dan keperluan:
Jenis Full Foot Style /Foot Pocket 
Cocok untuk kegiatan skin diving atau fins swimming, biasanya lebih fleksible, dengan letak lempeng lebih menyudut, yang menyebabkan kaki tidak mudah lelah. Ukuran besar-kecil merupakan hal yang lebih menentukan; lebih repot untuk dikenakan maupun mencopotnya untuk kegiatan scuba diving.
Jenis Open Heel 
Cocok untuk kegiatan scuba diving, biasanya berlempeng lurus, semi kaku dengan lempengan lebih panjang. Jenis ini memberikan kekuatan lebih besar, namun membutuhkan waktu penyesuaian bagi otot-otot kaki. Open heel fins mempunyai kelebihan dalam hal kemudahan waktu mengenakan dan melepasnya.
Adjustable Open Heel 
Jenis ini paling cocok/sesuai untuk scuba diving di perairan karena dibuat mempunyai kantong yang cukup besar untuk kaki kaki yang memakai boots (semacam kaos kaki terbuat dari karet), mempunyai lempengan yang lebih lebar untuk menghasilkan tenaga besar dan biasanya terdapat lobang-lobang  alur air di bagian atas lempengan tersebut. Lobang alur air ini mengurangi kelelahan kaki yang disebabkan oleh daerah negatif pada lempengan.
Perawatan Fins 
Sama halnya dengan Masker dan Snorkel, selesai digunakan bersihkan dengan air tawar yang bersih, keringkan dan beri talk (bedak).

Boots
Penggunaan
Boots merupakan sepatu boot yang dipakai pada saat penyelaman. Hal ini berguna menghindari cedera kaki sewaktu menyentuh dasar laut, karang, benda-benda keras seperti besi dll juga perlindungan terhadap kejang kaki disebabkan kedinginan dan kemungkinan kaki lecet. Boots dari karet busa dengan sol keras adalah jenis perlengkapan pelindung kaki yang umum dipakai penyelam, kaos kaki yang umum dipakai penyelam, kaos kaki tebalpun dapat digunakan sebagai pencegah lecet sewaktu latihan. Pemakaian boot juga dapat mengurangi cedera karena duri pari stingray walaupun tidak bisa mencegah tembusan durinya. 

Pemakaiannya disatukan dengan fins. Boot dipakai dahulu, lalu kemudian memakai fins.
Pemilihan Boots
Sesuaikanlah dengan ukuran fins yang akan dipakai. Pilihlah boots yang mempunyai komposisi kuat yang dapat melindungi kaki, sehingga cedera dapat minimal. Semakin tebal boots, maka semakin baik. Sebaiknya pilihlah boot yang tidak terlalu ketat sehingga dapat memudahkan peredaran darah. Untuk menghindari selip pada penggunaan boots gunakan bedak sebelum memakaiya.
Perawatan Boots
Setelah dipakai, boots dicuci dengan air tawar dan kemudian keringkan.

Rompi Apung
Penggunaan
Peralatan ini biasanya dipegunakan untuk keadaan darurat namun di dalam kegiatan penyelaman dipergunakan untuk:
a. Terapung di permukaan air sambil berenang.
b. Istirahat di permukaan air.
c. Penyelamatan diri sendiri dan orang lain.
d. Netralisasi keterapungan dalam setiap kedalaman. 
Jenis Rompi Apung
a. Life Vest/ Standard Safety Vest.
b. Bouyancy Compensator (BC)

Pemilihan Rompi Apung
Pilihlah sesuai dengan keperluannya dan cocok dengan ukuran badan, yang umum dipakai sekarang dari jenis BC (Bouyancy Compensator). 
Perawatan Rompi Apung
Setelah menyelam, rompi mungkin kemasukan air, untuk itu tiuplah rompi apung kemudian balikkan ke arah bawah untuk mengeluarkan air melalu pipa peniup. Bilas dengan air tawar yang bersih di bagian luar, dan bilas dengan air hangat pada bagian dalamnya. Keringkan dengan diangin-anginkan, simpan dalam keadaan berisi udara.

Pakaian Selam
Penggunaan
Memperlambat kehilangan panas tubuh karena adanya air hangat antara pakaian selam dan kulit serta melindungi tubuh dari goresan karang maupun sengatan kehidupan laut.
Jenis Pakaian Selam
a. Wet suit :bagian baju dapat basah oleh air, tapi menghalangi sirkulasi air yang ada antara pakaian selam dan kulit.
b. Dry suit :terbuat dari bahan karet dan mempunyai ruang udara antara pakaian selam luar dan dalam yang berfungsi sebagai insulator.

Pemilihan Pakaian Selam
Pilihlah pakaian selam sesuai dengan ukuran tubuh dan kebutuhan saat penyelaman. Di daerah yang dingin sebaiknya memakai jenis dry suit, karena dapat membuat badan penyelam tetap hangat. 
Pakaian pelindung penyelam yang kini umum dipakai adalah FOAM NEOPRENE WET SUIT, terbuat dari karet neoprene yang mempunyai gelembung-gelembung busa berudara. Bahan ini tidak menyerap air dan dibuat dalam berbagai ukuran ketebalan bahan.
Perawatan Pakaian Selam
Untuk wetsuit, jagalah kelenturan dengan tidak menyikat baju sewaktu mencuci, cukup direndam dengan deterjen. Keringkan dengan tidak terkena sinar matahari langsung. 

Sabuk Pemberat
Penggunaan
Tubuh manusia akan mendapat daya apung ke atas di dalam air sebesar ¡¾ 6 pound atau lebih. Wet suit yang terbuat dari neoprene akan menambah daya apung lebih besar 5 sd 25 pound, maka seorang penyelam untuk dapat dengan mudah masuk ke dalam air membutuhkan pemberat.
Jenis Sabuk Pemberat
a. Weight Belt : Sabuk yang diberi pemberat timah diatur sesuai kebutuhan.
b. Weight Pack : Jarang digunakan karena tidak dapat dilepas bila terjadi keadaan darurat

Pemilihan Sabuk Pemberat 
Yang paling mudah umumnya memakai weight belt. Jika memakai wet suit setebal 3/16 inch biasanya membutuhkan timah seberat 10 % dari berat tubuh.
Weight belt harus dilengkapi dengan QUICK RELEASE BUCKLE yaitu suatu gesper pengancing yang dapat dilepas secara cepat. Cara pemakaian weight belt dipasang paling terakhir dan paling pertama dilepas, jika dalam keadaan darurat.

Pisau Selam
Merupakan alat serbaguna, dipergunakan untuk menolong, menggali, juga sebagai alat pengukur. Terbuat dari logam antikarat, bergerigi pada matanya dan yang lain dapat berguna memotong tali di dalam air. Di pasang pada betis sebelah dalam untuk menghindari tersangkut pada rumput dan sebagainya. Tulisan SS.320 atau SS.420 berarti SS.320 mengandung carbon lebih sedikit dibandingkan SS.420.

Sarung Tangan
Peralatan ini merupakan tambahan pakaian selam. Berguna untuk melindungi anggota tubuh yaitu bagian dari tangan dari goresan tangan dan sebagainya. 
Tangan penyelam akan menjadi lembut jika terendam dalam air dan apabila tergores sangat sulit untuk menghentikan pendarahan.

Tas Selam/Gear Bag
Tas Selam (Gear Bag), untuk menyimpan piranti selam  agar tidak tercecer, serta melindungi peralatan dari panas matahari.

Gunakan tas yang besar yang bisa mengangkut peralatan selam selama di perjalanan maupun di boat. Tas ini harus kuat dan tahan air karena kondisi medan penyelaman biasanya jauh dan basah. Pilhlah tas selam yang bisa memuat fin, snorkel, masker, serta Bouyancy Compensator. Gunakan pembukaan menggunakan tipe metal, hindari penggunaan tas dengan resleting. 

SCUBA
Scuba singkatan dari Self Contained Under Water Breathing Apparatus, yaitu suatu peralatan selam yang dapat dibawa penyelam kemana saja dengan waktu tertentu. Scuba mulai dikenal pada tahun 1943, diperkenalkan oleh seorang perwira Angkatan Laut Perancis yang bernama Jacques Cousteau dan seorang insinyur yaitu Emile Gagnan. Sistemnya dikenal dengan nama Aqualung. Aqua artinya air dan Lung adalah paru-paru.
Perlengkapan scuba menurut sistem kerjanya dibagi menjadi 4 sistem:
Sistem Sirkulasi Tertutup
Suatu sistem yang menggunakan zat asam/oksigen murni dilengkapi penyerap kimia untuk menghalau zat asam arang/CO2 yang keluar dari paru-paru. Unit ini pada hakekatnya meniupkan kembali O2 membuang udara ke dalam air. Ini merupakan suatu sistem tertutup sama sekali. Unit ini digunakannya terbatas hingga kedalaman 33 feet. Penggunaan SCUBA jenis ini dituntut keahlian tertentu karena sangat berbahaya.
Sistem Sirkulasi Terbuka
Terdiri dari Demand Regulator dan Tabung Udara yang dimampatkan (Compressed Air Tank) adalah jenis alat scuba yang pada saat ini merupakan alat yang paling aman dipergunakan. Udara yang dimampatkan disalurkan melalui regulator ke penyelam, dan udara yang telah dihisap dibuang langsung ke air tanpa dipergunakan lagi.
Sistem Sirkulasi Semi Tertutup
Dipakai untuk operasi militer dan merupakan kombinasi dari sistem-sistem sirkuit terbuka dan tertutup. Sistem ini mempunyai kantong udara, kotak kimiawi, regulator dan tabung udara yang dimampatkan. Sistem ini memungkinkan penyelam militer untuk bekerja pada kedalaman dan jangka waktu yang lama. Sistem  ini memerlukan pemanasan yang khusus serta membutuhkan peralatan pendukung yang khusus pula, hingga unit ini jarang dipakai umum.
Sistem Gas-Campuran Sirkulasi Tertutup
Sistem ini sangat rumit, memerlukan pemeliharaan khusus dan cukup mahal. Unit ini mempunyai kantong pernafasan, kotak kimiawi dan suatu alat elektronis penyaring oksigen yang dapat mengontrol jumlah O2 pada kedalaman lebih dari 1.000 feet, yang memberikan cukup udara untuk turun dan naik kembali ke permukaan untuk pekerjaan-pekerjaan ilmiah dalam penggunaannya memerlukan latihan yang sangat khusus.

Dari keempat sistem yang dibicarakan untuk selam olahraga adalah sistem terbuka.

Definisi Sistem Terbuka
Sirkulasi terbuka artinya udara yang dikeluarkan penyelam langsung terbuang keluar. Sistem ini sangat mempermudah yang pengawas yang berada di atas untuk mengetahui posisi penyelam dengan melihat gelembung udara yang muncul di permukaan air.

Tabung
Tabung scuba dirancang secara khusus dan ditest untuk dapat menampung udara bertekanan tinggi. Udara yang diisikan dalam tabung adalah udara biasa yang disaring bukan oksigen murni, yaitu udara yang biasa dihirup setiap hari.
Udara lebih ringan dibandingkan air, pengaruh tersebut dapat berakibat pada tabung yang berisi udara. Sebuah tabung yang berisi udara penuh mempunyai daya apung yang lebih besar dibandingkan pada tabung yang tekanannya sudah berkurang. Ini dapat terasa bila penyelam scuba yang selesai melakukan penyelaman akan berkurang daya apungnya karena udara tabung sudah berkurang.
Tabung scuba untuk olahraga selam yang dipergunakan dari bahan terbuat dari:
  • Steel (baja), macam ukuran: 38;50;71,2 cuft
  • Alluminium alloys, macam ukuran 38;50;71,2;80 dan 100 cuft.


Lapisan luar tabung yang terbuat dari baja lebih baik digalvanisasi untuk menghindarkan karat, kemudian diberi lapisan vinyl atau diwarnai dengan cat. Sedangkan untuk tabung yang terbuat dari aluminium tidak membutuhkan galvanisasi karena adanya oksida aluminium itu sendiri yang merupakan suatu proteksi.
Untuk lapisan tabung baja agar dijaga kelembaban guna menghindarkan dari karat. Sedangkan untuk tabung aluminium juga dihindarkan dari kelembaban walaupun dilapisi dengan aluminium oksida. Lakukan tes visual tiap 1 tahun atau 2 kali untuk tabung yang sering dipakai di laut.
Untuk mengetahui tabung terbuat dari bahan apa, dari pabrik mana, kekuatan penampungan udara, test hidrostatis terakhir, dll, harus membaca sidik-sidiknya yang terdapat pada leher tabung

Memilih tabung
Umumnya para penyelam olahraga memilih tabung standar tunggal dengan kapasitas 80 cuft, untuk keamanan belilah tabung yang baru dikeluarkan.
Perawatan
  • Jangan mengisi melebihi tekanan ijin tabung.
  • Isi tabung dengan udara bersih.
  • Setelah penyelaman bilas dengan air tawar yang bersih. Sebuah baskom plastik besar berisi air kira-kira 2/3 nya sangatlah ideal untuk mencuci semua alat-alat. Perendaman yang lama akan melepaskan garam yang mengering dan mengendap daripada hanya penyiraman saja.
  • Tutup lubang agar terhindar dari kotoran.
  • Lakukan pemeriksaan visual tiap 1 tahun sekali /lebih sering terutama tabung yang sering dipakai di laut. Sesekali sepatu tabung dilepas untuk dibersihkan dari kotoran atau karat yang terbentuk.
  • Lakukan test hidrostatis tiap 5 tahun sekali pada badan yang berwenang.
  • Lindungi terhadap benturan.
  • Jangan memakai tabung sampai udaranya habis sama sekali.
  • Penyimpanan jangka panjang; isi dengan udara segar, letakkan tabung secara tegak berisi ¡¾ 500 psi bertumpu pada sepatu tabung (tank boots) pada bagian bawah tabung.
  • Jangan menyimpan di tempat yang panas karena bisa meningkatkan tekanan tabung.
  • Jangan menghilangkan cat dengan membakar.

Pengisian Tabung
Untuk pengisian tabung tiap penyelam harus bisa melaksanakan pengisian.
Caranya adalah:
  • Sambungkan selang pengisian dengan katup tabung.
  • Untuk membuka kran katup, tunggu sampai tekanan pada kompresor lebih dari tekanan tabung.
  • Tempatkan tabung pada bak air.
  • Pada saat yang tertentu buka kran pembuangan uap air.
  • Dianjurkan pengisian kurang dari ijin tekanan.

Profil Tabung yang dijual
Tabung Baja 71,2 cuft
Standar tabung baja dengan panjang 21 inchi dan berat ¡¾ 30 Lbs (bila kosong) serta melayang di air laut. Udara yang dimampatkan ke dalam tabung tekanan maksimalnya 2250 psi yaitu kira-kira 60 cuft udara bebas yang dapat di tampung. Bila diisi melampaui 10 % yaitu 2475 psi maka udara bebas yang dapat ditampung 71,2 cuft, biasa disebut tabung selam standar 71 cuft.
Tabung Aluminium 72 dan 80 cuft, 3000 psi
Panjang kedua tabung ini sama yaitu 26 inchi. Untuk tabung 72 cuft beratnya 30 Lbs netral di air laut sedangkan tabung 80 cuft beratnya 33 Lbs dan garis tengahnya agak lebar yaitu 7,25 inchi. Kedua tabung ini mempunyai tekanan maksimal 3000 psi.
Tabung 50 cuft 3000 psi
Tabung ini lebih pendek yaitu panjangnya 19 inchi, pada tekanan 3000 psi kapasitasnya 50 cuft sedangkan pada tekanan 2475 psi tabung memuat 42 cuft udara bebas. Berbobot netral dalam keadaan kosong dan berkurang 3,5 Lbs bila udara penuh.
Tabung Pasangan Ganda atau lebih
Tabung ini biasa dipakai untuk penyelam pekerja, sedangkan untuk olahragawan tidak memakainya karena terlalu berat, sedangkan pemakaian bisa lebih lama dibandingkan yang tunggal.

Katup Tabung
Adalah salah satu bagian dari tabung, dipasang pada leher tabung scuba, bekerja sebagai keran yaitu membuka dan menutup serta sebagai tempat memasang regulator.
Ada beberapa macam bentuk katub yaitu:
Katup K/Non Reserve
Yaitu katup tabung yang paling sederhana, mempunyai sebuah lubang untuk masuk dan keluarnya udara. Kran penutup atau pembuka terletak disisinya.
Tabung dengan katup ini mengharuskan penyelam menggunakan alat tambahan untuk memonitor seberapa banyak udara yang masih ada dalam tabung. Alat itu disebut "Submersible Pressure Gauge" atau SPG .

Katup J/Constant Reserve
Adalah katup yang hampir sama dengan type ¡°K¡±, tetapi mempunyai sebuah klep cadangan mekanis (reserve). Reserve bekerja apabila tekanan tabung turun ¡¾ 300 psi, maka secara otomatis klepnya menutup lubang. Dengan menurunkan cadangan maka masih ada udara sisa ¡¾ 500 psi.
Katup cadangan menyediakan udara cukup untuk penyelam segera naik  ke permukaan. Batang penarik katup cadangan harus selalu pada posisi naik (up position) walaupun tabung dalam keadaan kosong, hal ini untuk mengendorkan pegas pada katup cadangan tersebut. Katup cadangan dapat dengan mudah ditarik ke bawah selama melakukan penyelaman dan hal ini tidak mempengaruhi supply aliran udara, hanya bila isi tabung dibawah 300 Psi akan ada penghentian aliran udara.

Penanganan dan Perawatan
  • Hindarkan dari benturan karena katup mudah patah.
  • Untuk katup ¡°K¡± bila pengisian cadangan turun maka isilah sampai sisa ¡¾ 500 psi.
  • Periksa selalu ¡°O¡± ringnya.
  • Bila membuka suatu katup, putarlah kearah buka sampai habis, kemudian putar kembali kearah tutup setengah putaran, hal ini untuk menghindari kemacetan atau kerusakan pada katup tabung. Bila akan menutup katup tabung, lakukanlah secara halus namun rapat dan tidak perlu keras-keras., sebab kebanyakan katup menggunakan nilon yang dapat rusak bila ditutup secara paksa dan kuat-kuat.
  • Apabila ingin melakukan  pengujian visual, maka tabung harus dikosongkan perlahan-lahan untuk menghindari pengembunan di sekeliling katup dan leher tabung bila kosong.
  • Jangan sekali-kali membubuhi lemak atau pelumas apapun pada katup. Bengkel perbaikan dan pemeliharaan hanya menggunakan minyak pelumas silikon anti meledak.

Melepaskan Katup
Untuk mengadakan test visual harus melepaskan katup dari tabung dengan cara pada katup dijepit dengan alat penjepit (tangdem). Kemudian tabungnya diputar dengan alat bantu dari tali atau rantai. Bila sudah terlepas periksa keadaan ¡°O¡± ringnya.

Cincin pengedap O (O ring)
Adalah sebuah alat penahan kebocoran antara sambungan regulator dan valve, berbentuk O terbuat dari karet / silikon. O-ring karet (gelang karet berbentuk O) yang kecil terletak pada permukaan katup membuat suatu kedap tekanan tinggi antara regulator dengan katup tabung. Bawalah selalu persediaan O-ring dalam tas perlengkapan selam, sebab apabila O-ring tersebut hilang maka regulator anda tidak dapat dipakai.

Pipa Partikel
Untuk mencegah pencemaran yang masuk melalui lubang udara, terbuat dari bahan yang licin dan tahan karat.

Safety Plug/ Safety Disc
Adalah sumbat/pelat pengaman yang kecil bentuknya. Terpasang pada valve (katup), akan pecah apabila tekanan melebihi tekanan maksimal tabung. Hal ini untuk menghindari tabung meledak.
Letak pelat ini belakang katup tabung, berfungsi mencegah kerusakan pada saat pengisian udara yang berlebihan atau apabila terjadi kebakaran. Contoh tekanan pengisian yang dapat merusakkan pelat pengaman   

1800 Psi   akan pecah pada tekanan 2800 Psi 
2250 Psi   akan pecah pada tekanan 3400 Psi 
3000 Psi   akan pecah pada tekanan 3900 Psi 

Pada keadaan tertentu pelat (lempengan tipis) dapat pecah pada tekanan yang rendah. Hal ini terjadi akibat pengisian yang terlalu cepat atau pengisian panas tanpa merendam tabung dalam air. Pelat-pelat pengaman ini dapat diganti pada fasilitas bengkel perbaikan alat selam

Penyandang Tabung (Back Pack)
Adalah suatu sistem harness yang melekatkan tabung pada punggung penyelam. Bentuknya bermacam-macam. Tetapi yang beredar sekarang adalah BC yang sekaligus bergabung dengan back packnya, sehingga mudah untuk memasangnya tabung pada BC nya.
Backpack dan sabuk penyandang harus mempunyai gesper luncur cepat pada ikat bahu kiri ikat pinggang. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penyelam melepas maupun memasang kembali tabung di dalam air.
Seperti halnya dengan peralatan selam lain, setelah dipakai menyelam dibersihkan dengan air tawar yang bersih, untuk BC dibilas dengan air hangat di bagian dalamnya, simpan dengan kondisi berisi udara.

Regulator
Regulator adalah suatu alat yang sederhana untuk mengubah udara bertekanan tinggi dari sebuah tabung scuba menjadi udara bertekanan rendah sesuai dengan kebutuhan penyelam dan hanya memberikan udara yang diperlukan sesuai dengan tekanan sekelilingnya.
Ada beberapa tipe regulator:
Pipa udara ganda (Double Hose)
Regulator Demand yang biasa dikenal di Amerika sejak tahun 1949 terdiri dari satu bagian yang dipasang di atas katup tabung dengan sebuah pipa penyalur udara napas, mouthpiece dan sebuah pipa buang udara. Pada saat ini biasanya disebut Two Hose Regulator. Mouthpiece atau Genggam Mulut adalah suatu bagian yang dimasukkan ke dalam mulut.
Jenis dari regulator ini pemakaiannya lebih sukar, karena penyelam harus menghembus dengan keras bila akan menghirup udara. Pada umumnya digunakan oleh penyelam komersil. Oleh karena gelembung udara yang dikeluarkan oleh penyelam keluar di belakang penyelam, maka gelembung tidak mengganggu pandangan penyelam.
Prinsip kerjanya mempunyai dua tingkat yaitu tingkat pertama (first stage) dan tingkat kedua (second stage). Pada tingkat pertama udara diturunkan diatas tekanan sekelilingnya dan tingkat kedua tekanan udara berkurang sesuai yang dibutuhkan penyelam yaitu sesuai dengan keadaan sekelilingnya. Sisa udara yang berasal dari mouthpiece akan dikembalikan ke tingkat pertama untuk dibuang keluar.   
Pipa udara tunggal (Single Hose)
Yang umum dipakai sekarang adalah pipa udara tunggal terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat pertama (first stage) dan tingkat kedua (second stage) yang dipasang pada bagian mulut (mouthpiece). Udara pada tingkat pertama menjadi ¡¾ 140 psi diatas tekanan sekelilingnya. Pada tingkat kedua dikurangi menjadi sebesar tekanan yang dibutuhkan. 
Perbedaan utama dengan double hose adalah bahwa kedua tingkatannya terpisah. Dimana Second Stage terletak dekat mulut penyelam untuk memudahkan bernapas, oleh karena itu sekat karet berada pada permukaan yang sama dengan paru-paru dalam posisi berenang biasa.
Single hose juga dilengkapi dengan tombol kuras (purge botton) yaitu berfungsi membuang sisa air dalam mouthpiece bila ditekan. 
Untuk melindungi bagian first stage dari masuknya air dan debu juga dilengkapi dengan penutup (cup) dipasang pada bagian first stage jika regulator tidak dipakai.

Udara dan air keduanya dapat dibuang keluar melalui katup pembuang yang terbuat dari karet, yang terletak di bagian dalam regulator.

Selain dari jumlah hose diatas, regulator juga dapat dibedakan dengan:
  • Balance First Stage
  • Unbalance First Stage

Balance yang dimaksud adalah first stage sanggup menyesuaikan outputnya dengan keadaan isi tabung yang akan berubah tekanannya selama dipakai yaitu ¡¾ 100 psi diatas tekanan udara mouth piece sedangkan tekanan tabung akan berubah dari beberapa ribu menjadi sekitar 300 psi. 
Selain itu ada juga jenis regulator yang dilengkapi dengan  First Stage audio yang akan mengeluarkan bunyi bila tekanan tabung kurang dari 350 psi diatas tekanan sekelilingnya, ini isyarat bahwa tekanan tabung mendekati cadangan. Bunyi terdengar sampai 60 feet jauhnya.

Sistem kerja regulator dapat dibedakan menjadi:
  • Open Circuit
  • Semi Closed Circuit
  • Closed Circuit

Muara Tekanan Tinggi-SPG (Submersible Pressure Gauge) 
Untuk mengetahui berapa isi udara tabung scuba adalah dengan memakai alat pressure gauge. Pada first stage terdapat muara yang biasa ditandai dengan HP (high pressure).  Apabila akan dipasang SPG maka selang SPG dihubungkan dengan muara bertanda H.P. SPG adalah alat tolok ukur yang dapat dibawa kemana penyelam berada sehingga akan  dapat selalu mengontrol tekanan tabung yang dipakai penyelam. Umumnya sekarang dirangkai juga dengan kompas dan depth meter (tolok kedalaman).  

Muara Tekanan Rendah
Untuk memasang selang yang berhubungan dengan mouth piece maka dihubungkan  dengan muara tekanan rendah dan juga dapat dipasangkan selang regulator octopus dan selang inflator untuk BC.

Merakit Regulator pada Tabung
Untuk memasang regulator ke katup tabung ada teknik pemasangannya yaitu dengan urutan sebagai berikut:
  • Buka kran katup sedikit. Hal ini dilakukan karena kemungkinan ada debu dan kotoran yang ada di dalam lubang katup akan dapat terlepas /terdorong keluar.
  • Pasang regulator pada katup, sebelumnya kontrol O-ring katup lalu tempatkan pada yokenya.
  • Tempatkanlah selalu pipa regulator ke arah kanan melewati bahu kanan penyelam.
  • Sebelum membuka, hisap melalui mouthpiece untuk mengontrol baik dan tidaknya regulator.
  • Buka kran udara katup sampai habis kemudian kembalikan kran setengah putaran. Hal ini untuk menghindari kemacetan/kerusakan pada kran buka dan tutup. Saat membuka kran arahkan SPG ke tempat yang aman.
  • Mencoba bernapas melalui mouth piece 2/3 kali hisap.
  • LIhat SPG, cek tekanan udara pada tabung. 

Melepas Regulator
Setelah menyelam, untuk melepaskan regulator yang masih terhubung pada tabung maka yang harus dilakukan yaitu kebalikan dari pemasangan, yaitu:
  • Biarkanlah air terlebih dulu menetes hingga kering dari katup sebelum dibuka.
  • Tutup kran katup, penutupan jangan keras, sewajarnya saja.
  • Buang udara yang tertinggal dalam selang dengan menekan tombol kurasnya pada single hose atau dengan meniup keluar udara sisa pada Two hose. Bila regulator dilepas tanpa mengeluarkan udara sisa, maka dapat mengakibatkan terjadinya sentakan pada O-ring yang kadang-kadang mengakibatkan O-ring tersebut pecah.
  • Buka regulator dari katup tabung, kontrol O ring katup.
  • Pasang penutup (cup) agar terhindar dari kotoran dan debu. 

Perawatan Regulator
Sehabis dipakai untuk menyelam regulator harus dirawat secara benar. Kaporit dari air kolam renang maupun di laut dapat merusak regulator bila tidak dicuci dengan air tawar yang bersih, yaitu dengan cara tetap membiarkan regulator terpasang pada tabung scuba dengan udara bertekanan di dalamnya. Bilaslah dengan air hangat yang bersih. Bila cara ini tidak memungkinkan, cara kedua adalah dengan meletakkan second stage di bawah kran air dan bilaslah. Jangan menekan purge botton (tombol kuras) karena dapat mengakibatkan masuknya air ke first stage. Keringkan sebelum disimpan, selang jangan sampai tertekuk waktu penyimpanan, tempatkan pada tempat khusus dan sejuk serta kering, hindarkan dari tertumpuk yang dapat merusak selang regulator dan mouth piece.

Tolok Tekanan
Tolok tekanan digunakan untuk mengecek tekanan tabung yang akan dipakai. Pemakaian alat ini lebih efisien, karena tidak perlu mengecek tiap tabung dengan SPG dan untuk pengecekan kembali tekanan tabung yang selesai dipakai agar dapat memilah tabung yang masih dapat dipakai dan yang sudah sedikit isinya.
Pengukur Kedalaman (Depth Gauge)
Untuk dapat mengetahui kedalaman pada saat penyelaman, diperlukan suatu alat yaitu Depth gauge/ Depth meter. Hal ini sangat penting dalam penggunaan tabel selam. Tolok ukur kedalaman ini terdiri dari:
Tolok Kapiler
Tolok kapiler bekerja atas prinsip hukum boyle, terdiri dari suatu pipa gelas yang tertutup salah satu ujungnya, udara yang ada dalam kapiler akan berubah bila tekanannya berubah, maka volume air yang ada di dalam tabung kapiler ini ukurannya akan menjadi ukuran kedalaman. Tolok ini dapat dibaca dengan ketelitian besar sampai 80 feet. 
Tolok Bourdan Terbuka
Tolok ini terdapat lubang di pinggir rumahnya. Air yang ditekan kedalam bourdan melalui lubang itu menyebabkan perubahan bentuk pada bourdan dan secara mekanis diteruskan pada jarum yang menunjuk kedalaman. Digunakan pada kedalaman 150-200 feet.
Tolok Bourdan Tertutup
Tolok ini tidak terbuka terhadap air  yang ada disekelilingnya, rumahnya terdapat tutup terdapat minyak. Tekanan air sekeliling diteruskan melalui dinding yang flexibel kepada bourdan. Perubahan bentuk bourdan karena tekanan itu diteruskan pada jarum yang menunjuk kedalaman.
Tolok Diafragma
Tolok ini terdiri dari mekanisme roda bergigi dalam ruangan yang tertutup rapat, perubahan tekanan akan menyebabkan defleksi pada diafragma logam. Defleksi ini menggerakkan roda-roda gigi dan gerakan ini diteruskan ke jarum yang menunjuk kedalaman. Tolok ini sangat teliti. Terkadang dikombinasikan dengan tolok ukur kapiler untuk kedalaman dangkal dan tolok diafragma untuk kedalaman dalam.

Kompas
Kompas biasanya sudah disatukan dengan regulator dan bagian SPG. Kompas di dalam air sangat berfungsi terutama pada daerah yang berpasir dimana penyelam sulit menentukan arah.
GPS (Global Positioning System) biasanya dipakai untuk selam malam (night dive) atau penyelaman dalam dan lama karena sulit menentukan arah dalam kegelapan.

Senter
Senter digunakan untuk selam malam, sebagai penanda, dan dalam penyelaman gua.
Jika menyelam dilakukan pada sore hari atau pada cuaca yang kurang bersahabat persiapkanlah senter.

Jam Selam
Dalam penyelaman setiap penyelam harus membawa jam atau alat pengukur waktu lainnya. Hal ini untuk mengetahui waktu-waktu dalam penyelaman.
Jam selama selain dapat melihat waktu, ada juga yang dikombinasikan dengan depth meter dan kompas. Hal ini mempermudah penyelaman. Perhatikan batas water resistant. Untuk penyelaman yang tidak melebihi 7 meter dapat dipakai jam yang memiliki water resistant 10 bar (misal Q&Q).

Kamera Underwater
Keindahan bawah laut yang sangat indah membuat penyelam ingin mengabadikan momen yang sangat berharga dalam penyelaman baik dengan foto maupun video.
Selama mengambil gambar perhatikanlah keadaan sekitar dan posisi tubuh agar aman dalam penyelaman.
Bag
Sangat berfungsi untuk menyimpan barang-barang berharga atau alat komunikasi yang tak mungkin di tinggal selama penyelaman. 
Sebelum menggunakan cek apakah bag bocor atau tidak.
Perhatikan warna dari bag, warna yang terlalu mengkilat akan menarik ikan-ikan yang mungkin dapat mendatangkan bahaya.

Cairan Antifog
Pada saat menyelam atau pun snorkeling, kadang-kadang masker yang kita pakai berembun/berkabut, akibatnya pandangan menjadi kabur karena terhalang embun. Timbulnya embun tersebut karena hembusan udara (hangat) dari paru-paru melalui hidung, sementara lingkungan (air) disekitarnya bertemperatur lebih rendah/dingin.
Pada saat menyelam, kita dibiasakan bernafas melalui mulut. Oleh karenanya, berembunnya masker (karena hembusan nafas melalui hidung) pada saat menyelam merupakan hal wajar, karena pada saat di darat kita terbiasa bernafas melalui hidung.
Masker berembun sebetulnya bukan masalah besar, karena setiap  penyelam pastinya diajarkan cara mask-clearing di dalam air. Namun, jika terlalu sering berembun dan mask-clearing, maka udara di dalam tabung banyak terbuang sehingga cepat habis, selain itu penyelaman menjadi tidak nyaman.
Untuk mencegah munculnya embun pada saat menyelam/snorkeling, cara yang paling gampang tentunya menggunakan cairan anti-foging sebelum kita turun ke dalam air. Cairan anti-foging tersebut dapat dengan mudah ditemukan di toko-toko yang menjual peralatan selam. Soal harga murah atau mahal, itu relatif. 
Namun, sesungguhnya di kamar mandi kita terdapat anti-foging yang lebih murah meriah untuk mencegah terjadinya pengembunan pada masker yang kita pakai, yaitu dengan menggunakan pasta gigi (merk apa saja). Caranya, pasta gigi tersebut dioleskan pada bagian dalam dan luar lensa masker. Setelah diratakan, kemudian dibilas hingga bersih, masker pun siap digunakan. 

Akan tetapi, jika pada saat akan turun namun lupa membawa pasta gigi, teman-teman tidak perlu khawatir, karena di dalam mulut kita terdapat zat anti-foging yang selalu kita bawa kemana-mana. Anti-foging alami tersebut adalah saliva alias air ludah. Cara penggunaannya cukup dengan ¡°menyemprotkan¡± saliva kita pada kedua belah sisi masker. Ratakan, kemudian bilas hingga bersih (tampilan dan aromanya ). Maka masker siap digunakan dan penyelaman pun akan nyaman



Sumber:
USN Diving Manual 6
Internet


Fisika Selam

Pengetahuan tentang hukum fisika yang erat berhubungan dengan penyelaman adalah syarat penting bagi teknik penyelaman aman. Banyak masalah kesehatan penyelaman yang secara langsung diakibatkan oleh pengaruh fisiologi dari hukum-hukum tersebut terhadap manusia.
Untuk memahami berbagai prinsip-prinsip dasar penyelaman yang aman, penyelam harus mengenal aspek-aspek fisika yang berhubungan tekanan dan berat jenis zat cair dan gas-gas. Pengetahuan inipun amat berguna untuk para dokter yang menangani kasus para penyelam.

Tekanan
Tekanan udara pada permukaan laut pada suhu 0o C, pada dasarnya adalah tekanan yang disebabkan oleh berat asmofir diatasnya. Tekanan ini konstan yaitu sekitar 760 mmHg (14,7 psi) dan dijadikan dasar hukum atmosfir (1 ATA).

Berdasarkan hukum Pascal yang menyatakan bahwa tekanan yang terdapat pada permukaan cairan akan menyebar ke seluruh arah secara merata dan tidak berkurang. Pada setiap tempat di bawah permukaan air tekanan akan meningkat sebesar 760 mmHg (1 Atmosfir) untuk setiap kedalaman 10 meter. Dengan demikian penambahan tekanan air permukaan dengan tekanan kedalaman air disebut tekanan Atmosfir Absolut (ATA).

Hukum-Hukum Gas
Udara yang dihirup manusia adalah udara biasa yang terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut:
  • 78 % Nitrogen (N2)
  • 21 % Oksigen (O2)
  • 0,93 % Argon (Ar)
  • 0,04 % Karbondioksida (CO2)
  • Sisanya gas-gas mulia (He, Ne,dll)

Dalam penyelaman maka hukum-hukum gas berlaku karena tekanan dan volume gas yang keluar masuk tubuh manusia berubah sesuai keadaan.
Ada beberapa hukum gas yang harus dipahami antara lain:

Hukum Boyle
Hukum yang menegaskan hubungan antara tekanan dan volume. Volume dari suatu kumpulan gas akan berbanding terbalik dengan absolut.

Hal ini berarti bahwa bilamana tekanan meningkat, maka volume dari suatu kumpulan gas akan berkurang.
Aplikasi
Seorang penyelam yang bernafas penuh (6 liter) pada kedalaman 10 meter (2 ATA), dengan menahan napas lalu naik kepermukaan (1 ATA), maka udara di dalam paru-parunya akan berlipat ganda menjadi 12 liter. Hal ini mengingatkan agar tidak menahan napas saat muncul kepermukaan bila memakai alat selam scuba.
Hukum ini berlaku terhadap rongga yang ada pada tubuh manusia, dimana penyelam akan mendapat tekanan langsung saat menyelam.

Hukum Charles
Adalah hukum yang menyatakan bahwa bila tekanan tetap konstan, maka volume dari sejumlah gas berbanding lurus dengan suhu absolut, apabila volume konstan/tetap dan suhu meningkat maka tekanan akan meningkat pula. Hukum ini berhubungan dengan kompresi dari kumpulan gas yaitu terhadap peralatan selam: tabung, regulator, chamber dll.
Aplikasi
Dalam menyimpan tabung maka tempatnya harus dijaga supaya tidak panas atau hindari tempat panas. Membawa tabung yang penuh terisi dalam waktu lama sebaiknya di tutup sehingga terhindar dari sinar matahari langsung.
Jika hal ini terabaikan maka suhu tabung akan meningkat menyebabkan tekanan meningkat sehingga tabung meledak.

Hukum Dalton
Menurut hukum ini, Tekanan Total suatu gas campuran adalah jumlah dari tekanan parsial gas-gas di dalam campuran tsb.
Di permukaan laut maka tekanan masing-masing gas penyusun atmosfer yaitu:
Maka pada kedalaman 40 meter maka tekanan masing-masing gas yaitu:
Hal ini berarti oksigen yang kita hirup pada kedalaman 40 meter sama dengan menghirup oksigen murni di permukaan. Nitrogen yang dihirup juga semakin banyak hampir 5 kali lipat daripada berada di permukaan laut.
Aplikasi
Hal ini berkaitan dengan aspek medis yaitu apabila kita menghirup oksigen yang banyak maka akan terjadi keracunan oksigen. Banyaknya oksigen akan mendepresi pusat pernapasan sehingga kontrol pernapasan di otak terganggu dan terjadi penumpukan karbondioksida dalam tubuh yang menyebabkan kematian.
Banyaknya nitrogen yang dihirup akan menurunkan kerja sistem saraf pusat, sehingga kewaspadaan penyelam menurun. 

Hukum Gay-Lussac
Menurut hukum ini, dapat dijelaskan juga tentang ledakan saat mengisi tabung scuba.
Bila kita mengisi tabung scuba, dimana Volume nya konstan, dengan bertambahnya Tekanan tabung maka Temperaturnya juga meningkat. Hal ini berbahaya karena sebelum mencapai tekanan yang diinginkan, tabung dapat meledak.
Aplikasi 
Pada saat kita mengisi tabung, sebaiknya tabung tsb diisi sambil direndam di dalam ember yang berisi air dingin, agar temperatur tabung tetap dingin.

Hukum Henry
Hukum ini mengekspresikan tentang daya larut gas pada suatu cairan. Daya larut ini juga tergantung pada temperatur dan tipe cairan.Makin dalam dan makin lama kita menyelam maka gas yang diserap tubuh makin banyak karena tekanan parsial gas semakin tinggi. Semakin dingin suhu air, maka semakin banyak gas yang terlarut di dalamnya.
Aplikasi
Hal inilah yang mengharuskan kita untuk naik kepermukaan dengan sangat perlahan agar gas yang larut tidak berubah menjadi gelembung. 

Daya Apung
Hukum Archimedes berbunyi bahwa jika suatu benda masuk ke dalam suatu cairan maka benda tersebut mendapat daya apung yang sebanding dengan jumlah cairan yang dipindahkan.
Untuk mengetahui apakah suatu benda terapung atau tidak maka kita harus mengetahui berat jenis (berat/volume) benda tersebut. Jika berat jenis benda lebih kecil daripada air maka benda tersebut akan mengapung, begitu pula sebaliknya.
Semakin padat suatu cairan maka semakin besar daya apungnya karena memiliki berat jenis yang besar.
Hal ini berhubungan dengan air tawar dan air laut, dimana mempunyai kepadatan yang berbeda. Air laut lebih padat daripada air tawar, sehingga penyelam-penyelam dan kapal-kapal mengapung lebih tinggi dari air laut daripada air tawar.

Daya apung (bouyancy) ada 3 macam yaitu:
  • Daya apung positif (positive bouyancy) : bila suatu benda mengapung.
  • Daya apung negatif (negative bouyancy) : bila suatu benda tenggelam.
  • Daya apung netral (neutral bouyancy) : bila benda dapat melayang.

Bouyancy adalah suatu faktor yang sangat penting di dalam penyelaman. Selama bergerak dalam air dengan scuba, penyelam harus mempertahankan posisi neutral bouyancy.
Tingkat  daya apung setiap penyelam dipengaruhi oleh beberapa faktor, berat alat-alat yang dipakai dapat menyebabkan penyelam tenggelam. Silinder berisi udara tekan akan menjadi lebih terapung bila udara dipakai hingga menjadikannya ringan. Pakaian selam (wet suit) yang terdiri dari sel-sel karet busa berisi udara, bila kedalamannya bertambah, volume udara di dalam sel-sel tersebut berkurang dengan demikian mengurangi daya apung. Rompi-rompi yang dapat mengembang (Buoyancy Compensator's) dapat diisi udara untuk mendapat daya apung positif. Bila penyelam menghirup nafas volume di dada akan meningkat, yang cenderung membuatnya mengapung, sedang bila ia menghembuskan akan cenderung tenggelam. Maka sering seorang penyelam menghembuskan nafasnya pada saat meninggalkan permukaan untuk memanfaatkan pengaruh tersebut dan hal itu membantunya untuk turun.
Dengan pengetahuan tersebut diatas, diaharapkan seorang penyelam akan dapat menentukan daya apungnya sendiri sesuai kebutuhan dan dapat memperkirakan peralatan selam yang akan dipakainya, sehingga seorang penyelam akan mampu untuk mengatur daya apungnya untuk kenyamanan serta keamanan penyelaman.

Suhu
Suhu air yang berada di sekeliling penyelam menentukan kenyamanan dan lamanya penyelaman secara maksimal. Hampir semua perairan lebih dingin dibandingkan suhu tubuh manusia yang normal, karena itu seorang penyelam akan kehilangan panas tubuh terhadap air. Pada penyelaman saturasi, pemeliharaan suhu tubuh penyelam menjadi suatu kebutuhan utama, suhu air akan makin turun secara nyata bersamaan dengan bertambahnya kedalaman.
Perubahan suhu terbesar terjadi pada 10 meter pertama, dikarenakan hilangnya sebagian besar panas matahari pada kedalaman yang lebih dalam. Air yang dingin dapat menyebabkan gangguan fisiologi seperti vertigo dan sakit kepala. Untuk itu dibituhkan pakaian selam sesuai kebutuhan.

Panas badan dapat hilang bila berada di dalam air melalui beberapa cara :
  • Konduksi adalah transfer panas langsung dari molekul ke molekul. Air mempunyai kapasitas konduksi 25 kali dari pada udara. Jadi kecepatan hilangnya panas di air 25 x lebih cepat dari pada di udara.
  • Konveksi adalah transfer panas dengan adanya pergerakan arus air.
  • Radiasi adalah transfer panas dengan cara pancaran tanpa adanya zat perantara.
  • Evaporasi keringat dari kulit dan keluarnya uap air dari paru menyebabkan hilangnya panas dari badan secara signifikan.

Bila seoseorang menyelam sangat dalam dengan menggunakan Helium-Oxygen (Heliox), hilangnya panas badan dapat menimbulkan hypothermia klinis yang serius. Pada penyelaman sangat dalam dengan gas campuran heliox, gas pernafasan ini dipanaskan untuk menghindari hypothermia.

Penglihatan dan Cahaya
Agar penyelam dapat bekerja dengan baik, maka harus dilengkapi peralatan untuk melihat sejelas mungkin. Mata manusia memerlukan sinar untuk melihat sesuatu. Apapun yang dilihat manusia adalah suatu gambaran yang diciptakan oleh pantulan sinar dari benda yang sedang dilihat. Sinar di dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga dapat langsung mempengaruhi kemampuan melihat seorang penyelam dan menginterpretasikan apa yang dilihatnya. 

Faktor-faktor utama tsb adalah :
  • Kekeruhan air.
  • Diffusi : pemancaran sinar oleh molekul-molekul air dan partikel.
  • Absorpsi : kemampuan untuk merubah warna dan intensitas cahaya.
  • Refraksi : pembelokan sinar yang masuk dari satu media ke media yang lain.
  • Refleksi : kembalinya sinar matahari ke atmosfer yang mengenai permukaan air; akan direfleksikan (dipantulkan) tergantung pada sudutnya pada saat mengenai air.

Penglihatan dibawah air sangat buruk diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan dalam pembiasan sinar di bawah air. Masalah ini sebagian dapat diatasi dengan pemakaian masker, dimana terdapat suatu lapisan udara antara mata dan air, meskipun memperbaiki penglihatan di bawah air tetapi dapat mengakibatkan kesan palsu akan jarak dan menjadikan benda-benda yang terlihat jauh akan terlihat dekat (¡¾ 3/4nya) dan yang kecil akan terlihat lebih besar (¡¾ 1,5 kalinya). Udara mempunyai indeks bias 1, kaca masker berindeks  bias 1,5-1,8, sedangkan air berindeks bias 1,33.

Lensa yang dapat memperbaiki penglihatan (corrective lens) dapat dipasang pada mask untuk mereka yang memakai kacamata. Pemakaian lensa kontak (contact lens) di bawah air telah berhasil baik untuk digunakan pada face mask maupun pemakaian langsung.
Ketajaman penglihatan di bawah air rendah disebabkan penyebaran cahaya yang membentuk bayang-bayang dari benda halus yang mengambang di dalam air. Di bawah air juga berpengaruh terhadap warna dimana tidak tampak sama dengan permukaan. Hal ini disebabkan adanya penyerapan (absorpsi) terhadap panjang gelombang warna yang tidak sama besar.
Sinar matahari tidak dapat menembus lebih dari 1650 ft, meskipun di air yang sangat jernih. Di udara, kecepatan sinar adalah 186.000 mil/detik, di dalam air kecepatan berkurang menjadi 135 mil/detik. Pada kedalaman, sinar matahari merupakan kombinasi warna-warna merah, orange, kuning, hijau, biru, dan ungu akan terlihat sebagai warna biru tua. Karena penyerapan tersebut dapat berpengaruh terhadap warna benda di dalam air.
Penyerapan air terhadap sinar matahari adalah sebagai berikut

Suara
Suara dibawah air sangat dipengaruhi oleh penghantarannya oleh media cairan. Kecepatan suara di bawah air lebih cepat 4 kali daripada udara, tapi akan lebih cepat kehilangan energinya bila dipancarkan ke dalam air. Suara di udara akan cepat kehilangan energinya bila dipancarkan ke dalam air, dengan demikian di dalam air akan sukar mendengarkan suara yang dibuat di udara dekat permukaan air.
Telinga manusia diciptakan untuk melokalisir arah suara diudara. Pendengaran penyelam di bawah air akan berkurang akibat pengaruh air terhadap gendang telinga, sehingga sulit bagi penyelam untuk melokalisir arah suara di dalam air. Di bawah air suara akan dihantarkan ke organ pendengaran lebih baik melalui tulang kepala daripada gendang telinga. 
Memakai penutup kepala akan lebih mengurangi ambang pendengaran, akanlah sukar bagi penyelam melokalisir arah suara di dalam air.
Kecepatan suara di udara adalah 1100 ft/detik sedangkan di dalam air rata-rata 4900 ft/detik. Suara yang dihasilkan oleh pemukulan tabung baja scuba dengan benda logam (misalnya dengan pisau selam) dapat didengar pada jarak yang cukup jauh oleh penyelam lain.

Kesimpulan
Dengan mempelajari fisika yang berhubungan dengan penyelaman diharapkan penyelam dapat mengetahui cara mengatasi bahaya-bahaya yang mungkin timbul karena penyelaman terhadap fisiologi manusia. Diantaranya seorang penyelam akan melakukan ekualisasi saat masuk di kedalaman air, tidak menahan napas selama naik ke permukaan dan selalu melaksanakan peyelaman tanpa dekompresi (bila diperlukan pelajari tabel selam), serta dapat melaksanakan penyelaman dengan aman dan nyaman.




Fisiologi Selam

Dalam dunia penyelaman, seorang penyelam harus beradaptasi terhadap lingkungannya yaitu air, dan harus mempelajari batas-batas kemampuan fisiologinya dalam adaptasi tersebut. Fisiologi penyelaman mempelajari fungsi-fungsi tubuh di dalam serta bagaimana reaksi tubuh terhadap lingkungannya.

Respirasi (Pernapasan)
Bernapas sangat diperlukan sekali supaya dapat mensuplai darah ke semua jaringan tubuh dengan okisgen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh jaringan dari darah melalui paru-paru.

Udara masuk ke paru-paru melalui suatu sistem berupa pipa yang makin menyempit (bronkus dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah sisi paru-paru dari saluran udara dalam utama (trakea). Pipa ini berakhir pada gelembung-gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong-kantong udara terakhir dimana O2 dan CO2 dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih 300 juta alveoli di dalam tubuh manusia. Pertukaran O2 dan CO2 pada paru terjadi pada bronkiolus respiratorius dan alveoli.
Permukaan bagian luar paru ditutup oleh selaput pleura yang licin dan selaput serupa membatasi ruang dada membatasi permukaan bagian dinding dada. Kedua selaput ini letaknya berdekatan sekali dan dipisahkan oleh lapisan cairan yang tipis. Karena dapat dipisahkan maka terdapat  suatu ruangan antara kedua selaput tersebut dinamakan rongga pleura.

Pada saat inspirasi (menarik napas) dinding dada secara aktif tertarik keluar oleh kontraksi otot dinding dada dan ke arah bawah oleh diafragma (sekat rongga dada). Tekanan dalam rongga dada akan menjadi lebih negatif sehingga udara mengalir ke dalam paru-paru. Dengan upaya maksimal pengurangan tekanan dapat mencapai 60-100 mmHg dibawah tekanan atmosfir.
Pada saat ekspirasi (pengeluaran napas), rongga dada mengempis karena tulang dada kembali ke posisi awal. Gerakan ini pasif tanpa upaya otot, mengakibatkan tekanan dalam rongga dada meningkat memaksa gas keluar dari paru-paru. Ekspirasi dapat dibantu dengan upaya otot yang dapat dilihat melalui penghembusan napas yang kuat.
Pengukuran fungsi pernapasan banyak dan bermacam-macam, tetapi hanya beberapa hal penting saja dan ada hubungannya dengan penyelaman yang akan diterangkan, terutama mengenai volume udara paru-paru.
  1. Kapasitas Total Paru (Total Lung Capacity/TLC). Yaitu jumlah volume gas yang dapat ditampung oleh kedua paru-paru bila terisi penuh biasanya ¡¾ 5-6 liter.
  2. Volume Tidal (Tidal Volume/TV). Yaitu volume napas biasa yang masuk dan keluar paru tanpa usaha napas yang kuat/dalam keadaan istirahat. Berkisar ¡¾ 0,5 liter.
  3. Kapasitas Vital (Vital Capacity/VC). Yaitu volume udara maksimal yang dapat dihembuskan keluar setelah menghirup udara secara maksimal biasanya ¡¾ 4-5 liter. Kadang juga disebut daya apung vital yang dipaksa (Forced Vital Capacity/FPC)
  4. Volume Sisa (Residual Volume/RV). Volume sisa yaitu jumlah gas yang tertinggal di dalam paru-paru setelah dihembuskan secara maksimal biasanya ¡¾ 1,5 liter dan dapat dihitung sebagai berikut: TLC-VC= RV, perhatikan RV adalah ¡¾ 25 % dari TLC.
  5. Volume Pernapasan Semenit (Respiration Minute Volume/RMV). Volume pernapasan semenit adalah jumlah gas yang bergerak masuk dan keluar dari paru-paru dalam satu menit. Yaitu RMV = TV x Frekuensi Pernapasan. Biasanya 6 liter pada saat istirahat, tetapi dapat melebihi 100 liter pada saat latihan berat. RMV kadang dinamakan Ventilasi Paru (Pulmonary Ventilation). 
  6. Kapasitas Vital Sewaktu (Time Vital Capacity). Kapasitas vital sewaktu adalah bagian dari vital capacity (VC) yang bisa dihembuskan dalam waktu tertentu biasanya 1 detik. Sering dinamakan volume ekspirasi yang dipaksakan (FEV1/ Forced Expiratory Volume One Second).


Parameter-parameter mekanis ini penting untuk memahami fisiologi karena secara relatif akan meningkatakan resiko penyakit penyelaman (barotrauma, kekurangan gas dan lain-lain). CO2 lebih mudah larut dalam darah 24 kali dibandingkan dengan O2, kecepatan difusi CO2 melampaui O2 kurang lebih 20 kali lipat.
Difusi gas dipengaruhi oleh dinding alveoli. Pada alveoli yang kurang terventilasi dengan O2 yang cukup maka pembuluh darah akan mengecil sehingga mengurangi penyerapan O2 dan meningkatkan aliran darah pada alveoli bagian lain yang cukup O2.
Kelainan fungsi pernapasan dapat mengakibatkan berkurangnya pengeluaran dari CO2 darah dan penyerapan O2 ke dalam darah (hypoxia dan hypercapnea).
Jumlah seluruh keperluan jaringan tubuh adalah kurang lebih 6,8 ml O2 darah (250 ml O2/menit). Sejumlah kecil O2 larut dalam plasma darah sebesar (0,01/100 ml) sedangkan sebagian besar berikat pada protein hemoglobin (Hb) pada sel darah merah. Hb mempunyai daya ikat yang besar terhadap oksigen dan menjadi 98 % jenuh dengan oksigen pada tekanan 1 ATA . Tidak semua Hb melepaskan oksigen di jaringan, karena 75 % Hb tetap jenuh.
Untuk mempertahankan kadar oksigen dan karbondioksida volume pernapasan semenit ahrus seimbang dengan pemakaian oksigen dan kecepatannya menghasilkan karbondioksida. Pernapasan diatur oleh pusat pernapasan di otak. Dalam otak terdapat sensor yang mendeteksi perubahan kadar CO2 darah, sensor ini sangat mempengaruhi pusat pernapasan.  Terdapat sensor yang sedikit mempengaruhi yang terdapat pada aorta dan arteri carotis yang mendeteksi kadar O2 dalam darah.
Hal ini dapat dipahami jika penyelam yang tahan napas yang melakukan hiperventilasi dapat terjadi ketidaksadaran. Karena pusat pernapasan tidak dirangsang kadar CO2 yang telah berkurang akibat hiperventilasi dan gagal untuk bereaksi dengan baik terhadap bahaya kekurangan O2 selama penyelaman dan selama naik ke permukaan.   

Kardiovaskular
Peredaran/suplai darah sangat penting untuk mentransportasikan O2 yang telah diambil di paru-paru ke jaringan tubuh.
Jaringan tubuh yang memerlukan banyak O2 adalah otak, dimana otak mengambil sekitar 20 % O2 dalam keadaan normal. Apabila otak kekurangan O2 maka akan terjadi penurunan kesadaran dan dalam 5 menit akan berakibat kematian

Darah dipompa oleh jantung ke jaringan melalui arteri, bercabang lebih kecil menjadi arteriol dan kemudian di jaringan dan paru-paru menjadi kapiler-kapiler darah.
Kapiler darah meninggalkan jaringan membawa darah yang miskin oksigen ke vena. Vena membawa darah balik ke jantung dan kemudian dipompa ke paru-paru. Arteri paru-paru membawa darah miskin O2, sedangkan vena paru membawa darah yang kaya O2 karena telah terjadi proses difusi di paru-paru ke jantung yang kemudian dipompa ke seluruh tubuh.
Jantung merupakan satu organ yang terbagi menjadi dua bilik dan dua serambi, terdapat katup-katup yang menjaga darah agar tidak mengalir terbalik selama berkontraksi. Kecepatan kontraksi jantung berbeda-beda pada tiap orang. Rata-rata 60-80/menit pada saat istirahat dan 80-150/menit pada saat kerja.
Di dalam tubuh manusia terdapat 6 liter darah. Darah terdiri dari plasma darah (komponen cair) dan sel darah (komponen padat). Sel darah merah mengandung hemoglobin (Hb) yang mengikat O2 dan CO2, sel darah putih untuk melawan infeksi, dan keping darah untuk pembekuan darah. O2 hanya terikat pada Hb, sedikit yang dapat larut dalam air, sedangkan CO2 banyak terlarut dalam plasma dalam bentuk ion HCO3, tapi sedikit yang berikatan pada Hb. Volume darah konstan, tetapi kecepatan peredaran darah sangat berbeda tergantung kebutuhan jaringan.
Darah mengalir dari seluruh tubuh melalui vena, kemudian masuk ke, serambi kanan, bilik kanan, melalui arteri pulmonalis ke paru-paru mengambil O2 dan melepas CO2. Darah kaya O2 ini kemudian melalui vena pulmonalis masuk ke serambi kiri dan bilik kiri dan kemudian di pompa ke seluruh tubuh melalui arteri.
Kemampuan jantung memompa darah ¡¾ 4-5 liter darah/menit (saat istirahat) dan 20 liter darah/menit saat kerja. Tekanan darah saat istirahat adalah 120-140 mmHg pada saat jantung berkontraksi (sistolik) dan 70-80 mmHg pada saat jantung relaksasi (diastolik). Kedua tekanan bisa diukur saat yang sama dan dapat ditulis sisyolik/diastolik yaitu 120/70. Penurunan sirkulasi darah yang hebat akibat shock (kekurangan suplai darah yang membawa O2 ke jaringan) dapat diatasi dengan meningkatkan volume darah dan menaikkan tekanan darah.

Sinus
Sinus adalah rongga udara yang terdapat pada kepala. Rongga ini terletak pada tulang-tulang tengkorak. Fungsi sinus belum jelas di ketahui, tapi dikaitkan dengan proses warna suara. Sinus sangat berkaitan erat dengan jalan napas. Terdapat 4 macam sinus di kepala yaitu:
  • Sinus Frontalis terdapat di kening.
  • Sinus Ethmoidalis terdapat diantara kening dan hidung.
  • Sinus Maksilaris terdapat di pipi kanan dan kiri.
  • Sinus Sphenoidalis terdapat pada pelipis kanan dan kiri.


Semua sinus dihubungkan melalui saluran-saluran ke hidung agar udara dapat keluar dan untuk mengeluarkan cairan mukus yang disekresikan oleh sel dalam rongga sinus. Apabila saluran yang normal dalam rongga sinus tersumbat, maka udara pernapasan di hidung dan ternggorokan tidak dapat masuk ke dalam rongga tersebut sehingga terjadi ketidakseimbangan tekanan yang mengakibatkan pembengkakan dan pendarahan dari jaringan di dalam sinus. Cairan atau darah yang keluar akan menempati sebagian rongga udara untuk menyamakan tekanan.
Sumbatan pada saluran sinus dapat disebabkan oleh keadaan sebagai berikut:
  • Sinusitis (infeksi/alergi) dimana pembengkakan jaringan menyebabkan penyumbatan saluran ke hidung.
  • Rhinitis (hay fever), prosesnya sama dengan sinusitis.
  • Polip, yaitu pertumbuhan jaringan kecil yang dapat menutupi saluran sinus. Polip terdapat pada rongga hidung.
  • Lipatan jaringan yang berlebihan.
  • Sumbatan oleh lendir yang mengering. 


Telinga
Telinga adalah organ pendengaran yang sangat sensitif terhadap tekanan. Tiga bagian utama telinga yaitu:
  • Telinga bagian luar.
  • Telinga bagian tengah.
  • Telinga bagian dalam.


Masing-masing bagian telinga mempunyai fungsi-fungsi yang berbeda. Telinga bagian luar dan tengah terdiri dari rongga udara yang dibatasi oleh jaringan dan dikelilingi oleh tulang-tulang yang dapat menahan tekanan udara . Gendang telinga adalah selaput yang lentur dan peka, yang memisahkan telinga luar dan tengah. Telinga bagian dalam tidak mempunyai rongga udara dan terletak diantara tulang dan terdiri dari organ pendengaran dan keseimbangan yang berisi cairan. Telinga tengah dan bagian dalam dipisahkan oleh dua selaput tipis. Pada telinga bagian tengah terdapat saluran yang menghubungkan dengan tenggorokan yaitu tuba eustachius.





Aspek Medis Selam




Snorkeling(Skin Diving)
Snorkeling merupakan kegiatan dasar yang harus dikuasai seorang calon penyelam. Ini bertujuan untuk melatih pernapasan menggunakan mulut dan gerakan kaki yang berguna pada saat penyelam.
Yang harus diperhatikan dalam snorkeling yaitu:

1. Dead Air Space
Pada umumnya snorkel yang dipakai penyelam tidak lebih dari 30 cm panjangnya. Hal ini untuk menghindari Dead Air Space atau volume ruang udara mati yang mengakibatkan udara hanya bergerak di daerah itu saja dan tidak ke lingkungan bebas. Sehingga bertambah panjang snorkel akan bertambah besar ruang udara mati.


2. Kekurangan Oksigen (Hypoksia)
Seorang penyelam skin yang berusaha menahan napas untuk dapat berada di dalam air lebih lama, apabila dipaksakan mengakibatkan penyelam akan mengalami kekurangan oksigen (anoksia) sehingga jaringan tubuh tidak mendapat O2.

3. Shallow Water Blackout
Pingsan di air dangkal. Hal ini dikarenakan penyelam melakukan hiperventilasi berlebih sehingga kadar karbondioksida menurun tajam dan selama penyelaman tubuh mengalami hipoksia sedangkan respon/keinginan tubuh untuk bernapas belum ada.
Hiperventilasi adalah upaya penyelam untuk memperpanjang tahan napas pada skin diving dengan bernapas dalam dan berlebihan. Hal ini dilakukan penyelam skin untuk bertahan napas lebih lama dengan mengurangi/membuang gas CO2. Sebenarnya cara ini berbahaya karena jika kadar CO2 turun, maka tidak akan terjadi perangsangan untuk bernapas ke permukaan.



Penyelam skin yang melakukan over hiperventilasi di permukaan dan kemudian menyelam pada kedalaman 10 feet (10 m) akan mengalami peningkatan tekanan parsial O2 dalam darah dari 3 psi ke 6 psi. Bila diteruskan ke yang lebih dalam lagi sehingga melewati batas dimana CO2 telah memberikan peringatan untuk muncul. Dikarenakan CO2 kurang saat hiperventilasi, sedangkan O2 yang digunakan sudah pada titik rendah ½ psi yang pada akhirnya CO2 menumpuk hingga batasnya dan penyelam akan muncul ke permukaan.
Sesampainya di permukaan, peredaran darah menurun dan O2 menjadi nol, maka akibatnya akan pingsan dekat permukaan. Biasanya penyelam pingsan karena anoxia (kehabisan O2).
Gejalanya yaitu denyut nadi dan tekanan darah meningkat, biru pada bibir, jari dan kaki, serta pingsan.
Segera berikan udara segar/O2 murni dan jika pingsan berikan pernapasan mulut ke mulut.
Untuk itu bila penyelam melakukan snorkeling/ skin diving, bernapas dalam dua kali sudah cukup untuk menyelam secara efisien. Jangan melakukan hiperventilasi dan hindari menahan napas melewati peringatan CO2. Untuk penyelam scuba jangan melakukan hiperventilasi.

4. Squeeze Paru
Merupakan barotrauma yang sangat jarang yang bisa terjadi pada breath hold diving/skin diving. Penyelam mengalami sesak napas setelah mencapai permukaan dari kedalaman > 100 FSW. Dapat disertai dengan batuk berdarah/berbuih dan harus diberikan oksigen. Gejala tersebut menurun dalam beberapa hari.
Hal ini terjadi ketika penyelam turun ke kedalaman dimana Volume Total Paru (TLV) berkurang kurang dari Volume Residu (RV), pada poin itu tekanan transpulmonal melebihi tekanan alveoli, hal ini akan menyebabkan pengeluaran cairan dan darah membuat penyelam sesak napas.
Penyelam normal dengan TLV 6 liter dan RV 1,2 L hanya dapat menyelam hingga tekanan 5 ATA (132 FSW) , lebih dalam dari itu akan mengalami squeeze paru. Akan tetapi beberapa penyelam dapat menyelam lebih dari itu tanpa masalah.



SCUBA Diving

Efek dan Bahaya Perubahan Tekanan pada Tubuh
Karena adanya perbedaan tekanan di kedalaman air, maka penyelam yang menyelam ke dalam akan mengalami efek langsung tekanan air. Untuk itu diperlukan equalisasi yaitu penyesuaian tekanan.

1. Efek Langsung Tekanan
Pada tubuh manusia terdapat rongga-rongga udara dan apabila untuk menyelam akan mengalami tekanan langsung yang dapat berpengaruh terhadap rongga-rongga tersebut.
Rongga tersebut yaitu kulit (jika memakai dry suit), lubang telinga dan telinga tengah, sinus, gigi, paru-paru, dan saluran pencernaan.


Ketidakseimbangan tersebut akan menyebabkan barotrauma yang dapat berupa squeeze, kerusakan organ, atau minimal menimbulkan rasa sakit dan rasa tidak nyaman. Squeeze adalah pengerutan jaringan tubuh akibat dari tidak dapatnya jaringan tubuh menyamakan tekanan atau equalisasi.

Mask Squeeze
Terjadi pada saat penyelam lupa mengeluarkan udara ke dalam masker pada saat equalisasi sehingga terbentuk tekanan negatif pada ruangan masker. Hal ini mengakibatkan kapiler darah di muka rusak dan menyebabkan pendarahan ke dalam kulit (ecchymosis) dan pendarahan konjungtiva.

Squeeze Lubang Telinga
Terjadi karena adanya udara yang terperangkap di dalam lubang telinga. Udara tersebut dapat terperangkap karena:

  • Serumen (kotoran telinga).
  • Earplug (tidak boleh dipakai dalam penyelaman)
  • Hood atau penutup kepala.
  • Wet suit/dry suit yang menutup telinga.

Hal ini menyebabkan terbentuknya ruang bertekanan negatif sehingga dapat menyebabkan hal yang sama. Gejala meliputi sakit pada telinga, pembengkakan, kemerahan kulit lubang telinga. Pada kasus yang parah dapat terjadi robek gendang telinga.

Squeeze Sinus (Barosinusitis)
Mekanismenya sama dengan squeeze lain. Jika pada saat turun ke dalam. Jika terdapat sumbatan pada saluran sinus akan menyebabkan sinus squueze. Sumbatan ini disebabkan oleh:

  • Sinusitis (infeksi/alergi) dimana pembengkakan jaringan menyebabkan penyumbatan saluran ke hidung.
  • Rhinitis (hay fever), prosesnya sama dengan sinusitis.
  • Polip, yaitu pertumbuhan jaringan kecil yang dapat menutupi saluran sinus. Polip terdapat pada rongga hidung.
  • Lipatan jaringan yang berlebihan.
  • Sumbatan oleh lendir yang mengering.

Gejalanya yaitu rasa sakit di wajah, kening, atau pipi selama menyelam.
Tipe yang jarang yaitu reverse sinus squeeze yang terjadi pada saat naik ke permukaan. Kondisi ini diakibatkan karena tingginya tekanan udara dalam sinus. Ini biasanya terjadi pada penyelam yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas atau alergi berat yang minum obat dekongestan (mengurangi produksi cairan) sesaat sebelum menyelam, tetapi efek obat tersebut hilang setelah menyelam di kedalaman.
Pencegahan barosinusitis atau squeeze sinus yaitu dengan tidak menyelam pada saat terkena infeksi saluran napas atas atau hal-hal lain yang dapat mengakibatkan penutupan saluran sinus.



Squeeze Gigi (Barodontalgia)
Nama lainnya yaitu aerodontalgia. Kondisi ini disebabkan karena adanya gas yang terperangkap di dalam gigi atau struktur sekitar gigi. Adanya gas akan mengakibatkan terbentuknya tekanan negatif atau positif di dalam ruangan yang terbatas. Hal ini akan merangsang struktur sensitif gigi danmengakibatkan rasa sakit. Barodontalgia dapt disebabkan oleh kondisi sebgai berikut.

  • Karies (karang gigi).
  • Restorasi gigi (penambalan gigi).
  • Luka di daerah mulut.
  • Cabut gigi (belum lama).
  • Abses periodontal (kumpulan nanah dekat jaringan gigi).
  • Terapi pada akar gigi.

Jika terdapat sekumpulan udara tertangkap di gigi pada tekanan permukaan laut, tekanan di luar gigi akan meningkat pada penyelaman, maka gigi akan pecah ke arah dalam, dan ruangnya akan terisi darah. 

Kebalikannya, jika kumpulan udara terbentuk selama di kedalaman, jika bergerak ke permukaan volumenya akan meningkat sesuai hukum Boyle yang mengakibatkan gigi pecah ke arah luar.
Untuk mencegah barodontalgia, setiap penyelam harus menunda penyelaman sedikitnya 24 jam setelah terapi/tindakan pada gigi.

Squeeze Telinga Tengah (Barotitis Media)
Tingkat kejadian squeeze telinga tengah sangat tinggi sekitar 40 % dialami oleh para penyelam.
Hal ini terjadi jika terdapat sumbatan yang menghalangi equalisasi rongga di telinga tengah yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran tuba eustachius.
Tersumbatnya saluran tuba eustachius dapat disebabkan oleh:

  • Infeksi saluran napas atas.
  • Allergi.
  • Rokok.
  • Polip.
  • Trauma wajah yang dialami sebelumnya.



Dapat juga terjadi jika penyelam lupa melakukan equalisasi dengan cara Manuver Valsava dan Frenzel.

  • Manuver Valsalva yaitu meniup udara melawan dengan bibir dan hidung tertutup dan lidah ke arah belakang untuk meningkatkan tekanan rongga faring yang diteruskan ke dalam telinga tengah melalu tuba eustachius. Manuver ini juga dapat membuka tuba eustachius yang tertutup. Biasa disebut mengedan.
  • Manuver Frenzel yaitu dengan menelan dengan lidah ke belakang dimana bibir ditutup dan lubang hidung di tekan (memencet hidung).




Biasanya penyelam sudah mengalami sedikit rasa sakit pada perbedaan tekanan 60 mmHg. Manuver ini baik dilakukan pada kedalaman 4 feet. Jika penyelam tidak melakukan equalisasi dengan manuver ini pada perbedaan tekanan lebih dari 100-400 mmHg (4,3-17,4 feet) maka akan terjadi squeeze yang dapat mengakibatkan robek gendang telinga. Air dingin kemudian masuk ke telinga tengah dan menyebabkan vertigo.
Gejalanya terjadi sesaat penyelam turun dari permukaan air. Penyelam juga mengeluh rasa sakit dan rasa penuh dalam telinga atau mengalami vertigo. Sakitnya semakin parah sehingga penyelam dapat meneruskan atau menghentikan penyelaman.
Pencegahannya dengan selalu equalisasi setiap turun ke kedalaman.


Barotrauma Telinga Dalam
Merupakan barotrauma yang sangat serius karena akan menyebabkan ketulian permanen. Barotaruma ini jarang terjadi. Trauma ini terjadi karena perbedaan tekanan yang bermakna antara telinga tengah dan telinga dalam. Hal ini disebabkan terlalu kuatnya manuver Valsava atau turun ke dalam terlalu cepat.
Gejalanya utama yaitu berdenging, vertigo, dan tuli. Dapat juga disertai rasa penuh pada telinga, mual dan muntah, berkeringat, dan pucat. Gejala ini bisa timbul segera setelah trauma atau dapat berkembang dalam 1 jam, tergantung aktivitas penyelam selama dan sesudah penyelaman.


Alternobaric Vertigo
Merupakan barotaruma yang sangat jarang. Terjadi pada saat naik ke permukaan yang disebabkan karena perubahan tekanan tiba-tiba pada telinga tengah yang menyebabkan perangsangan ke telinga dalam dan menyebabkan vertigo. Vertigo ini hanya sebentar dan tidak memerlukan penanganan dapat membuat penyelam panik, yang dapat mengakibatkan tenggelam, kerusakan paru, atau emboli udara, atau trauma lain yang sangat serius.
Gejalanya yaitu kehilangan orientasi terhadap sekeliling dan tiba-tiba mual sekali. Pencegahannya yaitu:

  • Jangan memaksakan diri bilamana rasa sakit menetap.
  • Jangan melakukan penyelaman terlalu dalam dan hentikan penyelaman.
  • Jangan menyelam sewaktu kepala sakit/pusing.

Bila mengalami hal ini berhenti atau berpegang pada sesuatu sampai perasaan itu hilang. Jangan muncul kepermukaan selama masih ada reaksi dan bernapas dengan wajar.


Aerogastralgia (Gastrointestinal Barotrauma)
Hal ini sering terjadi pada penyelam yang masih baru. Karena saluran pencernaan lunak, adanya gas di dalam usus selama turun ke dalam tidak menyebabkan barotaruma. Tetapi adanya pengumpulan gas selama di kedalaman akan menyebabkan barotrauma pada saat naik. Hal yang mengakibatkannya yaitu:

  • Manuver Valsava yang berlebihan, atau yang berulang-ulang terutama pada posisi kepala di bawah yang mengakibatkan udara terdorong ke lambung.
  • Mengunyah permen karet selama penyelaman.
  • Memakan banyak ubi-ubian atau minum minuman berkarbonasi sesaat sebelum menyelam.

Gejalanya yaitu rasa penuh pada perut, sakit pada perut, sering bersendawa, atau buang angin. Hal yang serius jika terjadi perangsangan saraf yang menyebabkan jantung lemah berkontraksi dan penekanan pada vena oleh usus, tapi hal ini jarang.

Squeeze Kulit
Squeeze kulit jarang terjadi. Jika pada area kulit penyelam ada kumpulan udara yang terperangkap pada lipatan/lekukan dry suit. Selama penyelaman tekanan negatif terjadi pada area tersebut, sehingga menyebabkan pembuluh darah kapiler kulit pecah dan darah keluar mengisi ruang tekanan negatif. Kulit berwarna kemerahan. Tidak memerlukan perawatan dan sembuh dalam beberapa hari/minggu.


Pengaruh Tekanan Sewaktu Muncul ke Permukaan

Pengembangan Paru Melewati Batas, Pulmonary Barotrauma of Ascent (Pulmonary OverPressurization Syndrome) atau POPS
Pengembangan melewati batas pada paru-paru dapat terjadi pada penyelam yang menyelam yang melewati tekanan lebih, dengan menahan napas tiba-tiba muncul di permukaan yang lebih rendah, yang akan memecahkan alveoli (ingat hukum Boyle).
Gelembung akibat pecahnya alveoli bergerak ke bagian tubuh lain dan gejalanya tergantung dari lokasi dan volume udara yang masuk. Manifestasinya yaitu:

  • Mediastinal emphysema
  • Subcutaneous emphysema
  • Pneumothorax
  • Emboli udara

Biasanya penyelam melakukan hal ini karena kehabisan udara, panik, mengalami bouyancy positif secara tiba-tiba seperti melepas sabuk pemberat atau inflasi BC secara cepat.
Hal ini mengingatkan penyelam untuk bernapas secara wajar dan tidak boleh menahan napas saat muncul ke permukaan dan ini berlaku untuk penyelam yang memakai peralatan scuba.

Mediastinal Ephysema
Manifestasi pengembangan paru yang melewati batas yang paling sering yaitu mediastinal emphysema. Gelembung dari paru-paru yang pecah, masuk ke rongga antara paru-paru di dekat jantung dan tenggorokan.
Gejalanya yaitu sakit di daerah dada karena udara menekan jantung, sesak napas, atau sakit pada saat makan. Dapat pula pingsan.
Penanganannya yaitu konservatif, meliputi istirahat, pemberian oksigen, sedangkan rekompressi dilakukan jika sangat parah. Hindari penerbangan selama fase penyembuhan.

Subcutaneus Emphysema
Dari daerah mediastinum gelembung-gelembung udara bergerak naik ke daerah leher, di bawah kulit di sekitar leher, kalau dipegang maka kulit terasa pecah.
Gejalanya yaitu sakit dan sulit bernapas pada bagian yang terkena, napas pendek dan cepat, udara dapat menekan jantung dan pembuluh darah menyebabkan kebiruan.
Penanganan sama dengan diatas. Udara dibung dengan memasukkan jarum dibawah pengawasan ahli.
Pneumothorax
Jarang sekali terjadi, jika terjadi berarti paru-paru pecah, seperti meletus dan gelembung udara langsung memenuhi rongga udara antara paru-paru dan selaput paru (pleura).
Gejalanya yaitu sakit dada, karena udara menekan paru-paru yang terkena.
Dalam kasus yang parah dapat terjadi tension pneumothorax, yaitu pneumothorax yang sangat besar dan membuat paru-paru yang terkena kolaps karena tekanan yang tinggi. Ini merupakan keadaan darurat. Gejalanya yaitu sakit dada yang berat, pengembangan dada tidak sama yaitu paru yang terkena agak tertinggal, dan adanya penekanan ke trakea menjadi tidak lurus. Biasanya terjadi penekanan jantung sehingga cepat pingsan.
Penangan yaitu sama dengan emboli udara. Tetapi sebelum dilakukan rekompressi maka udara yang ada di rongga dada harus dikeluarkan dengan memasukkan jarum oleh atau dengan pengawasan ahli.

Emboli Udara
Adalah pecahnya dinding alveoli yang menyebabkan udara masuk dalam peredaran darah, akibatnya terjadi penyumbatan peredaran darah oleh gelembung-gelembung udara langsung dari paru-paru.
Misalnya, jika penyelam naik ke permukaan dari 100 FSW, udara dalam paru mengembang 4 kali volume awal. Jika tidak dikeluarkan, maka menekan paru dan alveoli pecah bersaamaan dengan pecahnya pembuluh darah. Udara terbawa ke kapiler paru dan dibawa ke ventrikel kiri, kemudian di pompa kesuluruh tubuh lewat arteri. Adanya kumpulan udara dalam arteri akan membentuk sumbatan sehingga jaringan kekurangan oksigen. Jika otak mengalami hal tersebut maka akan berakibat kematian.




Gejalanya yaitu lemas, pusing, kelumpuhan/ kelemahan yang hebat, gangguan penglihatan, nyeri dada, kejang-kejang dan pingsan, terkadang disertai busa bercampur darah di mulut.
Penanganannya adalah sebagai berikut.

  • Tempatkan korban dengan posisi kepala dibawah, miring 15o pada bagian kiri badannya.
  • Gunakan oksigen, bila tersedia. Hal ini membantu mengecilkan gelembung-gelembung udara dan memberikan suplai oksigen ke otak.
  • Masukkan ke ruangan rekompressi jika tersedia, hal ini untuk mengurangi besarnya gelembung-gelembung sehingga melancarkan peredaran darah ke otak.
Pencegahan emboli udara yaitu penyelam harus bernapas secara wajar saat memakai peralatan scuba dan tidak menahan napas saat muncul ke permukaan, keluarkan napas secara terus menerus. Napas harus dikeluarkan minimal 10 feet terakhir dari permukaan.


2. Efek Tidak Langsung Tekanan

Oxygen Toxicity (Keracunan Okisgen)
Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme. Oksigen yang dihirup adalah 1/5 dari semua oksigen yang ada. Bila campuran gas yang dihirup terdiri dari O2 20 % maka oksigen yang terpakai oleh tubuh adalah hanya 4 % nya sedangkan 16 % dihembuskan.
Meskipun dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan tekanan parsial oksigen menyebabkan keracunan. Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan yang tinggi pada penyelaman meningkatkan tekanan parsial oksigen.
Pada kedalaman 40 m (5 ATA), maka penyelam akan menghirup tekanan O2 1 ATA atau O2 100 % seperti menghirup udara murni di permukaan. Oksigen yang tinggi menyebabkan terlalu cepatnya proses metabolisme, merusak protein tubuh dan syaraf. Hal dapat terjadi pada penyelam yang menggunakan Nitrox.
Manifestasi gejala pada pernapasan yaitu batuk dan rasa sakit saat bernapas, pada sistem saraf pusat gejalanya yaitu pelintiran pada otot muka sekitar bibir, gangguan penglihatan, mual, banyak berkeringat dan kejang. Apabila terjadi di air maka berakibat fatal.



Penanganannya dengan diberikan udara segar, jangan oksigen murni.
Oleh karena itu jangan menyelam terlalu dalam dan gunakan udara biasa yang bersih bukan O2 murni.
                                                                                                  
Narcose (Pembiusan oleh Nitrogen)
Merupakan bagian terbesar dari udara yang dihirup oleh manusia. Di permukaan nitrogen merupakan gas lambat (inert gas) dan secara kimia tidak bercampur dalam darah. 
Nitrogen melarutkan oksigen dalam campuran udara dan menjadikan udara aman untuk bernapas. Nitrogen diserap dan disimpan dalam tubuh karena inert. Maka dengan inilah alasan utama mengapa penyelam scuba bila muncul ke permukaan harus perlahan.
Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan parsial oksigen meningkat saat menyelam. Nitrogen memiliki efek euforia (suasana senang berlebihan) yang meningkatkan kepercayaan diri, dan mengurangi kognisi dan penilaian situasi sehingga menyebabkan teknik menyelam kacau yang bisa fatal bagi penyelam. Biasanya terjadi mulai kedalaman 70- 100 feet tapi setelah kedalaman 100 feet semua penyelam akan mengalami keracunan.
Pada penyelam scuba, gejalanya berupa kepala terasa ringan, euforia, perasaan gamang, dan kelainan sensorik. Gejala memburuk jika semakin dalam. Pada kedalaman 100 FSW, penyelam semakin keracunan, dengan gejala berkurangnya penilaian, rasa percaya diri meningkat, dan reflek yang menurun. Pada kedalaman 250-300 FSW, terdapat halusinasi lihat dan dengar dan pandangan gelap. Penyelam akan tidak sadar pada kedalaman 400 FSW. Hal ini sering disamakan dengan minum Martini (minuman alkohol).



















Oleh karena itu penyelam scuba dengan udara kompresi tidak boleh menyelam lebih dari 100 FSW. Jika ingin menyelam lebih dalam gunakan Heliox.
Jika terjadi gejala diatas pada kedalaman 70-100 FSW naiklah ke permukaan dan istirahat atau ke kedalaman lebih dangkal sampai gejala menghilang. Hindari menyelam terlalu dalam dan kenalilah kemampuan diri dan pelajari gejala-gejala tersebut.


























Narcose (Pembiusan oleh Nitrogen)
Merupakan gas buang tubuh manusia. Jika menyelam dengan menahan napas (skin diving) maka kadar CO2 di tubuh akan menumpuk. Bila penumpukan tersebut mencapai kadar 4 % maka penyelam harus menghembuskan napas. Bila penyelam skin menahan napas dapat keracunan CO2 (hiperkapnea).
Pada penyelam scuba hal ini dapat terjadi, misalnya karena malfungsi regulator. Pada penyelam closed circuit , kegagalan absorpsi CO2 oleh absorber dapat menyebabkan keracunan. 
Pada permukaan konsentrasi dengan CO2 5-6 % mengakibatkan sesak napas, napas cepat, dan pusing. Pada kadar 10 %, tekanan darah turun menyebabkan pingsan. Bila kadar 12-14 % terjadi depresi pernapasan dan saraf pusat yang mengakibatkan kematian. Keracunan CO2 kerentanan terhadap narkosis nitrogen, keracunan oksigen dan penyakit dekompresi karena menyebabkan pelebaran pori pembuluh darah.
Gejalanya yaitu konsentrasi berkurang, kontrol otot menurun dan fungsi motorik terganggu serta kelelahan lalu pingsan.





















Penanganan dengan cara memberikan udara yang segar, dan bila ada O2 murni. Untuk menghindari bernapaslah secara wajar, hindari suplai udara yang tidak bersih serta peralatan yang tidak baik.


Penyakit Dekompresi (Decompression Sickness)



Berbeda dengan emboli udara, Decompression sickness terjadi dimana terbentuknya gelembung udara di dalam darah tanpa mengalami pecahnya alveoli paru.
Gejalanya lambat dibanding emboli, karena gas ini terbentuk di pembuluh darah yang menyebabkan matinya sel-sel di jaringan secara perlahan.
Pencegahannnya: Menyelam menggunakan tabel dekompressi . Angkatan Laut dan penyelam komersil seluruh dunia telah membuat tabel selam berdasarkan kalkulasi. Oleh karena itu setiap penyelam harus bisa membac tabel selam. Yang dipakai umumnya adalah U.S. Navy Standard Air Decompression Tables

Efek dan Bahaya Lingkungan Selam Non Tekanan pada Tubuh



Fungsi tubuh manusia berfungsi dengan baik dalam suhu internal dengan kisaran pendek. Suhu tubuh normal 98.6°F (37°C) dan dipertahankan oleh tubuh, ditambah dengan pakaian dan mengatur suhu udara di lingkungan bila cuaca terlalu panas atau dingin. Sebelum melakukan selam ulang sebaiknya tubuh dipanasakan karena absorpsi nitogen meningkat bila suhu tubuh turun. 

Sunburn (Terbakar Matahari). 
Kenyamanan suatu kegiatan penyelaman adalah sangat mutlak bagi penyelam. Penyelaman di atas Ruber (Sekoci Karet) di bawah teriknya matahari sangatlah tidak menyenangkan. Untuk menghindari diri dari terik matahari diperlukan pakaian yang dapat meredam panas.Pada saat snorkeling juga dapat tertimpa terik panas matahari. Gunakan vaselin pelindung kulit karena panas dapat melindungi kulit. Panas juga dapat meningkatkan metabolisme sehingga tenaga penyelam cepat habis. Gunakan sunblock, semakin tinggi angka UVF semakin efektif, tetapi gunakanlah sunblock yang tahan lama oleh air dan keringat.





Heat Exahaustion/Heat Stroke (Tersengat Matahari)
Seorang penyelam snorkeling yang berada di bawah terik matahari dapat meningkatkan suhu badan penyelam. Apabila kepanasan dibiarkan begitu saja berakibat heat exhaustion/heat stroke. Suhu badan yang meningkat, kulit kering, napas cepat dan pendek mengakibatkan heat stroke dan biasanya diawali dengan heat exhaustion. Gejalanya adalah gelisah, pucat, mual, berkeringat dan denyut nadi lemah. Untuk menghindari ini berlindung di tempat teduh, pemakaian perahu kapal yang ada tempat berteduh sangat efektif. Minum air untuk mencegah dehidrasi jika waktu menyelam masih lama. Gunakan pakaian yang tidak menyerap panas (yang baik berwarna putih). Dapat pula dicegah dengan membasahi topi atau rambut dengan air.


Hipotermia (Kehilangan Panas Badan). 
Kondisi medan penyelaman dapat membuat keadaan yang tidak nyaman. Terutama perairan yang dingin, penyelam dapat menggigil dan dapat terjadi hipotermia yaitu kehilangan panas badan.Pemakaian pakaian selam yang sesuai sangat diperlukan, apalagi daerah perairan yang dingin atau penyelaman dalam. Kedinginan yang amat sangat akan berakibat kelelahan karena metabolisme tubuh banyak dipakai untuk menghasilkan panas. Bila terjadi dalam air, hentikan penyelaman dan naik ke permukaan lalu istirahat. Pulihkan suhu badan dengan menghangatkan tubuh.




  • Mabuk Laut. Mabuk laut terjadi sebagai akibat dari hilangnya keseimbangan tubuh karena kondisi yang tidak sehat. Gejalanya mual, lemas, berkeringat dingin, pusing dan muntah. Pencegahannya jika kondisi tidak sehat jangan menyelam, istirahat yang cukup, tempat yang tenang, dan udara segar.
  • Dehidrasi. Dehidrasi biasanya terjadi pada penyelam di zona daerah tropis. Dehidrasi adalah hilangnya air dari tubuh  yang disertai dengan ketidakseimbangan elektrolit darah seperti natrium, kalium, dan klorida. Penyebabnya yaitu banyaknya keringat yang keluar atau lama bernapas dengan udara kering/tidak lembab. Berat tubuh dan gradien tekanan hidrostatik yang diimbangi tekanan air sekitar penyelam mebuat darah banyak terkumpul di vena kaki. Hali ini menyebabkan urinasi yang berlebihan dan berakibat dehidrasi. Udara yang digunakan merupakan udara kering sehingga penguapan air diparu-paru semakin besar. Dehidrasi dapat menyebabkan penyelam rentan terhadap decompression sickness. Penyelam harus banyak minum selama penyelaman.

Ancaman dan Bahaya Lain


Aspek Kejiwaan
Kenapa kebanyakan orang takut kedalam air, jawabnya adalah manusia adalah makhluk darat yang terbiasa sejak kecil selalu di daratan. Setelah belajar dan bisa berenang maka akan meningkatkan kepercayaan diri terhadap dalamnya air.

Kepanikan adalah hal yang biasa bagi penyelam baru. Terbiasa di lingkungan kolam dengan suasana nyaman kemudian berganti lingkungan laut luas dengan dalam tidak terukur dan gelap.
Bila mengalami masalah apapun di dalam penyelaman jangan panik, tetap melakukan sesuatu sesuai prosedur dan jangan mengambil langkah pintas. Bila patner dive kita panik bicaralah dengan isyarat tangan supaya tidak panik dan membantu masalah yang dialami. Kenali medan penyelaman sebelum memulai penyelaman.

Kram
Pemanasan yang kurang sebelum menyelam dapat menyebabkan kram. Otot terasa tertarik dan sakit. Lakukan pemanasan yang cukup untuk memulai suatu penyelaman. Untuk mengatasi kram perlahan-lahan kendorkan otot yang terkena dan bergerak perlahan. Jangan panik jika hal ini terjadi. 

Carotid Sinus Reflex
Carotid sinus reflek terjadi karena sirkulasi pernapasan yang tidak baik sehingga suplai darah ke otak berkurang atau tekanan yang kuat pada sinus carotid (leher). Gejalanya sakit kepala, perasaan tidak enak, dan mata terlihat melotot. Kendorkan pakaian yang menyebabkan tekanan, gunakan pakaian yang nyaman dan tidak ketat.


Pernapasan Memburu
Bentuk pernapasan yang berbahaya yang timbul karena memaksakan diri, kelelahan, kedinginan, takut dan panik. Semua itu menimbulakan pernapasan yang cepat dan pendek-pendek, sehingga udara yang masik dan keluar hanya di jalur atas pernapasan. Akibatnya pergantian O2 dan CO2 tidak efisien karena sirkulasi yang tidak baik, penyelam akan kesulitan mengambang dan berenang bahkan pingsan.
Setiap penyelam harus menguasai keadaan dan bernapas secara wajar serta mampu untuk dapat beristirahat di permukaan atau mengapung. Disini di perlukan water trafen dan floating.

Kadar Gula Darah Rendah/Hipoglikemia
Tubuh manusia merupakan mesin pembakaran yang memerlukan ± 100 kalori perjam untuk pekerjaan ringan dan untuk menyelam diperlukan 800 kalori. Glukosa merupakan penyumbang energi selain protein dan lemak. Glukosa merupakan sumber energi utama otak.

Hipoglikemia adalah kadar gula darah yang rendah di dalam darah. Dengan membiasakan makan secara teratur sebelum menyelam dapat menghindari kekosongan perut, yang menyebabkan hipoglikemia.
Gejalanya yaitu pusing, mual muntah. Bisa disertai rasa lapar, mati rasa, menggigil, pingsan dan kejang. 

Kondisi Fisik Penyelam
Kondisi fisik yang sehat merupakan keharusan bagi penyelam dalam melakukan penyelaman. Bila badan terasa sakit tundalah menyelam. 
Selalu tingkatkan daya tahan tubuh dengan olahraga lari dan berenang dengan fins yang merupakan kebutuhan individu penyelam. Olahraga tersebut harus dilakukan secara rutin sehingga tercapai kondisi prima.

Minuman Alkohol
Seorang penyelam yang minum alkohol dapat mengganggu pertukaran gas pada jaringan tubuh. Sebaiknya hindari minuman beralkohol.

Penerbangan
Tekanan kabin pesawat komersial (pressurized cabin) sama dengan tekanan di ketinggian 5000 to 8000 feet, dimana nitrogen yang terlarut di dalam darah menjadi kumpulan udara dalam pembuluh darah. Tekanan kabin juga tergantung umur dan pemeliharaan pesawat. 
Penyelam boleh terbang walaupun dengan pesawat pressurized cabin sedikitnya 12 jam setelah penyelaman tanpa dekompresi (no-decompression diving). Pada penyelaman dekompresi hindari penerbangan sedikitnya 24 jam setelahnya.
Hindari penerbangan yang melebihi 8000 feet (jika tanpa pesawat pressurized cabin),  dan tunggu 24 jam untuk semua penyelam yang menggunakan udara kompresi.

Aspek Pengisian Kompressor

Untuk mengisi tabung udara scuba dibutuhkan peralatan lain yaitu kompressor pengisian tabung tekanan tinggi. Penyelam harus dapat mengoperasikan kompessor mesin kompressor secara benar, memperhatikan keadaan lingungan sekitar. Daerah pengisian yang bagus yaitu lokasi yang berudara sejuk /segar.
Perhatikan arah angin pada saat pengisian dengan menempatkan posisi knalpot kompressor searah angin. Hal ini untuk menghindari polusi udara knalpot masuk ke kompressor pengisian. Bila hal itu terjadi, maka tabung udara yang diisi akan tercampur gas karbonmonoksida. 

Keracunan Karbon Monoksida
Karbondioksida merupakan gas yang tidak berwarna, bersifat sangat toksik karena mengikat Hb 200 kali lebih kuat dari oksigen. Sehingga kadar oksigen darah turun.
Keteledoran penyelam yang mengisi tabung udara berakibat fatal bagi penyelam yang memakai tabung tersebut. Gas CO yang masuk ke dalam kompressor dan diteruskan ke tabung udara akan menyebabkan keracunan. 





Gejalanya adalah pusing, mual, lemas, bahkan pingsan.
Berikan udara segar/O2 murni bila tersedia dan istirahat selama 24 jam setelah pengobatan.

Lipid Pneumonia-up Oli
Bercampurnya oli kompresor dengan udara yang diisikan tabung scuba mengakibatkan pencemaran udara. Apabila udara yang tercemar tersebut dipakai penyelam maka akan menjadi radang paru-paru.
Perlu penggantian filter kompressor secara rutin. Perhatikan ketentuan penggantian filter yang telah ditentukan, untuk pengisian tabung dibuatkan catatan


Penyelamatan



Apabila melihat rekan selam yang mengalami kesulitan di dalam air sesegera mungkin memberikan pertolongan dengan terlebih dahulu mengamati kesulitannya. Yang perlu diperhatikan adalah penyelam yang mengalami kepanikan. Untuk itu lakukan teknik mendekati penyelam sebagai berikut:
  • Mendekati korban dengan isyarat/teriakan agar tenang.
  • Setelah dekat dengan korban katakan pesan yang menenangkan. Seperti “ Oke saya akan membantu,  kamu tenang dulu”.
  • Meraih power inflator house dan kembangkan BCD.
  • Tarik korban dari arah posis belakang dengan tetap memberikan pesan yang menenangkan.
  • Setelah dekat kapal/pantai lepaskan peralatannya.
  • Berikan bantuan untuk naik ke kapal/pantai.











Resusitasi Jantung Paru dan P3K



Untuk pertolongan orang tenggelam diperlukan kemahiran dalam pertolongannya. Latihan dan pengetahuan ahli medis sangatlah dibutuhkan untuk dapat mengatasi hal tersebut.
Bila korban tenggelam tindakan pertama adalah membawa korban ke tempat yang aman (dapat dilakukan dalam air jika jarak ke kapal/darat jauh) dan periksa pernapasan. Bila tidak bernapas lakukan bantuan napas mulut ke mulut. Berikan awalan dua hembusan kemudian satu hembusan tiap lima detik. Panggil orang lain untuk menolong/ memanggil ambulan.
Setelah memberikan bantuan napas, periksa denyut nadi. Bila tidak terdapat denyut nadi maka harus dilakukan kompresi jantung cari luar.
Kompresi jantung dari luar harus dilakukan harus dilakukan oleh orang ahli/mengetahui cara. Seorang penyelam diharuskan mengetahui hal ini. Kompresi jantung dikombinasikan dengan pemberian napas mulut ke mulut. Berikan awalan dua hembusan dengan 30 kompresi. untuk penolong dua orang, awalan dua hembusan, dan 15 kompresi kemudian diulang sampai 3 siklus (hembusan + napas). Cek keefektifan kompresi dengan meraba nadi.








Pendarahan
Seorang yang mengalami pendarahan apabila tidak segera mendapatkan pertolongan berakibat fatal. Penyelam yang melihat korban karena pendarahan harus melakukan pertolongan awal .
Caranya yaitu:


  • Menekan luka dengan kapas dan pakaian. Dapat dilakukan di darat karena di air akan sia-sia.
  • Menekan pembuluh darah dengan jari sehingga darah berhenti keluar.
  • Dengan torniquet (melilitkan kain/apa saja) terutama pada daerah yang disebabkan pendarahan arteri yang besar.
 Dengan itu penyelam harus tahu letak pembuluh darah arteri sehingga darah yang keluar berhenti. Setelah di darat, tekan pendarahan dengan kapas atau pakaian yang kering.







Shock



Shock disebabkan kurangya aliran darah ke jaringan. Kurangnya darah bisa disebabkan karena pendarahan atau dehidrasi. Tandanya yaitu penderita apatis, gelisah, muka pucat dengan bibir kebiruan, keringat dingin, lemas, napas lambat, nadi cepat dan tidak teratur dan tekanan darah rendah dan beda sistol diastol < 20 mmHg. 
Penanganannya yaitu:
  • Pastikan mendapat udara segar/oksigen yang cukup.
  • Kontrol pendarahan
  • Naikkan kaki dan paha sehingga darah yang mengalir ke otak dan jantung meningkat walaupun sedikit. Tidak boleh menaikkan perut karena korban akan sulit bernapas. Pada trauma kepala dan dada lebih baik, bagian tubuh atas dinaikkan. Tetapi posisi yang baik adalah tetap telentang.
  • Korban jangan terlalu banyak bergerak. Fiksasikan.
  • Segera kirim ke petugas untuk mendapat perawatan lanjut. 

P3K



Setiap penyelaman sebaiknya kotak P3K selalu ditempatkan dekat dengan posisi penyelaman, sehingga bila sewaktu terjadi kecelakaan dapat segera memberikan P3K kepada korban. Keberadaan dokter sangat disarankan.
Sebelum menyelam kenali lingkungan setempat dan lokasi layanan kesehatan terdekat.


Survival di Laut



Survival berasal dari kata “ SURVIVE ”  artinya perjuangan untuk tetap hidup, secara global survival adalah tindakan yang paling awal bagi makluk hidup, untuk mempertahankan hidupnya dari berbagai ancaman, kejadian dimana makluk hidup, melakukan suatu tindakan untuk melindungi dirinya dari berbagai ancaman agar tetap hidup, makluk hidup yang berada dalam situasi survival disebut SURVIVOR (orangnya).

A. Faktor – faktor penyebab survival
1. Kehabisan perlengkapan dari suatu perjalanan /ekspedisi
2. Kecelakaan dalam suatu perjalanan/ekspedisi dengan pesawat udara atau kapal laut.
3. Tersesat disuatu daerah asing/rawan.
4. Lingkungan suatu daerah yang belum dikenal.
5. Hal-hal lain yang belum pasti (kekurangan pangan , oksigen dll).

B. Aspek psikologis pada situasi survival


  1. Membutuhkan tingkat ketahanan emosi dan kepercayaan sehingga dapat menyelesaikan  problem mempertahankan hidup.
  2. Menyadari akan kepentingan hidup, sehingga dapat mempertahankan hidup, maka perlu mengatasi beberapa problem dalam situasi survival.                                                                                        
C. Motivasi survival
Setiap problem pada situasi survival, harus dapat dihadapi dengan tenang dan disertai dengan sikap yang positip.

D. Faktor - faktor penting untuk tetap hidup
1. Adanya kemauan yang besar, untuk tetap hidup
2. Kondisi fisik dan alat-alat yang dapat membantu
3. Pengetahuan dan pengalama-pengalaman

E. Tekanan-tekanan yang timbul pada situasi survival
1. Stres mental dan fisik (panik, kelelahan, kurang tidur).
2. Ketakutan.
3. Rasa takut luka dan penyakit.
4. Rasa haus.
5. Rasa lapar.
6. Rasa panas dan dingin (karena cuaca)
7. Rasa bosan (masa bodoh, depresi, frustasi) dll.

F. Prioritas untuk menentukan tindakan dalam survival sangat penting karena kematian dapat terjadi
1. Tiga menit tanpa oksigen
2. Tiga jam pada kasus hypothermia dan pendarahan hebat.
3. Tiga hari tanpa air dan terjadi dehydrasi
4. Tiga minggu tanpa makanan yang berarti bagi tubuh kita


Pentingnya seorang penyelam mengetahui hal ini adalah untuk mengantisipasi kecelakaan seperti kapal tenggelam atau situasi yang menyebabkan penyelam tidak bisa kembali cepat ke daratan. 


 Jika situasi kapal tenggelam akan tenggelam hal yang harus dilakukan adalah:
  • Jangan Panik.
  • Siapkan sekoci atau perahu karet sebagai perahu pengganti. Jika tidak ada gunakan pelampung/ban karet. Minimal menggunakan sesuatu yang dapat mengambang diatas air seperti botol air minum/papan kayu/tong, dll.
  • Tidak membawa barang yang banyak. Jika terdapat alat komunikasi beritahu pihak yang berwenang bahwa kapal akan segera tenggelam dan diminta melakukan penyelamatan. Bawa makanan dan air seadanya, membawa minuman lebih baik karena botol setelah kosong dapat digunakan sebagai pelampung.
  • Sebelum kapal tenggelam di permukaan, harus telah berada di air dan berenang menjauh, karena kapal yang tenggelam membawa arus yang dapat membawa benda dari permukaan masuk ke dalam air.
  • Jika sudah bisa mengontrol diri dan merasa mampu, lakukan penyelamatan terhadap orang lain. Utamakan orang muda karena harapan hidup masih tinggi.
  • Bertahan di perahu/mengambang dengan bantuan pelampung. Jika hanya dengan menggunakan pelampung carilah sesuatu yang dapat membantu mengambang atau sebagai cadangan. Jika daratan sudah dekat cobalah berenang.
  • Untuk menghindari hipotermia. Pada perahu karet dapat dilakukan dengan saling mendekat membentuk kumpulan. Orang yang paling luar harus bergantian. Jika masih di dalam air yang dingin lakukan heat escape lessening posture (HELP) atau huddle position sehingga panas tubuh lambat dilepaskan.





  • Jika terjadi trauma atau pendarahan, segera lakukan penanganan.
  • Jangan meminum air laut karena nilai osmolaritasnya tinggi (1000 mOsmol/L), yang dapat menyebabkan tubuh semakin dehidrasi. Minumlah air tawar yang dibawa sedikit-sedikit atau es yang mengapung jika di kutub. Jika hujan minum dengan air hujan dan jangan lupa di tampung. Makan seadanya, dengan bekal yang dibawa atau makanan yang ditemui. Jangan memakan ikan yang mati terapung di tengah laut karena mungkin disebabkan racun. Hindari makan tanpa minum.
  • Rakit memberi bayangan di bawah laut, dan biasanya dapat menarik lumba-lumba sehingga dapat ditombak untuk dimakan.
  • Berikan tanda pada penyelamat dengan mengayunkan tangan atau dengan mengibarkan baju. Jika malam gunakan senter. Dilakukan sambil berteriak.
  • Untuk mengetahui arah gunakan matahari sebagai patokan dan bintang pada malam hari.



  Perhatikan tanda-tanda adanya daratan.
  • Banyak awan yang berkumpul di suatu tempat.
  • Banyaknya burung/kalong berarti daratan sudah dekat.
  • Pesawat yang terbang rendah.
  • Adanya garis berwarna hitam di ujung horison laut harus selalu diperhatikan walau bukan daratan tapi mungkin kapal yang berjalan. 
  • Walaupun itu pulau tanpa penghuni tetap berlindung karena harapan hidup survival di daratan tinggi.


Aspek  Pria
Perbedaan jenis kelamin membuat perbedaan fisiologi dan berpengaruh pada penyelaman.
  • Tubuh pria memiliki lemak kulit tipis dibanding  wanita sehingga mudah menjadi kedinginan.
  • Tubuh pria lebih panas dibanding wanita, sehingga jika di air yang dingin lebih banyak panas yang dikeluarkan.
  • Konsumsi udara lebih banyak karena volume paru besar.
  • Pria lebih membutuhkan banyak kalori daripada wanita.
  • Tubuh pria banyak berkeringat sehingga resiko dehidarasi meningkat.
  • Air terlalu panas atau dingin mempengaruhi fertilitas. Produksi sperma optimal sedikt di bawah suhu tubuh.
  • Lemak tubuh pria cenderung  banyak  di simpan di bagian  atas tubuh, hal ini menyebabkan kaki agak tenggelam dan memperlambat gerakan.
Aspek Wanita

Banyak wanita menjadi pionir dalam penyelaman. Beberapa peralatan selam ada yang khusus untuk wanita dengan perancangan khusus.
Ada beberapa aspek medis pada wanita yang berkaitan dengan penyelaman yang perlu diperhatikan:

Menarke
Pada saat menstruasi awal, tubuh wanita telah mencapai 95 % tinggi maksimal, dan mencapai tinggi akhir pada 1-2 tahun kemudian. Deposisi lemak sangat cepat pada umur 13-15 tahun. Kekuatan tubuh mencapai puncak umur 13 tahun kemudian tetap dan turun. Pada penyelaman hal yang menjadi masalah adalah peralatan selam yang berat.
Adanya kumpulan gas nitrogen pada pusat pertumbuhan tulang dapat menyebabkan tulang tidak tumbuh lagi.
Penyelam terlalu muda terlalu cepat menjadi hipovolemik (volume darah rendah). Anak perempuan lebih cepat kedinginan daripada wanita dewasa. Oleh karena itu pemakaian pakaian selam sangat dianjurkan.

Menstruasi
Hiu bukan ancaman, tidak ada bukti meningkatnya serangan hiu karena menstruasi. Jika mengalami peningkatan darah yang keluar (menorrhagia) sebaiknya jangan menyelam karena resiko anemia meningkat. Anemia menurunkan suplai oksigen tubuh.
Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa resiko terjadi DCS meningkat pada wanita menstruasi yang diterapi hiperbarik. Tapi belum diketahui apakah dalam penyelaman sama atau tidak karena masih dalam penelitian.
Penggunaan tampon selama menstruasi tidak akan memberikan efek buruk tekanan pada tubuh. Tapi di Indonesia penggunaan tampon terutama pada gadis jarang.
Jika ingin menyelam pada waktu menstruasi perhatikan apakah terjadi anemia dan lihat medan penyelaman bersih atau berpolusi. Perhatikan higienitas, privasi dan kenyamanan. Sebaiknya hindari menyelam.

PMS (Pre Menstrual Syndrome)
Adalah suatu kumpulan gejala yang berhubungan dengan perubahan hormon sesaat sebelum atau saat menstruasi. Jika parah, kepribadian dan perilaku antisosial dapat berpengaruh pada kerja tim diatas boat dan di dalam penyelaman.

Menopause dan Osteoporosis
Menopause adalah berhentinya menstruasi, biasanya terjadi pada umur 50 tahun. Osteoporosis biasanya mulai terjadi pada umur 60-65 dan patah tulang akibat ini mulai pada umur 70-75. Diving tidak berpengaruh terhadap aktivitas sel-sel tulang.
Sebaiknya jika pada wanita yang tua lebih baik jangan menyelam karena peralatan gear yang berat yang dapat menambah resiko patah tulang.

Hamil
Tidak ada data yang menyimpulkan diving pada ibu hamil dapat menyebabkan cacat lahir, hal ini dikarenakan penelitian untuk mengetahui efeknya tidak etik. Janin dalam kandungan punya resiko besar, terutama dapat terjadi DCS, hipoksia, dan peningkatan karbondioksida.
Tidak ada penelitian yang menentukan kedalaman yang aman dan profil waktu selam yang aman. Semakin besar kehamilan maka resiko yang terjadi semakin besar. Sebaiknya jangan menyelam. Jika kehamilan baru diketahui setelah beberapa saat menyelam, kontrol kehamilan sebaik mungkin. 

Setelah Melahirkan
Setelah melahirkan leher rahim menutup sekitar 21 hari sesudahnya, pada minggu-minggu lain tonus otot rahim mulai baik tergantung aktivitas ibu. Hal lain yang berpengaruh yaitu luka jalan lahir. Setelah melahirkan pervagina sebaiknya tunda penyelaman paling sedikit 4 minggu.
Setelah operasi cesar, biasanya dokter menyarankan beristirahat selama 4 minggu sebelum aktivitas penuh. Hal ini untuk mempercepat penyembuhan luka operasi dan bertambahnya darah. Jika dengan operasi cesar jangan menyelam paling sedikit 8 minggu.
Sebelum menyelam lakukan cek Hb, boleh menyelam jika Hb sudah di atas 10.

Menyusui
Di dalam air susu sesudah menyelam, dapat terbentuk gelembung gas nitrogen, tapi hal ini tidak akan membahayakan bayi karena akan segera masuk saluran pencernaan yang banyak gas.
Pembesaran payudara karena belum menyusui bayi dapat mengganggu dan terasa tidak nyaman ketika memakai peralatan selam. Hal ini dapat dihindari dengan memompa air susu sebelum menyelam. Air susu yang dipompa dapat disimpan di kulkas.
Dalam medan penyelaman banyak terdapat bakteri yang dapat menyebabkan luka pada puting susu yang lecet. Oleh karena itu jaga kebersihan puting.
Beberapa ahli berpendapat tidak menyelam selama bayi diberikan ASI eksklusif. 

Payudara
Sebuah studi pada silikon untuk payudara yang ditempatkan dalam tekanan hiperbarik yang diseseuaikan dengan profil waktu selam dapat meningkatkan gelembung gas sekitar 1-4 %, tapi belum cukup untuk memecahkan silikon. Hal ini belum diketahui pada payudara yang disuntik silikon.
Silikon lebih berat dari air sehingga mempengaruhi bouyancy. Hal lain yang dapat menjadi masalah adalah jika tidak cocok dengan peralatan selam, maka penyelaman menjadi tidak nyaman.



Sumber : 
USN Diving Manual 6th edition. Revised 2008
NOAA Diving Manual. Diving For Science and Technology
Pengetahuan Akademis Penyelaman SCUBA Diver. POSSI Jawa Tengah.
Wilderness Medicine. Paul S Auerbach. 2002.
Drowning and Resuscitation. American Heart Association. 2005.
Scubadoc.com



Lingkungan penyelaman

Medan Penyelaman
Mengadakan suatu kegiatan penyelaman disuatu daerah memerlukan pengenalan tehadap medan penyelaman. Untuk itu sebelumnya diadakan survei di daerah itu dengan melihat perubahan cuaca alam dengan membaca buku/daftar yang dikeluarkan BMG. Informasi dari penduduk setempatpun akan membantu survey tersebut dengan dengan demikian penyelaman aman dan nyaman.

Penyelaman Pantai
Untuk melaksanakan penyelaman pantai membutuhkan teknik entry yang harus dilaksanakan agar penyelaman dapan terlaksana dengan aman, nyaman, dan selamat. Untuk itu perlu diperhatikan keadaan pantai saat penyelaman yaitu:
Tikar alas
Peralatan selam yang disiapkan untuk penyelaman harus dihindarkan dari berbagai kotoran. Untuk itu diperlukan suatu peralatan tambahan tikar alas untuk menempatkan peralatan yang digunakan.
Alas yang diletakkan di tanah merupakan sarana yang baik untuk meletakkan tas perlengkapan dan jika terpaksa harus memakai pakaian selam di pantai pasir yang basah. Alas ini dapat berupa terpal dari bahan ringan dengan ukuran kira-kira 4 x 5 feet. Setelah selesai digunakan alat ini dapat dengan mudah dilipat dan disimpan dalam tas.  
Letakkan perlengkapan yang berat dekat dengan tepian air, tapi jauh dari garis batas pencapaian ombak, siapkanlah peralatan hingga siap pakai.
Apungan (Float).
Peralatan tambahan untuk keamanan penyelam di medan yang bergelombang adalah float yang diikat dengan tali yang dipegang penyelam. Jangan berusaha menaikinya, kecuali air sudah tenang. Teknik entry melewati garis gelombang, untuk kembali ke pantai, float harus di dorong di depan penyelam melewati garis gelombang.

Navigasi
Keterampilan bernavigasi dalam air sangat diperlukan bagi penyelam, dan merupakan bagian perencanaan penyelaman.
Bentuk Landas
Pengamatan bentuk landas di daerah penyelaman akan membantu penyelam dalam bernavigasi di dalam air.
Kerutan Pada Landas
Apabila landas yang berpasir akan terdapat kerutan pada landas, hal ini menandakan daerah tersebut dekat pantai, kerutan itu terbentuk karena arus yang menuju pantai.
Navigasi Jarak Jauh (ETA)
Untuk dapat bernavigasi di dalam air dengan jarak yang jauh diperlukan peralatan yaitu kompas. Seorang penyelam harus mahir di dalam air memakai kompas, dengan alat ini seorang penyelam dalam menuju sasaran akan lebih efektif dan efisien.
Jika menggunakan kompas sebaiknya menyelam menyusuri dasar dan terus menuju ke kedalaman. Menyusuri dasar yang landai untuk memudahkan usaha equalizing, dibandingkan menukik turun ke kedalaman dengan mengalami perubahan tekanan air dengan cepat. Mengendalikan arah di bawah air adalah hal yang amat penting, kompas digunakan untuk menentukan arah dari dan ke pantai, sehingga menghindari setiap kali muncul ke permukaan air untuk mengecek arah. Letakkan kompas di muka sedatar mungkin jika mengecek arah. Jarum kompas datar dipengaruhi oleh kumpulan logam, maka jangan menggunakan kompas terlalu dekat dengan tabung buddy. Jarak kompas tidak terpengaruh oleh logam adalah minimum 2-3 feet. Deviasi (kesalahan) kompas dapat terjadi, hal ini tergantung dari kekuatan magnetis dari jarum kompas itu sendiri. Tabung Scuba yang terbuat dari aluminium tidak mempengaruhi kompas.

Ada 3 jenis kompas yang digunak an untuk navigasi:
Dome Type
Merupakan kompas yang penunjuk arahnya menghadap terdekat kepada penyelam.
Flat atau Horizontal Type
Kompas yang mempunyai jarum petunjuk arah utara, dibac a melintasi muka kompas dan juga dilengkapi dengan "garis bidik lurus" yang digunakan untuk mengendalikan arah dengan cara mempertahankan jarum kompas tetap menunjukkan pada arah kompas yang dituju.
Kompas dengan Rotating Bezel
Jenis ini merupakan kompas yang paling efisien untuk navigasi karena dilengkapi dengan lingkaran tepi yang dapat diputar (rotating bezel). Lingkaran ini diberi tanda dan tanda ini dapat disetel sedemikian rupa hingga ditempatkan di atas jarum kompas sebagai pengendali arah. Setiap saat arah penyelaman dapat dicek dengan kompas jenis ini. Dengan memutar lingkaran tepi kompas atau membalik arah penyelaman 180o, penyelam dapat berenang kembali pada starting point semula. Sudut tubuh merupakan faktor terpenting. Berenanglah selurus mungkin jika menggunakan kompas yang dipakai di pergelangan tangan. 
Selain dengan kompas navigasi dapat dilakukan dengan melihat bentuk dasar laut.

Gelombang dan Ombak
Menyelam pada saat gelombang besar sangat membahayakan penyelam dan membuat jarak pandangan buruk. Untuk itu jangan menyelam saat gelombang besar. Bila menyelam di medan ini harus mengamati tinggi gelombang dan frekuensi ombak. Ombak yang disebabkan angin laut bergerak beralun-alun ke arah pantai. Di perairan yang dangkal ombak menjadi curam, ketinggiannya sama dengan daratan.
Rangkaian gelombang dapat terdiri dari 3-4 ombak normal yang disusul ombak yang besar. Ombak yang lebih besar ini merayap lebih jauh ke pantai dan mengalir kembali ke laut dengan daya yang lebih besar pula. Gelombang besar pertama dapat menimbulkan gelombang besar 1 atau 2. Gelombang pecah dipantai menunjukkan kedangkalan air di lokasi itu. Memilih waktu yang tepat adalah unsur terpenting dalam teknik entry medan gelombang dan ombak.
Aliran air kembali kelaut akibat dari gelombang yang memecah pantai disebut undertow, alirannya kembali kelau dengan jarak pendek dan melalui bawah gelombang yang sedang menuju pantai. Pantai yang curam memiliki undertow yang besar. Undertow dapat dengan mudah menjatuhkan penyelam yang membawa peralatan berat.

Foot Pocket Fins dengan mudah dapat terlepas di dalam undertow jika penyelam berdiri lama di garis gelombang (Surf line). Gunakanlah Heel Strap Retainer (Ikat Tumit Khusus) untuk mencegah Fins jenis ini terlepas. 

Teknik Masuk (Entry)
Daerah Berpasir
Untuk memulai penyelaman di daerah berpasir adalah dengan tenang masuk air dengan berpegangan tangan (buddy) untuk menjaga keseimbangan, jalan dengan mundur. Setelah air sedalam lutut balikkan badan, tengkurap dan bersama-sama snorkeling.
Untuk laut yang bergelombang tentukan waktu yang tepat saat masuk air, jangan berhenti di daerah garis gelombang, sekali jalan tetap jalan, masuk air diawali oleh satu penyelam dengan diawasi buddynya, memperhatikan buddy yang entry untuk dapat memberi bantuan yang diperlukan. 
Daerah Berbatu-Batu
Pemakaian boots merupakan keharusan apabila medan penyelaman berbatu, hal ini untuk menghindari terlukanya kaki dari batu tajam & renik hewan laut. Pemakaian sarung tangan diperlukan juga. Di daerah yang berbatu yang dekat dengan tepian air biasa ditumbuhi tumbuhan dan alga sehingga licin. Berhati-hatilah jika terdapat tumbuhan dikedalaman yang dangkal. Berenang lebih dahulu diatasnya, lakukan dengan santai untuk menghindari tersangkut tanaman.
   
Arus
Arus Pararel dengan Pantai
Angin yang bertiup pada suatu sudut pantai atau bertiup ke arah laut mengakibatkan air bergerak pararel menyusuri garis pantai, ini disamakan dengan pararel dengan garis pantai (longshore curcent).
Seorang penyelam harus mewaspadai arus tersebut dengan  mengusahakan selalu memakai penyelaman pada hulu arus. Dengan demikian penyelam dapat terbawa arus dengan santai, ketitik muncul (exit).
Arus Celah
Merupakan arus kencang, dan disebabkan karena terbentuk semacam celah, bagaikan sungai yang mengalir ke laut yang disebabkan balikan gelombang besar. Serta dapat disebabkan karena pantai terdapat daerah yang rendah yang membuat air kembali ke laut.
Pada daerah arus biasanya keruh/berlumpur, hindari menyelam di tempat tersebut, bila terperangkap arus ini, berenanglah pararel dengan santai hingga terasa bebas, atau membiarkan hanyut sampai terbebas dari arus tersebut. Biasanya pada jarak 100 yard arus tersebut menghilang.
Di beberapa daerah karang dan batu-batu dapat timbul arus celah alamiah (Natural Rip Current), arus tersebut timbul diantara (crevice) & formasi landas serta saluran yang menembusi karang, arus ini berubah tergantung pasang surut.
Arus Pasang
Pasang surut di daerah tertentu merupakan peranan penting terhadap arus dan kejernihan air. Biasanya pada saat pasang air akan lebih jernih. Pasang surut di belahan bumi bagian barat pergantiannya terjadi tiap 6 jam, didasarkan pada putaran bumi dan bulan.
Kira-kira setiap 2 minggu sekali yaitu saat terbit bulan berada di dekat bumi, maka terjadi perubahan lebih besar pada pasang surut, berakibat gelombang yang besar. Dalam periode sebaliknya, karena pengaruh gaya tarik-menarik bulan berkurang pada pasang surut, dinamakan pasang mati reda (neap tide) dan saat inilah terbaik untuk menyelam.

Termocline
Perbedaan suhu antara permukaan laut  dan di dalam air sangat berpengaruh terhadap tubuh penyelam. Di dalam air terdapat lapisan air yang berbeda suhunya disebut termocline. Semakin dalam menyelam akan semakin dingin, flora dan fauna berkurang untuk itu diperlukan pemilihan pakaian pelindung yang sesuai.

Teknik Keluar (Exit)
Daerah Berpasir
Ketepatan memilih waktu (timing) merupakan faktor yang penting baik untuk entry atau exit. Berenang di bawah air lebih efektif daripada snorkeling di permukaan. Perhatikan hempasan ombak dan gelombak dan selalu membiarkannya, jangan sekali-kali menentang. Setelah mendarat, secepatnya bergerak di luar batas air, bahkan lebih baik lebih jauh dari pantai karena kemungkinan gelombang yang berikut akan lebih besar datangnya dan berkemas ke tempat yang aman.
Daerah Berbatu-Batu
Tekniknya tidak jauh seperti daerah berpasir, ketenangan merupakan hal yang menentukan. Ikuti hempasan dan bertahan dengan berpegang apa saja di dasar laut (bottom holding), untuk menunggu saat exit yang tepat.

Penyelaman Tengah Laut
Kondisi di tengah laut berbeda dengan pantai, ombaknya cenderung merata dan tidak bergerak ke arah tertentu saja. Dasarnya cukup dalam sehingga bisa membuat penyelam lebih mudah melakukan entry.
Boat
Perahu merupakan kebutuhan mutlak dalam penyelaman di tengah laut karena kondisi medan jauh dari daratan.
Teknik Entry
Timing merupakan faktor utama untuk entry. Perhatikan arah gelombang dan pergerakan kapal sebelum entry. Jangan ragu-ragu waktu masuk ke dalam air. Caranya akan dibahas di teknik scuba diving. 
Teknik Exit
Timing juga merupakan faktor utama. Yang harus diperhatikan adalah arus gelombang yang dapat mempengaruhi bergeraknya penyelam dan boat. Untuk itu penyelam harus mendekati boat dan kemudian berusaha mencapainya. Jangan melewati daerah belakang boat karena baling-baling kapal cukup tajam. Caranya akan dibahas di teknik scuba diving.

Penyelaman Air Tawar
Berbeda dengan air laut, air tawar memberikan gaya apung lebih sedikit sehingga penyelam harus menyesuaikan boyancy. Jika di danau yang tidak terlalu luas, biasanya jarang terdapat gelombang. Sungai yang alirannya deras sangat berbahaya dan memerlukan peralatan dan teknik selam khusus. Arus sungai yang tidak berbatu biasanya paling kuat di daerah tengah, sehingga penyelam rawan terbawa arus. 
Boat
Tergantung kondisi perairan, semakin jauh dari daratan maka sebaiknya gunakan boat.
Teknik Entry
Jika medan penyelaman berupa danau teknik entry bisa sama dengan penyelaman tengah laut bila penyelaman langsung dilakukan di tengah. Jika dimulai dari tepi bisa sama dengan di daerah pantai. Pada sungai dengan arus deras harus dilakukan secara perlahan, yang paling baik melalui daerah pinggir karena arus cenderung pelan.   
Teknik Exit
Sangat sulit jika terkena arus di sungai. Tapi jika memakai peralatan khusus seperti tali pemandu akan lebih mudah. Jangan berusaha melawan arus, tapi berusaha bergerak ke arah tepi sehingga mudah keluar dari dalam air.

Cuaca Penyelaman
Demi keselamatan penyelaman, maka penyelam harus mengetahui kondisi dan ramalan cuaca yang akan terjadi pada saat penyelaman. Untuk di Indonesia, situs BMG menyediakan data-data mengenai cuaca di beberapa kota. Bisa juga menghubungi penduduk lokal setempat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi cuaca yaitu sinar matahari, komposisi atmosfer terutama penguapan air, dan topografi daratan.

Awan
Awan terbentuk dari penguapan air dan terkumpul di atmosfer. Kabut merupakan jenis awan yang paling rendah.
Setiap penyelam harus mengetahui jenis-jenis awan karena masing-masing jenis menggambarkan keadaan cuaca. Awan terbagi menjadi empat berdasarkan tinggi, bentuk, dan prespitasi (terbentuknya butir air).
  1. High clouds. Yaitu awan yang tinggi dimana terbentuk diatas 6000 m (20000 feet) dinamakan cirrus. Karena suhu diatas sangat dingin, air yang ada di awan biasanya berbentuk es. Ada 3 bentuknya yaitu cirrus yaitu cirrus, cirrocumulus, dan cirrostratus. Bentuknya tipis.
  2. Middle clouds. Terletak di ketinggian 2000-7000 m (6500 -25000 feet).  Mempunyai prefiks alto-. Bentuknya yaitu altocumulus dan altostratus.
  3. Low clouds. Terletak di ketinggian dibawah 2000 m (6500 feet). Karena letaknya rendah, maka air dalam awan ini dalam bentuk butiran-butiran, tapi jika cuaca sangat dingin dapat terbentuk es dan salju. Mempunyai prefiks strato- atau suffiks ?stratus. Terdiri dari nimbostratus, stratocumulus, dan stratus.
Ada juga awan yang berkembang secara vertikal, dari ketinggian rendah sampai tinggi (500-18200 m [1600-60000 feet]) yang disebut kumulus. Awan kumulus ini berkembang dari mulai cumulus congestus, sampai dengan yang paling besar yaitu cumulonimbus.
Awan yang mempunyai prefiks nimbo- atau suffiks ?nimbus berarti awan itu berkaitan dengan presipitasi yang dapat mendatangkan hujan. Yang dapat menyebabkan badai besar yaitu awan cumulonimbus.

Berikut ini beberapa tips cuaca dengan melihat awan dan angin:
  • Langit biru dengan awan cirrus, dengan awan kumulus kecil-kecil, angin lambat sampai sedang, dan awan terlihat tetap dan sedikit turun menandakan cuaca yang bagus.
  • Tumpukan awan rendah (cirrus diikuti cirrostratus, altostratus, dan nimbostratus), suhu meningkat, disertai angin yang berhembus dari tenggara atau selatan, dan awan kemudian terlihat naik, menandakan badai/hujan.
  • Awan kumulus kongestus, yang kemudian bergabung menjadi kumulonimbus, dan disertai dengan angin dingin, maka ini menandakan badai yang besar.
Angin
Angin merupakan pergerakan udara yang bergerak dari tempat tekanan tinggi ke tekanan rendah. Tempat dengan tekanan tinggi biasanya bersuhu dingin, begitu pula sebaliknya.
Di pantai terdapat dua arah angin yang gerakannya menetap. 

Pada siang hari, daratan lebih cepat panas daripada air sehingga diatas daratan tekanan udara cenderung negatif, maka udara bergerak dari lautan ke darat sehingga disebut angin laut.
Pada malam hari, laut lambat mengeluarkan panas daripada daratan. Diatas laut tekanan udara cenderung negatif, sehingga udara mengalir dari darat ke laut sehingga disebut angin darat.
Bagi penyelam hal ini sangat penting terutama saat menggunakan perahu layar atau saat survival.

Badai 
Badai yang terjadi tengah laut, dapat berakibat lautan mengganas, untuk itu waspadailah terhadap cuaca di daerah penyelaman tersebut. Ciri-ciri akan terjadi badai adalah adanya awan cumulonimbus yang besar dan bergerak ke arah kita.


Flora dan Fauna Laut
Sekitar 2/3 luas bumi adalah laut. Laut memiliki kedalaman rata-rata 3 km. Yang paling dalam adalah laut barat samudra pasifik dengan kedalaman 11 km. 
Air laut memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang berbeda denga air tawar. Ini dikarenakan berbedanya komposisi zat di dalam air. Garam dalam air laut sekitar 3.2%- 3.5%.

Berdasarkan tembus tidaknya cahaya matahari, laut dibagi menjadi dua zona. Zona fotik yang masih dapat ditembus cahaya dan fotosintesis masih dapat terjadi. Zona fotik biasanya hanya beberapa ratus meter dari permukaan. Zona yang tidak tembus cahaya di sebut zona afotik (abissal). 
Para ahli ekologi membagi laut menjadi tiga zona berdasarkan dengan lempeng benua menjadi:
Zona Intertidal
Yaitu bagian pasang surut, dimana bagian ini secara periodik terisi oleh air pada saat pasang. Biasanya pada pesisir pantai. Organisme yang sering terdapat pada zona ini biasanya alga, anemon laut, kepiting, kerang, ikan kecil, bulu babi dan bintang laut. 
Zona Neritik
Dari zona intertidal ke lempeng benua disebut zona neritik. Zona neritik ini kaya dengan plankton (mikrorganisme yang mengapung dan terbawa arus). Pada bagian ini banyak terdapat terumbu karang. Pada bagian ini terdapat berbagai jenis ikan, penyu, anemon, dll.
Zona Samudra
Merupakan samudra yang dalam dan luas. Walaupun diatasnya masih tertembus cahaya matahari namun kadar nutrisi bagi mahkluk hidup sangat rendah. Namun karena sangat luas, maka produktivitas sangat tinggi dibanding zona neritik. Pada permukaanya terdapat plankton. Ikan di zona ini biasanya besar seperti paus.

Berdasarkan dekat tidaknya dasar laut maka laut dibagi menjadi:
Zona Bentik
Merupakan bagian dasar laut, biasanya berupa lumpur yang tebal yang terdiri dari partikel halus yang berkumpul. Pada laut dalam zona ini bertekanan tinggi, gelap dan sangat dingin. Pada laut yang tidak dalam dihuni oleh binatang yang tidak dapat bergerak ke permukaan seperti kepiting, siput, kerang, dan cacing laut.
Zona Pelagik
Zona pelagik yaitu daerah yang terletak antara zona bentik dan permukaan. Pada permukaan terdapat plankton dan di dalamnya terdapat hewan yang dapat bergerak bebas di dalam air seperti ikan, penyu, cumi-cumi, dan mamalia laut.

Mikroba Laut
Air laut memberikan lingkungan yang menyediakan garam untuk mikroba. Air yang dangkal dan bergerak memberikan nutrisi yang banyak bagi mikroba daripada laut terbuka. Sedangkan di laut terbuka, konsentrasi mikroba terbanyak di bagian termocline. Mikroba di laut banyak terdapat di permukaan dan di bagian dasar, terutama pada bagian berlumpur. Sinar matahari berpengaruh terhadap pertumbuhan. 

Berikut ini beberapa mikroba yang berbahaya yang ada di laut:
Mycobacterium marinum
Merupakan penyebab tuberkulosis kulit pada orang yang terpapar di kulit. Menyukai sinar matahari dan tumbuh optimal pada suhu 32 oC. Setelah menempel di kulit akan menyebabkan luka setelah 2-8 minggu.
Golongan Pseudomonas
Biasanya menginfeksi luka sehingga luka bernanah dan berbau busuk. Luka yang terinfeksi biasanya luka tertutup dan dasar lukanya jauh dari udara seperti luka tusukan.
Genus Vibrio
Dapat menyebabkan sakit pada saluran pencernaan dan infeksi luka terutama pada orang dengan ketahanan tubuh kurang. Pada saluran pencernaan biasanya terjadi karena memakan ikan, kerang, udang yang sudah terkontaminasi dengan bakteri ini. 

Yang harus di perhatikan pada penyelam adalah jika terdapat luka pada bagian tubuh harus dijaga kebersihannya, lebih baik jangan menyelam jika luka sangat lebar/dalam. Jika sesudah menyelam luka bertambah sakit segera ke dokter. Hindari menyelam di air laut yang banyak polusi.

Flora Laut yang Berbahaya
Ganggang laut dapat menyebabkan iritasi kulit apabila kita memegang atau terkena di kulit tubuh. Ada sekitar 25000 jenis ganggang. Bentuk, warna, dan ukuran bermacam-macam. Ada yang hanya satu sel (seperti diatom 1 ¥ìm) sampai dalam bentuk tanaman (100 m). Ganggang sangat adaptif terhadap lingkungan. Walaupun cahaya matahari hanya dapat tembus sampai kedalaman 900 feet, tapi ganggang laut dapat ditemukan sampai kedalaman 12000 feet.

Berikut ini jenis ganggang yang dapat menyebabkan masalah pada tubuh manusia:
Microcoleus lyngbyaceus
Merupakan ganggang hijau biru, yang mempunyai toksin lyngbyatoxin A. Yang beracun biasanya berwarna hijau gelap, dan mempenyai benang-benang halus. Ganggang ini terdapat di samudra pasifik, india, dan laut karibia. Penyelam biasanya terkena ini pada saat menyelam di air yang telah dicemari ganggang ini kemudian tidak melepaskan bajunya dalam waktu lama. Biasanya akan timbul gatal-gatal dan kemerahan di sekitar kulit dan melepuh.
Pencegahannya yaitu dengan selalu mencuci tubuh, pakaian selam, dan peralatan yang kontak dengan kulit menggunakan air sabun. Hindari penyelaman jika terdapat ganggang ini.
Sargassum natans
Sebenarnya tidak berbahaya, namun bisa menimbulkan reaksi alergi berupa gatal-gatal dan kemerahan pada kulit jika menempel cukup lama.

Fauna Laut yang Menyengat (Berbisa)
Jenis binatang ini cukup banyak jumlahnya dan bila menyengat akan mengeluarkan bisa. Bentuknya ada yang kecil dan transparan sehingga tidak terlihat di air. Akibat yang ditimbulkan oleh binatang ini dari ringan sampai pada kematian, diantaranya adalah:

Ubur-Ubur
Banyak jenis ubur-ubur yang terdapat di laut tapi jenis yang berbahaya adalah Sea Wasp (Chironex fleckeri), bentuknya mempunyai sungut panjang dan tidak hampir tak terlihat dalam air. Ubur-ubur ini karnivora dengan diameter 2-30 cm dan banyak terdapat di air dangkal. Musim banyak ubur berkisar antara 1 Oktober- 31 Mei. Banyak terdapat di Indonesia, Malaysia dan Australia Utara. Bila menyentuh korban akan mengeluarkan sengatan berbisa.  Merupakan hewan yang rapuh dan fotosensitif sehingga jika cahaya terang akan tenggelam. Biasanya muncul pada pagi, sore dan malam hari. Bergerak aktif dengan pelan dengan kecepatan 2 knot. Ubur-ubur dewasa mempunyai 15-60 tentakel.

Pencegahannya adalah jangan melakukan penyelaman di musim binatang ini banyak terdapat. Pemakaian pakaian selam dapat mencegah dari sengatan Sea Wasp dan sekarang masih diteliti vaksin agar dapat kebal terhadap sengatan.

Portugese Man of War
Jenis ubur-ubur lain yang berbahaya adalah Potugese Man of  War (Physalia physalis) dan banyak terdapat di daerah tropis. Bentuknya terdapat apungan yang berisi gas (nitrogen dan karbon monoksida) yang berwarna kebiru-biruan serta diatasnya terdapat semacam jambul menyerupai layar, belalainya dapat mencapai 15 meter.
Binatang ini adalah jenis yang mengapung dan hanyut mengikuti arus air ataupun angin yang berhembus. Walaupun binatang ini mirip ubur-ubur namun dikelompokkan sebagai Hydrozoid yang sama dengan karang api. Karena sengatannya hebat maka hindari melihat binatang ini.

Pengobatan dari 2 jenis ubur-ubur tersebut adalah:
  • Bersihkan dengan air laut, jangan menggunakan air tawar.Hindari korban dari bahaya berikutnya, misalnya berusaha melepas tentakel yang melekat.
  • Tuangkan spritus, alkohol, atau cuka di tempat yang tersengat atau seluru bagian yang terkena. Ambil tentakel yang tertinggal dengan memakai tangan yang dilapisi sarung. Bisa juga mengunakan bedak, debu, gula, dsb. Jangan mengenai bagian yang lain karena masih dapat mengeluarkan bisa. Jangan menggunakan handuk dan pakaian.
  • Bila penderita pingsan lakukan tindakan resusitasi.
  • Cepat evakuasi ke layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan suntikan venom

Gurita (Octopus) dan Cumi-cumi
Biasanya tidak berbahaya. Binatang ini banyak terdapat di celah-celah karang di tepi pantai, mempunyai sifat ingin tahu tetapi tidak bahaya. Bila diganggu akan megeluarkan cincin yang berwarna biru pada permukaanya dan dapat melukai karena gigitan serta mengeluarkan racun yang mengakibatkan kelumpuhan. Hindari mengusik gurita.
Gigitan biasanya terjadi pada tangan atau lengan. Pengibatan karena tersengat binatang ini maka adakan pemasangan torniquet lebar dan cari tempat gigitan dan sayat tempat tersebut. Hindari memegang binatang ini tanpa bantuan alat. Bila kesulitan bernapas lakukan pernapasan buatan. Selama 16-12 jam biasanya korban akan sembuh.
Hindari memegang gurita kecil tanpa sarung tangan. Jangan memegang atau memberi tumpangan pada gurita di lengan, bahu, atau di belakang.

Kerang Beracun (Cone Shell)/Kerang Batik Kerucut
Ada sekitar 300 jenis kerang beracun. Kebanyakan merupakan karnivora. Bila menemukan kerang tersebut biasanya tertarik untuk mengambilnya, banyak dari jenis kerang ini berbentuk indah dan menarik. Bila memegang hindari persentuhan dengan bagian yang lunak karena rumah kerang terdapat binatang yang mengeluarkan racun dengan alat pengeluar racun.
Biasanya tersengat di tangan atau kaki. Lukanya seperti luka tersengat tawon, diikuti rasa sakit seperti terbakar. Gejala tersengat kerang hanya 6 jam, bila pada jangka waktu tersebut tidak ada kelainan maka korban akan sembuh. Permulaannya merasakan tebal dan tertusuk-tusuk, sering terjadi kelumpuhan otot lokal bahkan bisa meluas ke organ-organ yang penting dan terhentinya pernapasan serta meninggal.
Pengobatannya adalah dengan membatasi penyebaran racun/bisa di dalam darah dengan memasang torniquet antara luka dan tubuh, kemudian sayat di daerah luka untuk mengeluarkan bisanya. Lakukan tindakan resusitasi jika penderita pingsan.
Hindari memegang kerang tanpa sarung tangan khusus/dilapisi metal. Jika ada bagian kerang keluar lebih baik jangan dipegang. Jika kerang harus dibawa, pegang di bagian belakang yang keras dan masukkan dalam toples. Jangan masukkan ke dalam kantong pakaian, kantong wet suit atau kantong BC.

Ular Laut
Ular laut banyak terdapat di daerah tropis dan panas yaitu Samudara India dan Samudra Pasifik, dari Asia Selatan, kepulauan Indonesia dan Malaysia. Panjang rata-rata 0,9- 1,2 m tapi dapat mencapai 2,7 m. Dengan satu paru, ular ini dapat menyelam 100 m dan menahan napas selam 2 jam. Bedanya dengan belut laut yaitu dengan adanya sisik pada kulitnya. Ular laut sangat jinak dan melarikan diri jika didekati, namun jika memegangnya akan berakibat fatal. Pada musim kawin, ular jantan akan mengganas.
Walaupun sangat beracun ular laut jarang mematikan. Serangan ular laut semacam penyelidikan dari ular tersebut. Serangan yang menggigit jarang terjadi. Gigitan ular dapat terjadi pada saat kita memegangnya atau pada saat menginjak ular di dalam air.
Gejala terjadi dalam waktu 20 menit sampai beberapa jam setelah gigitan terjadi, sering terjadi kekakuan anggota tubuh, rasa sakit dan kontaraksi otot disertai disertai kelemahan, kelumpuhan otot menyebar ke tubuh yang menyebabkan sukar bernapas. Jika bisa, ular laut yang menggigit ditangkap untuk diidentifikasi jika tidak diketahui jenisnya.

Pengobatan sama dengan tersengat kerang beracun. Untuk mencegah pakai pakaian selam dan bila menjumpainya jangan panik. Hindari daerah yang terdapat ular lautnya.

Ulat Bulu Laut
Sebenarnya adalah golongan cacing laut yang bersegmen (Annelida). Bentuknya seperti ulat dan berada di dasar laut bergerak merayap. Terdapat pada zona tidal sampai kedalaman 5000 m. Mempunyai kaki semu, dan diatasnya terdapat duri-duri halus yang akan dilepaskan sebagai pertahanan diri. Bila bulu halus menembus kulit maka susah untuk dilepaskan.
Gejala terkena sengatan tusukan adalah rasa panas, kemudian tempat yang terkena berwarna merah, dan terasa gatal disertai bengkak. Biasanya terkena pada tangan dan kaki.
Jika terkena, segera naik dan jangan panik. Jangan pernah menggaruk karena akan menyebabkan duri patah dan susah diambil. Bila ingin melepaskan gunakan pinset.
Hati-hati memegang karang dan dasar laut. Jangan pernah memegang walaupun menggunakan sarung tangan.

Ikan Batu (Stone Fish)
Ikan batu adalah ikan ajaib yang dapat menyamar menyerupai karang, tulang belakangnya keras dapat menyuntikkan racun hingga menembus kulit korban. Hidup di daerah berkarang. 

Gejala umumnya berupa nyeri hebat di sekitar luka, peradangan pada jaringan serta shock atau gangguan pernapasan. Koma dan kematian dapat terjadi, tapi jarang.
Pengobatannya adalah dengan memasang ligatur lebar di atas luka, rasa sakit dapat dikurangi dengan menyuntikan zat anastesi lokal pada sekitar kulit yang luka, bila tidak ada obat tersebut rendam seluruh anggota yang luka dalam air hangat (45 oC) selama 30 menit.
Jangan memegang ikan batu dan memakai sepatu. Berhati-hati jika menyentuh karang.
Scorpion, Zebra, Lion Fish
Zebra (lion) fish adalah ikan yang indah dan biasanya berada di dekat karang dan biasa berenang berpasangan atau sendiri. 
Scorpion fish hidup di air dangkal dalam karang, jarang bergerak, bersembunyi dalam karang, lumpur atau pasir. Pada kulitnya sering ditumbuhi alga dan dapat tumbuh 15-20 cm.
Sengatan biasanya terjadi pada saat berjalan di dalam air atau pada saat memegang ikan. Sengatan lionfish lebih ringan dibandingkan scorpion fish. Yang paling parah adalah sengatan ikan batu. 

Jika terkena duri, gejala hampir sama dengan terkena sengatan ikan batu namun lebih ringan. Bersihkan bekas duri yang melekat dengan pingset, cuci dengan air bersih dan dikompres dengan air hangat.
Hati-hati berdiri di karang, jangan memegang karang jika air laut sangat keruh. Pastikan yang apa yang kita pegang sebelum memegangnya. Jangan memegang ikan yang berduri.

Bulu Babi
Berbentuk telur bulat dan dikelilingi duri. Bulu babi terdapat pada gugusan karang, celah karang dan bebatuan. Merupakan hewan nokturnal omnivora biasanya memakan alga dan koral, dan dapat ditemukan di dekat pantai sampai kedalaman. Beberapa spesies mempunyai gonad yang enak dimakan. 
  
Pada umumnya jenis bulu babi yang di pantai mempunyai duri yang mudah patah, bila menusuk penyelam duri yang patah terbenam di kulit. Biasanya terjadi pada saat penyelam sedang berjalan/ berdiri di malam hari saat penyelaman malam. Dapat juga terjadi saat mencoba memegang.
Pada saat tertusuk akan terasa sakit dengan rasa terbakar, kemudian diikuti dengan sakit pada otot sekitar, kemerahan dan bengkak.
Pengobatan tertusuk bulu babi dapat dikeluarkan durinya dengan penjepit (pinset), kemudian oleskan antiseptik jika duri tidak dapat dikeluarkan maka hancurkan durinya dengan memukulkan benda/batu di tempat yang luka dan biasanya duri akan melarut dengan sendirinya.
Hati-hati melewati perairan yang banyak bulu babi. Jangan berusaha memegang.

Ikan Pari (Sting Ray)
Terdapat pada daerah tropis, subtropis, dan perairan yang hangat. Biasanya pada daerah yang dangkal dan berpasir, muara sungai, dan pantai, tapi dapat juga masuk ke dalam air payau bahkan air tawar. Walaupun terdapat pada kedalaman air  dangkal, satu spesies ray yang hidup di laut dalam telah ditemukan. Binatang ini mempunyai duri cambuk yang bergerigi, duri itu mempunyai racun dan bisa dan durinya tersebunyi di dalam sangkur berwarna coklat dan merupakan pertahanan dirinya. Durinya dapat menembus wetsuit, boot, bahkan perahu kayu. 
Sengatan biasanya terjadi pada saat memegang, bersinggungan, atau sedang berjalan di air dangkal. Pada saat tertusuk akan menimbulkan luka tusukan, rasa sakit dan pendarahan. Rasa sakit akan naik keatas dan memuncak 30-90 menit dan bertahan sampai 48 jam.
Gejala lain yaitu mual, muntah, banyak berkeringat, diare, dan shock akibat kekurangan darah. Dapat juga terjadi lumpuh otot karena rasa sakit yang dialami.

Pengobatan akibat tertusuk duri ikan pari adalah mencuci luka dengan air, keluarkan durinya/bagian sangkur yang tertinggal di luka. Berikan kompres hangat > 50 oC di atas luka selama 30-90 menit atau berikan balsem karena panas menghancurkan bisanya. Segera ke layanan kesehatan terdekat.
Bila melewati daerah yang terdapat ikan pari, berjalanlah sambil menggeserkan fins/kaki. Gelombang tekanan dari getaran kaki akan mengusirnya dan cara berjalan ini dinamakan The Sting Ray Shuffel.

Karang Api
Ada sekitar 5000 jenis karang. Yang dapat menyengat salah satunya karang api. Beberapa karang lain dapat menyebabkan alergi pada kulit dengan gejala yang timbul lama setelah memegang karang. Karang api berwarna merah kecoklat-coklatan dan dapat ditemukan sampai kedalaman 1000 m.

Bila terkena sentuhan maka akan merasakan seperti terkena api. Biasanya untuk bagian telapak tangan/kaki tidak begitu terpengaruh terhadap karang tersebut. Bagian yang tersengat karang api akan berbentuk putih menggelembung seperti terkena api dan akan sembuh sendiri sekitar 2-3 minggu lamanya dan menimbulkan bekas luka.
Identifikasi setiap karang yang akan di pegang. Karang yang boleh dipegang adalah karang masif (padat). Jangan memegang karang yang berongga-rongga, walaupun tidak berbisa dapat tajam dan melukai tubuh.
Bintang Laut
Berbentuk bintang yang dilapisi tanduk-tanduk. Bergerak dengan lengan. Mulut berada di bawah dan memakan bulu babi, kerang beracun, karang dan cacing. Hanya sedikit bintang laut yang berbisa.
Hindari memegang bintang laut tanpa sarung tangan dan jangan memegang bintang laut yang berduri tajam.

Timun Laut (Teripang)
Bentuk seperti cacing, biasanya terletak di dasar pantai, merupakan makanan pemakan sisa-sisa. Dinding tubuhnya dilapisi oleh holoturin. Holoturin banyak terkonsentrasi sungut di bagian anus dan dikeluarkan sebagai pertahanan. Beberapa jenis lain memakan tentakel ubur-ubur sehingga dapat mengeluarkan bisa ubur-ubur.

Bila terkena sungut akan terjadi hal yang sama dengan karang api, awalnya akan tampak kemerah-merahan dan sakit. Jangan pernah memegang tanpa sarung tangan, lebih baik hindari memegang. Bila mengenai mata cepat bersihkan dengan air mengalir, jika terasa sakit maka segera ke dokter.

Fauna Laut yang Menyebabkan Keracunan
Binatang jenis beracun sangat sedikit jumlahnya, tetapi dapat menimbulkan kematian dan menimbulkan ancaman bagi manusia yang memakannya. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memakan sesuatu dari laut bila belum yakin benar bahwa makanan tersebut boleh dimakan dengan bertanya  kepada penduduk. Jangan pernah memakan langsung/mentah.

Ikan Buntal
Ikan ini sering menimbulkan korban bagi yang belum mengetahui. Sebenarnya dapat dimakan asalkan ditangani dengan memperhatikan empedu dari ikan buntal tersebut apakah sudah pecah. Karena empedu ikan ini mengandung racun yang dapat menyebar ke seluruh tubuh bila memakan ikan buntal yang pecah empedunya.
Racun ini berasal dari makanan ikan buntal yaitu alga yang dilapisi bakteri Alteromonas sp. Racun ini kemudian terkumpul di hati yang dikeluarkan melalui empedu dan gonad. Buntal betina lebih beracun dari yang jantan.
Racunnya disebut tetrodotoxin, merupakan racun yang bekerja pada saraf tubuh manusia. Gejalanya timbul 10 menit sampai 4 jam, tetapi biasanya 30 menit. Kematian bisa terjadi dalam 17 menit. Keparahannya tergantung dari jumlah yang dimakan dan variasi individu.
Gejala awal biasanya kelumpuhan otot sekitar mulut dan lidah diikuti dengan air ludah yang banyak, berkeringat, dan pusing. Kemudian akan timbul kelemahan di seluruh badan yang berwal dari atas tubuh. Kematian terjadi karena kelemahan kontraksi jantung dan otot pernapasan. 60 % korban akan meninggal. Jika sudah melewati 24 jam memiliki prognosis baik.  Buntal yang paling beracun adalah buntal maki-maki.

Kepiting Karang
Keracunan makanan karena kepiting banyak terjadi di kepulauan Indo-pasif. Kepiting yang paling beracun adalah famili Xanthidae. Racun-racun pada kepiting berasal dari makanan yang dimakan yaitu alga yang beracun atau yang terkontaminasi bakteri. Beberapa toxin dari kepiting sama dengan ikan buntal.
Gejala bermula 15 menit sampai beberapa jam setelah makan. Biasanya berupa mual, muntah, diare, kelumpuhan pada anggota gerak dan mulut. Kematian dapat terjadi jika menyerang saraf.

Kepiting Kenari
Keracunan kepiting kenari (Birgus latro) biasanya dengan gejala mual, muntah, sakit kepala, menggigil, rasa pegal dan rasa lelah yang berujung kematian.

Penyu
Di beberapa tempat penyu dapat menyebabkan keracunan, hal ini disebabkan makanan penyu yang berupa ganggang atau ikan yang telah terkontaminasi dan beracun.

Kerang/kijing/remis
Pada daerah tertentu beracun karena kerang memakan mikroorganisme (dinoflagellata) yang membuat racun. Racun ini adalah saxotoxin yang larut air, dan tahan panas sehingga tidak hancur saat dimasak. Racun ini berefek pada saraf.
Gejalanya berlangsung dalam 30 menit  yaitu rasa baal pada bibir, lidah, gusi dan muka. Kemudian menyebar ke bawah dan diikuti dengan kelemahan otot. Dapat juga terjadi mual, muntah, diare dan sakit perut yang bertahan beberapa jam/hari.
Fauna Laut yang Menggigit (Menyerang)
Ikan Hiu
Sangat peka terhadap bau darah, bangkai, kilatan cahaya, benda berwarna, pukulan, ledakan, dan suara yang bising. Oleh sebab itu sangat ditakuti. Gigitan hiu sangat kuat sehingga sangat fatal.
Serangan hiu yang terbesar terjadi di daerah laut tropis dan subtropis yaitu antara 30o LU dan 30o LS. Kebanyakan terjadi bila suhu air lebih dari 21 o C dan biasanya pada bulan Januari pada jam 15.00 sd 16.00, tetapi ikan hiu mencari makan pada malam hari. Biasanya gigitan ini karena terjadi kesalahan identitas, misalnya manusia terlihat sebagai anjing laut yang merupakan makanan hiu. 
Untuk penanganan karena gigitan hiu dilakukan sebagai berikut:
  Segera lakukan tindakan resusitasi.
  Hentikan perdarahan dengan balut tekan, torniquet, atau tekanan pada arteri.
  Jika terdapat cairan infus di lapangan segera masukkan untuk menghindari shock.
  Evakuasi ke rumah sakit.

Pencegahan gigitan hiu:
  • Hindari medan yang banyak hiu, terutama petang dan malam hari. Gunakan pembatas/kurungan. Jaga kewaspadaan selama penyelaman, dan hindari kumpulan ikan.
  • Hindari air yang keruh, terowongan, dan lubang pengeluaran adalah tempat yang banyak hiu besar.
  • Cairan tubuh menarik hiu. Selama menstruasi wanita sebaiknya tidak menyelam.
  • Hindari memakai peralatan yang mengkilat atau berwarna cerah. Warna orange menarik hiu, sedangkan warna hitam kurang. Serangan juga banyak terjadi pada orang kulit putih.
  • Jauhkan ikan yang telah ditangkap, karena darahnya menarik hiu.
  • Adanya lumba-lumba tidak bertanda tidak ada hiu. Menyelam dengan waspada.
  • Jika bertemu di atas air, segera ke darat dengan tenang dan gerakan pasti, jika perlu menghadap ke arahnya, jangan tampakkan perasaan takut. Lawan jika ia menyerang.
  • Jika bertemu di dalam air, jangan langsung ke permukaan, sebaiknya bergerak ke lebih dalam. Bergerak ke karang dengan bagian belakang tertutupi. Melawan sangat sulit, tapi dapat dipukul di bagian hidung dan matanya. Takuti dengan gelembung udara yang berasal dari regulator. Atau lawan dengan bangstick (tombak) dan pisau selam. Paling modern dengan SharkPOD yang menggunakan listrik.

Ikan Barakuda
Ada 20 jenis barakuda. Ikan ini terdapat pada laut tropos dengan panjang dapat mencapai 2,5 meter. Ikan ini berwarna perak kebiruan dengan ekor bentuk V.
Ikan ini lebih ditakuti daripada ikan hiu karena merupakan perenang yang cepat dan gesit serta ganas, mulutnya besar penuh dengan gigi yang tajam. Ikan ini tertarik dengan segala sesuatu yang masuk dalam air terutama benda yang berwarna.
Ikan barakuda jarang menyerang pada penyelam di dalam air akan tetapi senang mengikuti penyelam. Barakuda sering menyerang penyelam yang berada di permukaan. Beda dengan gigitan hiu, gigitan barakuda berbentuk V sedangkan gigitan hiu berebentuk kurva yang sesuai dengan rahangnya. 
Barakuda tertarik dengan keributan di dalam air dan benda yang berwarna terang. Tindakan pencegahan dan penanganan  sama dengan hiu.

Needle Fish (Cucut)
Merupakan ikan permukaan yang banyak di lautan tropis, berwarna perak dan bergerak cepat. Pada cucut air tawar dapat tumbuh mencapai 2 meter. Pada bagian bibir terdapat duri yang panjang.
Biasanya menyerang nelayan yang sedang menarik pancing yang dimakan oleh ikan dengan terbang dan menusuk di dada, perut atau leher sehingga menyebabkan kematian.

Satu kasus kematian pada snorkeling terjadi karena ikan cucut  menusuk bagian perut dan menembus usus.

Moray
Terdapat pada perairan tropis dan subtropis. Ikan ini bentuknya seperti belut, panjang dapat mencapai 3,5 meter dengan diameter 35 cm dan mempunyai komposisi gigi yang kuat. Ikan  ini sebenarnya takut pada manusia, menyerang karena pertahanan diri karena diusik/dikagetkan. Dapat tumbuh hingga panjang 3 meter.
Ikan moray tinggal dilubang pada celah karang. Gigitannya sangat sukar dilepaskan sehingga luka bervariasi dari hanya tusukan atau luka terbuka. Gigitannya biasanya di lengan dan tangan terutama pada saat mendekat pada celah-celah karang.

Pencegahannya dengan memakai pakaian selam agar mengurangi bahaya gigitan. Jangan mengagetkan moray dari lubangnya.

Buaya Air Asin
Merupakan reptil air yang biasanya terdapat pada muara sungai  di dekat pantai, danau payau, dan hutan bakau. Yang paling ganas dari semua buaya adalah buaya air asin Crocodilus porosus) yang agresif terhadap manusia. Buaya ini banyak terdapat di India, Srilanka, Kepulauan Melayu, dan Australia. 
Dengan panjang 20 feet, dan berat lebih 2500 pound, buaya dapat bergerak di air dengan kecepatan 20 mph dan menyerang di darat pada jarak pendek dengan kecepatan 15-30 mph. Buaya memiliki gigi untuk menarik makanan ke dalam air dan langsung menelan, jika mangsa terlalu besar pada buaya air tawar akan dibusukkan terlebih dahulu. 
Biasanya menyerang orang yang berenang, tidak diketahui apakah menyerang orang yang sedang menyelam. Tetapi bila menyelam di dekat muara selalu waspada.


Flora dan Fauna Air Tawar dan Rawa
Lingkungan air tawar berbeda dengan air laut karena areanya sangat terbatas. Danau air tawar hanya sekitar 1,8 % luas bumi. Air tawar yang bergerak (sungai, dll) hanya 0,3 %. Lingkungan air tawar sangat berhubungan dengan kondisi daratan, paya, dan rawa.
Berdasarkan tembus tidaknya cahaya lingkungan air tawar dibagi menjadi.
Zona Fotik
Yaitu zona dimana cahaya masih dapat masuk. Disini banyak terdapat organisme yang melakukan fotosintesis.
Zona Afotik
Yaitu zona tidak tertembus cahaya atau sedikit tertembus cahaya. Di bagian ini banyak organisme yang heterotrof.

Sama halnya dengan laut. Lingkungan air tawar dibagi berdasarkan kedalaman menjadi tiga zona.
Zona Litoral
Merupakan zona dangkal di dekat pinggir kolam/danau.
Zona Limnetik
Yaitu zona permukaan air dalam yang dapat ditembus cahaya jauh dari tepian. Zona ini banyak dihuni plankton.
Zona Profundal
Zona ini dibawah zona limnetik. Hanya sedikit yang tertembus cahaya. Pada bagian dasar banyak terdapat hewan seperti siput dan cacing.

Mikroba Air Tawar
Sama berbahaya dengan air laut, air tawar juga mengandung bakteri yang berbahaya. Pencemaran pada sungai, danau dan perairan tawar juga semakin meningkat. Konsentrasi bakteri pada air tawar dipengaruhi cahaya, makanan bakteri, arus, dan adanya sedimentasi.

Berikut adalah beberapa mikroba air tawar yang berbahaya:
Aeromonas hydrophila
Merupakan bakteri yang menyukai air, tetapi dapat hidup di tanah. Bila luka terinfeksi akan cepat memerah dan terasa panas. Yang berbahaya adalah bila menyebar ke darah, tetapi ini biasa terjadi pada orang dengan kekebalan rendah.
Mycobacterium marinum
Lihat mikroba laut.
Amoeba
Acanthamoeba, dan Pfiesteria piscicida, merupakan amoeba yang hidup bebas dan dapat masuk lewat luka dan menyebar ke dalam darah, dapat juga masuk melewati hidung dan kemudian menyebar. Jenis lain yaitu Entamoeba coli, amoeba yang menyebabkan diare berdarah, dan disertai rasa sakit pada saat mengedan.
Hindari menyelam di air yang polusi, atau air yang berwarna kehijau-hijauan. Jagalah kebersihan medan penyelaman selama kegiatan menyelam.

Flora Air Tawar yang Berbahaya
Pada air tawar, cauca panas dapat menyebabkan pertumbuhan ganggang yang cepat. Yang berbahaya adalah ganggang hijau-biru (Cyanophyta). Racunnya akan cepat terkumpul di air dan merupakan racun yang fatal bagi hewan yang meminum. Spesies dari ganggang ini adalah Microcystis aeruginosa, Aphanizomenon flos-aquae, Nodularia spumigena, Nostoc species, Oscillatoria agardhii, Anabaena spiroides, dan Anabaena flos-aquae. 
Pada manusia biasanya menyebabkan reaksi alergi, konjungtivitis, infeksi telinga, pembengakakan muka dan bibir, dan sakit perut.

Fauna Air Tawar yang Menyengat (Berbisa)
Beberapa fauna air tawar yang menyengat antara lain:

Stingray
Beberapa spesies stingray hidup di air tawar dan sungai, terutama di benua Amerika, Afrika, dan Indo-china. Pencegahan dan penanganannya sama dengan Stingray air asin.

Belut Listrik
Belut listrik ini terdapat di daerah Amazon. Orang dapat tenggelam setelah terkena sengatan belut ini. Menyukai daerah yang dalam. Jika jarak cukup dekat maka bagian tubuh terasa kesemutan. Tidak ada cara menghindari sengatannya.

Ular
Ular banyak terdapat di tepi sungai, rawa dan perairan dangkal.

Fauna Air Tawar yang Menggigit (Menyerang)

Anakonda/Sanca
Merupakan hewan rawa dan perairan dangkal. Sebenarnya tidak menyerang manusia jika tidak di provokasi. Ular ini dapat tumbuh sepanjang 30 feet. Beberapa kasus pernah dilaporkan pernah memakan wanita dan anak kecil.

Candiru
Ikannya kecil seukuran tusuk gigi dan hidup di sungai amazon. Ikan ini dapat masuk ke dalam uretra manusia. Pencegahannya dengan memakai pakaian yang ketat dan menghindari kencing di dalam air. Cara mengelurakannya dengan minum teh herbal (Genipa americana L) atau minum Vitamin C 2-5 g.

Buaya
Buaya dapat menyerang di baik dipermukaan maupun di dalam air ketika menyelam. Gunakan kurungan besi untuk menyelam.

Piranha
Merupakan hewan yang cukup buas dan memangsa dalam kawanan. Piranha tertarik dengan bau darah, dan biasanya menyerang hewan yang lemah. Piranha juga menyerang ke permukaan, seperti menggigit tangan yang dicelupkan ke dalam air.

 

Sumber:
USN Navy Diving Manual
Aurbach Wilderness Medicine
 








Perencanaan Penyelaman

Kegiatan penyelaman memerlukan suatu perencanaan selam agar didalam kegiatan penyelaman dapat berjalan lancar, aman dan selamat. Untuk itu perlu peralatan sebagai berikut:

Tali Ukur/Penduga Kelaman
Sebelum mengadakan penyelaman harus mengetahui kedalaman daerah tersebut. Untuk itu diperlukan alat ukur/ penduga kedalaman yang terbuat dari timah/pemberat lainnya disertai tali dengan ukurannya. Pengecekan dilakukan beberapa kali di sekitar daerah itu dengan berpindah-pindah tempat.

Tali Pemandu Kedalam
Setelah diketahui kedalaman daerah tersebut, buat tali pemandu kedalam untuk tempat turun dan naiknya penyelam. Ikatan tali pemandu dengan pelampung, pasang juga pelampung dengan bendera penyelaman di dekat daerah penyelaman.

Tolok Kedalaman
Survei keadaan di dalam air dengan menjelajah di daerah tersebut dan mengecek lagi kedalaman dengan tolok kedalaman. Catatlah apa yang perlu dicatat sebagai bahan untuk briefing sebelum mengadakan penyelaman.

Tali Jangkar
Tali jangkar dipergunakan sebagai tempat turun dan naiknya penyelam. Pada kedalaman 10 feet ditali jangkar /pemandu sebaiknya disediakan tabung scuba lengkap, tujuannya bila penyelaman perlu mengadakan deco stop dapat berhenti di tempat itu, serta dapat sebagai tabung scuba cadangan bagi penyelam yang tabungnya tinggal sedikit udaranya.

Sabak
Sabak sangat dibutuhkan didalam kegiatan penyelaman yaitu untuk mencatat segala sesuatu yang memerlukan pencatatan dan juga dapat mencatat tabel selam dimana kedalaman sudah diketahui sehingga apakah diperlukan deco stop atau tidak. Sabak juga sangat dibutuhkan untuk penyelaman penelitian.
Suatu kegiatan penyelaman akan berjalan lancar dan sukses apabila tidak ada hambatan yang berarti, untuk itu diperlukan antisipasi terhadap sesuatu yang dapat menghambat penyelaman. Perhatikan pasang surut, arus, ombak/gelombang serta waspadai flora dan fauna di daerah penyelaman.





Teknik Scuba Diving

Pada bagian ini akan dibahas mengenai prosedur standar dan teknik scuba diving. Diharapkan para calon penyelam dapat memahami dan mempraktekkan dengan benar. Hal ini sangat berguna bagi kegiatan penyelaman yang sebenarnya. 

Predive Procedures
Prosedur sebelum penyelaman termasuk persiapan peralatan, persiapan penyelam, dan melakukan inspeksi sebelum masuk ke dalam air.

Persiapan Peralatan
Sebelum melakukan penyelaman, penyelam harus melakukan inspeksi terhadap peralatan yang digunakan. Peralatannya harus standar, tidak boleh sembarangan, dan nyaman dipakai.

Tabung Selam
  • Lihat bagian luar tabung apakah terdapat karat, retak, penyok, dll yang menunjukkan dinding tabung tidak normal.
  • Lihat O-ring
  • Pastikan cadangan mekanis (reserve mechanism) tertutup (tuasnya berada diatas) menandakan tabung siap digunakan.
  • Ukur tekanan tabung menggunakan alat pressure gauge melalui prosedur sebagai berikut:
  • Pasang alat pressure gauge pada seal O ring berhadapan dengan katup tabung.
  • Tutup katup alat pressure gauge dan kemudian buka cadangan mekanis (tuasnya gerakkan ke bawah). Secara perlahan buka keran tabung. Lihat pergerakan di alat pressure gauge.
  • Baca tekanan di alat pressure gauge. Tabung tidak boleh digunakan bila tekanan tidak mencukupi untuk penyelaman.
  • Tutup keran tabung dan buka katup pressure gauge dan biarkan udara mengalir bebas.
  • Jika alat pressure gauge sudah menunjukkan angka nol, lepaskan alat dari tabung.
  • Jika tekanan tabung 50 psi atau lebih dari tekanan yang diharapkan, buka keran tabung untuk membuang kelebihan tekanan dan kemudian ukur kembali dengan alat pressure gauge.
Harnes straps dan Backpack
  • Cek kekuatan harness. Lihat apakah sudah memulai melonggar atau tidak.
  • Atur strap sesuai dengan penyelam dan coba tes apakah mekanisme quick-release bagus/tidak.
  • Cek backpack apakah ada retak dan kondisi lain yang membuat penyelaman tidak aman.
Breathing Hose (selang/pipa)
  • Cek selang dari kebocoran dan retak-retak.
  • Cek hubungan selang dengan regulator dan mouthpiece, dengan mencoba menarik selang.
  • Lihat klem selang apakah ada karat dan kerusakan lain, bila perlu ganti klem dengan yang baru.
Regulator dan Cara Merakit ke Tabung
  • Pastikan tekanan first stage telah di set 135 psig atau sesuai dengan pabrik yang mengeluarkannya.
  • Buka keran tabung sedikit. Hal ini dilakukan karena kemungkinan debu/kotoran pada lubang katup akan dapat terlepas/terdorong keluar.
  • Pasang regulator pada tabung, pastikan O ring sudah pada tempatnya (yoke).
  • Sebelum membuka hisap melalui mouthpiece untuk mengontrol baik tidaknya regulator.
  • Buka keran sampai penuh, kemudian kembalikan keran setengah putaran. Hal ini menghindarai kerusakan pada keran.
  • Coba bernapas 2-3 kali menggunakan mouthpiece.
  • Cek adakah kebocoran pada regulator dengan mendengar desis udara. Jika tidak terlihat masukan ke dalam tanki air.
  • Jika memasag SPG hubungkan dengan muara pada first stage yang bertuliskan HP. Arahkan SPG ke tempat yang aman saat membuka keran.
Bouyancy Compensator
  • Tiup BC untuk mengetahui kebocoran dah kemudian tekan dengan tangan supaya udara keluar.
  • Jangan pernah menghisap udara karena udara tiupan banyak mengandung karbondioksida.
  • Pasang selang BC pada muara tekanan rendah.
Masker
  • Cek seal masker dan strapnya.
  • Cek apakah ada keretakan pada seal/skirt atau kaca masker.
Fin
  • Cek adanya retak/patah/robek pada strap (bagian yang melekatkan pada kaki)
  • Cek blade fin adanya retak dsb.
Pisau selam
  • Cek ketajaman pisau selam
  • Pastikan pisau melekat dengan baik pada sarungnya.
  • Pastikan pisau mudah dikeluarkan dan tidak mudah lepas dari sarungnya.
  • Tempatkan di bagian yang mudah dijangkau dan aman. Jangan berada di sekitar weight belt, karena dapat mudah terlepas.
Snorkel
  • Lihat snorkel apakah ada sumbatan.
  • Pastikan katup berfungsi dengan baik.
Sabuk Pemberat
  • Cek kondisi sabuk pemberat.
  • Pastikan jumlah pemberat yang akan dipakai.
  • Cek apakah buckle quick-release berfungsi.
 Jam Selam
  • Pastikan jam dalam kondisi baik dan waktu yang tepat. Samakan waktu dengan tim selam.
  • Cek tali pengikat jam, terlalu kencang menyulitkan pergerakan, terlalu longgar akan mudah lepas.
Tolok Kedalaman (depth gauge) dan Kompas
  • Lihat jarum depth gauge apakah menunjuk angka nol dipermukaan laut. Jika perlu cek dengan yang lain sebagai perbandingan.
  • Jika perlu kompas dicek dengan cara yang sama.
Peralatan lain
Cek semua peralatan lain yang akan dipakai termasuk tabung dan regulator cadangan. Jangan lupa mengecek pakaian terutama penyelaman dengan dry suit.


Persiapan Penyelam dan Briefing
Setelah peralatan siap dan dalam kondisi baik, maka para penyelam diberikan briefing yaitu mengenai:
  Tujuan Penyelaman
  Waktu dan dalamnya penyelaman
  Tugas masing-masing penyelam
  Kesulitan, bahaya yang akan dihadapi, dan prosedur emergensi.

Mengenakan Peralatan
Walaupun penyelam diharuskan dapat memasang peralatan sendiri, namun dengan pertolongan asisten akan lebih baik. Berikut ini adalah urutan mengenakan perlatan selam yang harus diperhatikan:
  Pakaian selam. Pastikan proteksi pakaian selam sesuai kondisi medan penyelaman.
  Booties dan hood
  Pisau Selam
  BC
  SCUBA
Jika ditolong asisten, mintalah untuk memposisikan tabung dan penyelam mengatur dan  mengikat harness. Tabung scuba diposisikan setinggi mungkin, tetapi tidak menggangu pandangan penyelam. Pastikan BC sudah terhubungkan.
  Peralatan lain (Jam, kompas, depth gauge)
  Sabuk Pemberat
  Sarung Tangan
  Fin
  Masker dan snorkel

Menggunakan Peralatan di Permukaan dan di dalam Air
Jika tidak memungkinkan pemakaian peralatan di darat, maka peralatan selam dapat dipakai dipermukaan maupun di dalam air. Hal ini sering dipraktekkan di kelas kolam.
Cara memasang di permukaan sebagai berikut:
  • Pastikan BC terisi udara dan membuat tabung terapung.
  • Gunakan fin, masker, dan snorkel lalu masuk ke air.
  • Kempiskan BC sedikit sehingga tabung mudah di kontrol.
  • Pakai BC dan tabung. Bisa dengan satu-satu tangan, atau langsung dua tangan (dengan menjungkirbalik tabung ke belakang melewati kepala, atau dengan berenang ke bawah BC sambil memasukkan dua tangan). Pastikan leher tidak terlilit hose dan BC terpasang dengan benar.
  • Kesuksesan bergantung pengalaman dan kondisi medan.
Cara memasang di bawah air sebagai berikut:
  • Semua peralatan berada di dalam air kecuali pakaian selam dan jam tangan.
  • Masuk ke dalam air, ambil napas dua kali, dan lakukan dugdive ke tempat peralatan.
  • Pertama ambil mouthpiece, keluarkan air yang menyumbat, bernapas dengan santai.
  • Pasang BC dan tabung, caranya sama dengan di permukaan, pastikan leher tidak terlilit hose dan posisi BC benar.
  • Kenakan fin dan masker dilanjutkan dengan mask clearing.
  • Gunakan sabuk pemberat.
  • Naik ke permukaan atau menyelam dengan buddy.
  • Kesuksesan bergantung pengalaman dan kondisi medan.

Inspeksi Predive
Sebelum masuk ke dalam air harus dilakukan inspeksi predive yaitu:
  • Pastikan kesiapan fisik dan mental sebelum masuk ke dalam air.
  • Pastikan penyelam sudah memiliki peralatan minimum (SCUBA, masker, BC, sabuk pemberat, pisau selam, fins, jam, dan depth gauge). JIka menggunakan garis buddy hanya perlu satu jam selam dan satu depth gauge.
  • Pastikan tabung telah diukur tekanannya dan dapat dipakai sesuai rencana penyelaman.
  • Pastikan semua buckle quick-release dalam jangkauan.
  • Pastikan posisi sambuk pemberat sehingga mudah dilepaskan dan tidak terjepit dengan peralatan lain.
  • Pastikan BC tidak tertekan sehingga mudah mengembang.
  • Cek posisi pisau selam.
  • Pastikan kran tabung terbuka setengahnya (dengan membuka penuh lalu ditutup ¨ù sampai ¨ö).
  • Jika menggunakan double hose, pastikan pipa pengeluaran berada di sebelah kiri dan menghadap ke atas.
  • Coba bernapas dengan mouthpiece beberapa kali dan pastikan bernapas dengan nyaman.
  • Jika menggunakan single hose, tekan tombol kuras  dan lepaskan,  dengar adanya udara keluar. Kemudian coba bernapas dengan mouthpice.
  • Pastikan reserve mechanism dalam posisi tertutup (tuas berada diatas).
  • Review briefing. 
Water Entry dan Descent
Sekarang penyelam sudah siap masuk ke dalam air dan turun ke kedalaman. Inspeksi dilakukan oleh partner selam.
Water Entry
Ada beberapa cara masuk ke dalam air, hal itu tergantung medan penyelaman dan landasan yang digunakan. Jika memungkinkan entry ke dalam air menggunakan tangga terutama jika keadaan air belum dikenal. 
Berikut aturan yang diaplikasi dalam semua metode entry:
  • Perhatikan timing sebelum melakukan entry.
  • Dekatkan dagu ke dada. Pegang tabung dengan satu tangan untuk menghindari benturan peralatan selam di belakang kepala.
  • Tekan masker dengan jari (telunjuk dan tengah) dan mouthpiece dengan telapak tangan.
Berikut ini metode water entry:
Step-In Method/ Standing Front Entry
Metode ini sering digunakan dan sering digunakan bila landasan statis seperti kapal yang besar atau dermaga. Penyelam harus melangkah yang besar (Giant Step), dan kaki harus dijaga pada langkahnya tanpa adanya gerakan lompatan dan jangan ditarik lagi. Biarkan kaki tetap terentang hingga menyentuh permukaan air. Usahakan tubuh agak cenderung ke depan sehingga kepala tidak membentur tabung. Pada waktu kaki menyentuh air, kedua kaki dikatupkan kembali untuk menjaga posisi penyelam agar tetap di permukaan.
Real  Roll Method
Bila menggunakan kapal yang kecil atau perahu karet, gunakan metode ini, karena apabila penyelam yang memakai peralatan lengkap berdiri di samping kapal akan mempengaruhi keseimbangan kapal  yang akhirnya membuat penyelam susah menjaga keseimbangan.
Untuk melakukan ini penyelam duduk di pinggir dan mengahadap ke dalam perahu. Dengan dagu ditekuk dan memegang masker dan mouthpiece, penyelam berguling ke belakang. Gunakan tenaga sehingga jungkir balik penuh. 
Side Roll
Posisi penyelam duduk ditepi perahu sejajar dengan lambung perahu. Cara ini jarang digunakan. Dengan memegang masker dan mouthpiece penyelam terjun ke arah air. Cara ini lazim digunakan oleh under water demolation team (UDT) atau regu penghancur bawah air, yang harus masuk ke air sementara perahu karet tetap melaju cepat.


Front Roll/ Sitting front entry
Cara ini akan sangat berguna jika akan masuk air dari dermaga yang rendah ataupun plat form. Penyelam duduk di pinggir perahu , dengan fin berjuntai dan menghadap  ke air. Kemudian dengan badan condong ke depan, tempatkan tangan di kedua sisi, berputarlah dan masuk ke air. 
Rear Step-In Methode
Modikasi dari Step-In . Bedanya penyelam menghadap kapal, dan kemudian melangkah ke belakang menjauhi  kapal.
Water Entry Daerah Pantai
Tergantung dari kondisi gelombang dan landasan pantai. Jika ombak tenang dan landasan pantai landai, dapat berjalan di air dengan fin dilepas sampai air cukup dalam untuk berenang.
Jika ombak besar dan  landasan pantai curam, gunakan fin dan jalan mundur membelakangi gelombang. Setelah cukup dalam untuk berenang balikkan tubuh ke belakang dan berenang memecah gelombang.

Surface Swimming/Snorkeling
Kapal seharusnya dekat dengan tempat penyelaman. Ketika berenang maka rekan selam sebaiknya melakukan kontak visual dengan rekan lainnya sehingga berenang lancar dan tidak membentur satu sama lain. Faktor yang paling penting dalam berenang dengan SCUBA adalah gerakan yang relax untuk menghemat energi. Penyelam harus tetap  memakai masker dan bernapas melalui snorkel. Jika menggunakan regulator, pegang mouthpiece sehingga udara tidak mengalir bebas keluar sistem SCUBA.
Penyelam sebaiknya hanya menggunakan kaki untuk mengayuh  dan sedikit menggunakan paha. Jangan sampai mengangkat  fin dari dalam air. Penyelam dapat mengubah posisi dengan punggung mengahadap ke dalam air  dan tetap bergerak dengan kayuhan fin. Bisa juga dengan memompa BC, tetapi sebelum turun ke dalam BC harus dikosongkan dulu.

Predescent Surface Check
Sebelum turun ke kedalaman.Penyelam  harus melakukan final check terhadap peralatan. Para penyelam harus:
  • Mengecek pernapasan dengan mouthpiece. Udara harus keluar sesuai dengan tekanan negatif yang diberikan penyelam dan tidak menyedot dengan kuat.
  • Cek peralatan partner apakah terdapat kebocoran yang biasanya terletak pada sambungan (regulator, keran tabung, hose, dll).
  • Cek strap partner apakah terlipat/tidak dan terlihat longgar.
  • Cek masker apakah masuk air. Jika kemasukan air hilangkan dengan mask clearing.
  • Cek Bouyancy. Bouyancy harus netral dengan mengatur udara di dalam BC. Kondisi dianggap netral jika batas permukaan air berada diatas masker tanpa menggerakkan fin.
  • Jika menggunakan dry duit, lihat apakah ada kebocoran.
  • Orientasi posisi menggunakan kompas atau menggunakan lainnya.
  • Berikan tanda OK jika sudah selesai dan siap turun ke dalam air.
Bouyancy Control
Untuk mengatur keterapungan, penyelam harus mengontrol boyancy. Selama menyelam bouyancy harus netral, dalam arti penyelam melayang di dalam air. Jika naik usahakan jangan menggunakan BC, kecuali keadaan darurat atau susah naik keatas.
Bouyancy biasanya dikontrol di tombol mekanik di bahu sebelah kiri, aturlah masuk keluarnya udara dalam BC dengan tombol ini. Jika ingin turun, maka bergerak ke depan dalam posisi horizontal lalu diam, sambil mengatur tombol BC. Jika permukaan air sudah berada di mata dengan kepala ke depan anggap itu bouyancy netral.
Cara mengatur BC
Di permukaan 
Penyelam berada di tempat dalam dengan posisi berdiri dengan mulut m eniup penuh BC nya melalui oral inflator. Pengendalian romphi apung dengan cara mengatur udara di BC sampai batas permukaan air berada di mata.  
Di kedalaman 
Penyelam di kedalaman mengatur netral buoyancy dengan cara mengisi udara ke BC baik lewat oral inflator maupun mekanikal inflator.

Descent
Untuk turun ke bawah penyelam dapat berenang ke dalam, menggunakan tali turun untuk menarik tubuh ke bawah, atau menelusuri lengkung landas pantai. Kecepatan turun tergantung proses equalising yang dilakukan tetapi tidak boleh lebih dari 75 feet/menit (25 m/menit ? 0,42 m/detik). Jika salah satu teman mengalami kesulitan equalising, maka lebih baik jangan turun ke bawah, naik sedikit sehingga lebih enak dan lakukan equalizing kembali. Jika tetap mengalami equalizing segera naik ke atas dan batalkan penyelaman.
Apabila jarak penglihatan dalam air sangat kurang, rentangkan tangan untuk menghindari rintangan.
Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan maka cek dan lihat lingkungan sekitar.
Equalizing
Review dari bab sebelumnya, lakukan equalising mulai dari kedalaman 4 feet (1,3 meter), jangan sampai dimulai pada saat sudah sakit. Jangan terlalu keras melakukannya. Metode equalizing ada 2 cara yaitu Manuver Valsava dan Frenzel.
  • Manuver Valsalva yaitu meniup udara melawan dengan bibir dan hidung tertutup dan lidah ke arah belakang untuk meningkatkan tekanan rongga faring yang diteruskan ke dalam telinga tengah melalu tuba eustachius. Manuver ini juga dapat membuka tuba eustachius yang tertutup. Biasa disebut mengedan. 
  • Manuver Frenzel yaitu dengan menelan dengan lidah ke belakang dimana bibir ditutup dan lubang hidung di tekan (memencet hidung).

Underwater Procedures
Bottom time merupakan hal utama dalam SCUBA diving, hal ini karena udara sangat terbatas. Penyelam harus mengehemat energi dan dapat secara tiba-tiba menghentikan penyelaman dan naik ke atas. Penyelam juga harus waspada dan melihat kondisi penyelam lainnya.

Teknik Bernapas
Pada penyelam yang baru biasanya gugup dan bernapas dengan cepat dan dalam. Ajarkan supaya bernapas dengan santai, pelan, dan tidak tergesa-gesa. Bila masih belum dapat diatasi segera naik ke permukaan.
Jangan pernah melakukan ¡°skip breathing¡± dimana bertujuan menghemat udara. Hal ini mengakibatkan hiperkapnea.
Penyelam dapat mengalami kesulitan bernapas dari mouthpiece atau udara terasa kurang saat disedot sehingga harus dengan kuat,  jika tabung masih banyak terisi udara, hal itu disebabkan masalah regulator, segera naik ke permukaan.
Hal diatas juga dapat terjadi jika tabung sudah mulai habis, untuk itu buka cadangan mekanis dan segera naik ke permukaan. Jika menggunakan SPG, hentikan penyelaman jika tekanan tabung turun menjadi 500 psi (satu tabung) atau 250 psi (dua tabung).

Mask Clearing
Air mungkin sedikit masuk ke dalam masker. Hal ini dapat membantu membersihkan fog yang menempel di kaca. Namun dalam jumlah besar tentunya akan tidak nyaman sehingga harus dikeluarkan dengan mask clearing.
Jika masker mempunyai katup kuras, miringkan masker kearah katup kuras (biasanya dengan menunduk bila katup kuras di didepan),  tekan masker sedikit kemuka dan keluarkan udara dengan cepat melalui hidung. Hal ini membuat air keluar melalui katup.
Jika masker tidak punya katup kuras. Gunakan metode sesuai gambar. Yang sering digunakan adalah head up method. Yaitu angkat kepala sehingga masker agak keatas sehingga air terkumpul di daerah bawah. Tekan bagian atas masker sehingga seal bagian bawah agak terbuka dan langsung keluarkan udara lewat hidung. Lepaskan tekanan dengan cepat sehingga seal bagian bawah menempel kembali.
Jangan panik dalam melakukan ini. Cobalah berlatih dengan menggunakan snorkel saja sehingga kepercayaan diri meningkat jika menggunakan SCUBA.
Pemilihan masker juga harus mempertimbangkan faktor kenyamanan dalam melakukan mask clearing. Jika masker mudah masuk air segera batalkan penyelaman, dan ganti dengan masker yang lain karena udara akan habis untuk mask clearing. Sering mask clearing juga menurunkan kewaspadaan dalam penyelaman. Gunakan antifog sebelum masuk ke dalam air, dan jangan mengandalkan mask clearing untuk menghilangkan fog.

Hose and Mouthpiece Clearing
Mouthopiece dan hose dapat masuk air ketika dikeluarkan dari mulut dan masuk ke dalam air. Jika menggunakan single hose, itu bukan masalah besar karena untuk mengeluarkan air bisa menekan tombol kuras (biasanya di depan mouthpiece).
Untuk double hose, penyelam harus meyelam posisi horizontal dan memegang mouthpiece. Kemudian hembuskan udara ke dalam mouthpiece sehingga air yang masuk keluar lewat pipa pengeluaran (exhaust). Jangan bernapas dalam, sewajarnya saja. Jika masih ada air yang masuk lakukan hal yang sama dan kemudian bernapas wajar. Apabila tidak dapat bernapas, jungkir balik ke belakang sehingga udara mengalir bebas dari regulator.

Regulator Recovery
Jangan panik ketika mouthpiece lepas dari mulut. Jangan panik mencari hose nya. Jika lepas ada dua cara untuk mencari mouthpiece yang sudah berada di belakang.
Miringkan badan ke arah kanan dan tangan kanan direntangkan ke belakang dan tarik ke depan seperti gerakan mengayuh. Hose akan melintangi tangan dan akan terpegang.
Cara kedua yaitu dengan tangan kiri miringkan tabung scuba ke arah kanan dari belakang. Tangan kanan bergerak keatas dan mencari hubungan hose dengan first stage. Biasnya untuk mouthpiece adalah pipa paling atas sebelah kanan. Setelah menemukan hubungan hose maka carilah mouthpiece.

Teknik Berenang
Pada penyelaman, semua gaya dorong berasal dari kaki. Tangan hanya digunakan untuk manuver. Tendangan kaki lebar, santai, dengan gaya dorongan terutama dari paha. Lutut dan pergelangan kaki harus relax. Ritme tendangan kaki harus dipertahankan jangan sampai membuat lelah atau kram.
Jika sudah mahir dapat menggunakan dolphin kick. Dolphin kick dilakukan dengan menggerakkan langsung kedua kaki secara berirama seperti gaya kupu-kupu.

Komunikasi
Untuk penyelam rekreasi di dalam air dapat menggunakan isyarat  tangan. Sebenarnya komunikasi dalam SCUBA terdiri dari through-water communication systems (AM dan SSB), hand signals (isyarat tangan), slate boards (sabak), dan line-pull signals. 
Jika penyelam masih di permukaan dapat menggunakan suara. Untuk itu hapalkan isyarat tangan yang sering dipakai dalam selam.

Buddy Diver
Menyelam adalah kegiatan yang berisiko tinggi, terlebih-lebih bila penyelaman itu dilakukan seorang diri. Bila terjadi suatu keadaan darurat yang membahayakan keselamatan jiwa dan raga, tidak akan ada orang yang mengetahui dan membantu kesulitan tersebut. Oleh karena itu dunia penyelaman menganut dan mempraktekan prinsip penyelaman yang mengatakan never dive alone. Jadi menyelamlah selalu dalam suatu team dengan sistim mitra (buddy sistim).
 Berikut ini peraturan dasar buddy:
  • Selalu mempertahankan kontak dengan partner selam. Jika jarak penglihatan baik, pastikan partner selam dalam penglihatan. Jika jarak penglihatan buruk seperti air yang sangat keruh, gunakan buddy line.
  • Tahu arti isyarat tangan dan line pull signal.
  • Jika isyarat  telah diberikan, maka harus di respon secepatnya. Jika tidak direspon maka anggap suatu keadaan emergensi.
  • Monitor pergerakan dan kondisi partner selam. Ketahui gejala penyakit penyelaman. Jika partner selam terlihat tidak seperti biasanya, pastikan penyebabnya, dan ambil tindakan untuk menghilangkannya.
  • Jangan meninggalkan partner selam  walaupun partner sedang terperangkap dan tidak dapat lepas tanpa pertolongan. Jika tidak bisa ditolong, panggil penyelam lain dengan menandai lokasi selam dimana partner kita terperangkap.
  • Jika salah satu partner selam membatalkan penyelaman dengan berbagai alasan, maka yang lain juga harus naik ke atas.
  • Tahu bagaimana melakukan buddy breathing.
Buddy Breathing
Jika penyelam kehabisan udara, atau terjadi kerusakan SCUBA, maka mouthpiece dapat digunakan bersama partner selam. Jika penyelam mempunyai octopus tentunya sangat mudah. Bila hanya punya satu mouthpiece, maka lakukan buddy breathing. Buddy breathing dilakukan dengan berhadapan, dan bergantian bernapas sambil naik ke permukaan. Prosedurnya sbb:
  • Penyelam yang kekurangan udara harus tenang dan memberikan isyarat tangan ke partnernya dengan menunjuk ke arah mouthpiece. 
  • Kedua penyelam saling memegang lengan masing-masing sehingga jarak tidak terlalu jauh. Berikan oktopus. Jika tidak ada lanjut ke prosedur selanjutmya.
  • Penyelam yang menolong bernapas dulu lalu memberikan mouthpiece ke penyelam yang ditolong. Penyelam yang ditolong jangan memegang mouthpiece. Mouthpiece diarahkan oleh penyelam penolong ke arah mulut yang ditolong. Kedua penyelam harus menjaga kontak tangan dengan mouthpiece.
  • Mouthpiece mungkin kemasukan air. Oleh karena itu tekan tombol kuras sebelum masuk ke mulut atau mengeluarkan napas ke dalam mouthpiece sebelum mengambil napas.
  • Penyelam yang ditolong mengambil dua napas dan mengembalikan ke penolong. Tekan tombol kuras dan penyelam penolong bernapas dua kali.
  • Lakukan hal ini dengan ritmis dan jangan tergesa-gesa. Jangan naik ke atas jika tidak melakukan siklus yang benar.
  • Jika naik ke permukaan jangan lupa mengeluarkan napas untuk menghindari barotrauma.
Adaptasi dengan Kondisi Air
Dengan melihat kondisi bawah air yang berbeda-beda, maka penyelam harus melakukan adaptasi.
  • Jika tempat penyelaman berlumpur. Penyelam jangan menyentuh dasar, cukup 2-3 feet diatas lumpur. Hindari mengayuh terlalu kuat sehingga lumpur dapat naik ke atas.
  • Hindari menyentuh karang dan dasar berbatu karena dapat melukai dam menggores kulit.
  • Hindari perubahan kedalaman secara tiba-tiba. Pertahankan kedalaman penyelaman, jangan naik turun.
  • Jangan membelok terlalu jauh dari tempat penyelaman.
  • Waspada terhadap efek cahaya di dalam air. Objek terlihat membesar dan dekat.
  • Waspada terhadap arus yang kuat, terutama arus celah. Jika terbawa arus, relax, jangan melawan. Jika arus sudah mulai lemah berenaglah menghindarinya. Jangan mencoba melawan arus.
Ascent Procedures
Setelah waktu penyelaman dicapai, maka salah satu penyelam harus memberi isyarat untuk naik ke atas. Penyelam tidak boleh naik dengan cepat melebihi 30 feet/menit USN (0,12 m/detik). Bernapas secara normal, jangan menahan napas selama naik karena menyebabkan emboli udara.
Ketika naik ke atas, lakukan dengan memutar badan 360 derajat sehingga dapat melihat sekitar dan satu tangan dinaikkan ke atas untuk mengetahui apakah ada yang menghalangi. Naik harus bersama-sama dengan buddy.
Untuk menghindari cedera pada waktu muncul ke permukaan penyelam harus selalu melihat ke atas, menggapai dan kemudian muncul perlahan-lahan berputar 360o sambil tetap mengawasi permukaan. Manufer ini penting sekali,  terutama pada tahap 10 feet terakhir untuk sampai di permukaan.

Tehnik muncul terkendali (slow ascent)
Penyelam harus selalu naik ke permukaan dengan lambat. Kecepatan aman untuk naik adalah 60 feet per menit. Cara mengetahui kecepatan yang paling mudah adalah melihat gelembung udara yang paling kecil dan tidak boleh mendahului.

Tehnik muncul bebas 
Penyelam melakukan surface dive, berenang ke dasar kemudian melepaskan snorkel dan naik ke permukaan secara perlahan-lahan sambil menghembuskan nafas terus-menerus hingga muncul ke permukaan. Posisi kepala menengadah, pandangan dan tangan mengarah ke atas.

Emergency Swimming Ascent (ESA)
Pada saat terjadi udara pada tabung habis, seorang penyelam harus melakukan tehnik muncul darurat dengan cara melepaskan regulator dari mulut, naik ke permukaan secara vertikal dengan perlahan-lahan dan menghembuskan nafas secara terus-menerus hingga mencapai kedalaman 10 feet, pada kedalaman tersebut posisi badan berubah menjadi horizontal, kepala menengadah keatas, tangan mengembang, hingga sampai ke permukaan. Pada keadaan tertentu weight belt dapat dilepas untuk mendapatkan tambahan daya apung positif.

Emergency Free- Ascent Procedure
Jika penyelam kehabisan udara atau SCUBA terjepit sesuatu, dan partner selam terlalu jauh untuk menolong maka lakukan prosedur ini:
  • Lepaskan peralatan dan objek yang dipegang tangan.
  • Lepaskan sabuk pemberat.
  • Jika SCUBA terjepit dan harus ditinggalkan, lepaskan buckle BC pada pinggang, dada, bahu, dan pangkal paha. Keluarkan satu tangan dulu, baru tangan yang lainnya lagi. Metode lain adalah dengan menjungkirbalik tabung scuba di atas kepala dan sehingga kedua tangan langsung terlepas. Pastikan hose tidak menjepit leher.
  • Jika hanya kehabisan udara, lepaskan objek yang ada di tangan, lepaskan sabuk pemberat, dan kembangkan BC. Jangan melepaskan tabung SCUBA kecuali alasan mutlak.
  • Jika penyelam tidak sadar, partnernya harus berenag ke arahnya dan mengembangkan BCnya sambil membawa korban keatas. Sabuk pemberat juga dapat dilepaskan. Pegang korban, jangan sampai lepas.
  • Keluarkan napas selama naik ke permukaan, jangan ditahan dan panik.
Decompression
Jika penyelam diharuskan melakukan Deco Stop, maka berhenti di kedalaman Deco Stop. Masing-masing penyelam atau satu orang dapat menghitung waktu Deco. Setelah waktu Deco tercapai, naik ke permukaan atau stasiun Deco selanjutnya.

Snorkel Clearing
Jika sudah berada dipermukaan, maka bernapaslah dengan snorkel. Hal ini dilakukan karena tabung sudah habis dan menghemat udara.. Untuk mengetahui snorkel masuk air biasanya terdengar air masuk di pipa snorkel di bagian kiri. Snorkel clearing dilakukan melalui dua cara:
Popping 
Cara menghilangkan air dari snorkel dengan cara menghembuskan udara ke dalam snorkel sehingga air di dalam snorkel hilang Pertama-tama keluarkan air di. Air akan keluar lewat lubang atas dan katup kuras dan kita dapat bernafas.  
Water displacing method 
Cara snorkel clearing dengan metode ini sangat membantu, karena tidak perlu meniup udara dengan keras. Pada saat penyelam mendekati permukaan dengan tangan ke atas tengadahkan kepala sehingga ujung atas snorkel mengarah ke bawah dengan menghembuskan secara perlahan dan terus-menerus akan mengakibatkan udara yang dihembuskan menahan air masuk ke snorkel sewaktu penyelam menuju ke atas. Setelah penyelam sampai di permukaan dan posisi berenang, maka ia akan dapat menghirup udara tanpa harus meniup snorkel karena snorkel telah bersih dari air.

Surface and Leaving Water
Ketika sampai ke atas cepat lokalisasi kapal. Baik dengan melihat, mendengar suara propeller. Lihat juga apakah ada penyelam lain yang masih berada di dalam air.
Pada saat penyelam sudah berada di permukaan, namun jauh dari kapal maka penyelam dapat berenang menuju ke kapal. Berhubung penyelam masih menggunakan peralatan selam lengkap, maka cara yang terbaik dan tidak melelahkan adalah dengan mengisi udara ke BC untuk mengurangi beban tersebut dan berenang dengan menggunakan snorkel menuju ke kapal.
Jika ingin naik ke kapal dengan mudah, lepaskan sabuk pemberat dan minta penolong memegangnya. Jika kapal mempunyai tangga, maka lepaskan fin dan naik keatas. JIka menggunakan boat yang kecil, penyelam yang sudah berada di boat harus duduk sehingga tidak membuat kapal oleng.

Keadaan Darurat Penyelaman
Keadaan darurat selalu dimungkinkan terjadi pada setiap penyelaman, betapapun sempurnanya persiapan untuk itu telah dilakukan. Cukup banyak variabel yang dapat diidentifikasikan sebagai faktor penyebabnya. Kondisi penyelaman, panik, cuaca, kedalaman, kerusakan peralatan dan seterusnya. Keadaan ini bila tidak segera ditanggulangi secar a tepat dan cepat sangat potensial menjadi penyebab terjadinya kecelakaan penyelaman.
Ironisnya sebagian besar kecelakaan penyelaman justru terjadi pada saat seorang penyelam sudah mulai merasa berpengalaman (kawakan), merasa cukup mampu menangani masalah penyelaman. Suatu keadaan yang cenderung membuat orang menjadi lengah dan ceroboh. Kelengahan dan kecerobohan di sini mencakup fisik maupun mental. Kelengahan mental menyebabkan   "human error" , atau kekhilafan manusiawi yang bila dihadapkan pada kondisi rawan dapat berakibat fatal. Human error / kekhilafan manusiawi, itulah sebab utama terjadinya kecelakaan penyelaman. 
Oleh karena itu tetap relevan untuk dianjurkan agar para penyelam senantiasabersedia melatih diri, mempersiapkan diri, briefing, de-briefing, dive planning, check dan re-check peralatan sebelum menyelam, mempelajari kembali prosedur-prosedur baku dalam penyelaman dan sebagainya. Filosofinya, lebih baik belajar mengenali dan menghindari bahaya sebelumnya daripada mengatasi bahaya setelah terjadi, karena hasilnya sangat spekulatif.

Keadaan Tanpa Udara
Dari sekian banyak keadaan darurat yang dapat terjadi setiap kali menyelam, situasi  "tanpa udara"  merupakan hal yang paling riskan penanggulangannya. Bertahun-tahun orang memperdebatkan jalan atau cara apa yang terbaik untuk dilakukan jika menghadapi keadaan "kehabisan udara" . Pada kenyataannya, tidak ada satu carapun yang dapat disepakati sebagai cara yang memuaskan dan memberikan jaminan keselamatan bagi pelakunya. Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia, menawarkan beberapa cara atau prosedur yang dianggap "layak"  untuk mengatasi keadaan darurat tersebut. 

Cara menghadapi keadaan darurat dibedakan dalam 2 kategori, yaitu:

Dengan "bantuan"
Menghadapi keadaan darurat penyelaman dengan bantuan dibagi menjadi 2 yaitu:
Octopus Assisted Ascent (OAA).
OAA dapat dilakukan dalam hal seorang penyelam memberikan bantuan udara kepada mitranya yang kehabisan udara, melalui  "extra second stage"  yang lazim disebut   "octopus" . Cara ini relatif aman dan mudah pelaksanaannya karena masing-masing penyelam bernapas melalui sebuah  "second stage"   tersendiri.
Buddy Breathing (BB).
Dilakukan dengan cara bergantian bernapas melalui satu "Second Stage"  dari satu regulator dari si penolong (Donor). Hendaknya terus menerus dilakukan sambil naik ke permukaan secara terkendali, karena itu BB sering juga disebut  buddy breathing ascent  (BBA).

Dengan "Berdikari"
Cara menghadapi keadaan darurat yang terjadi dalam penyelaman, khususnya kehabisan udara, mungkin harus dilakukan sendiri oleh penyelam, dalam hal tidak ada lagi mitra yang bisa dimintai bantuan. Ada dua macam cara  "berdikari"  yang bisa dilakukan yaitu:
Emergency Swimming Ascent (ESA)
Ini adalah cara menghadapi keadaan darurat secara berdikari yang terpenting, dimana si penyelam yang kehabisan udara berenang ke permukaan secara terkendali sambil terus menerus menghembuskan udara keluar, untuk menjaga agar tidak terjadi pengembangan paru-paru yang berlebihan.
Buoyancy Ascent (BA)
Adalah prosedur  "Berdikari"  pilihan terakhir. Dilakukan dengan cara membuang  weight belt  dan menggunakan daya apung positif yang diperoleh dengan mengembangkan BC di kedalaman.   Buoyancy ascent  dipraktekkan jika penyelam serius meragukan bahwa ia tidak mungkin dapat mencapai permukaan dengan berenang.  Buoyancy ascent  dari kedalaman sangat berbahaya karena ada kemungkinan gerak laju ke permukaan menjadi tidak terkendali.     Buoyancy ascent  ini sering disebut pula emergency/exhaling buoyancy ascent.

Apabila sungguh-sungguh menghadapi keadaan darurat dalam arti kehabisan udara, cobalah mengikuti prosedur di bawah ini melalui urutan teratas yaitu:
  1. Berhenti dan berpikir. Hentikan manuver dan berpikir secara wajar tentang situasi yang sedang anda alami; 
  2. Hembuskan udara lambat-lambat (kalau masih ada) dan perhatikan SGP.
  3. Jika SGP masih menunjukkan : -adanya tekanan udara, maka tekanlah tombol kuras; - tidak ada tekanan udara, cek katup tabung, mungkin tombol katup masih dalam posisi "off" yang biasanya terjadi pada awal penyelaman.
  4. Usahakan untuk menarik napas lagi kalau masih ada hantaran udara, beri isyarat pada mitra dan jelaskan keadaannya. Bila tekanan udara pada posisi cadangan, hentikan penyelaman dan naik saja ke permukaan.
  5. Bila tidak ada hantaran udara, mintalah mitra untuk melakukan OAA / BB. Bila mitra telah jauh, pilih manuver ESA / EBA (sebagai alternatif terakhir).
  6. Bila mitra tidak bisa diajak komunikasi dan tidak mengerti situasi yang hadapi, maka lakukanlah ESA / EBA sebagai alternatif terakhir.
Postdive Procedures
Setelah semua meninggalkan penyelaman lakukan briefing ulang mengenai:
  Tujuan yang telah dicapai.
  Hambatan dan masalah yang terjadi.
  Kondisi fisik penyelam.
  Kerusakan peralatan.
Setelah semua mencapai tempat maka peralatan harus dibersihkan dan disimpan sesuai prosedur.
Logging penyelaman 
Membiasakan penyelam membuat catatan setelah selesai acara latihan, secara cermat tentang : 
  kedalaman; 
  bottom time; 
  jarak pandang; 
  temperature; 
  repetitive dive 
Catatan tersebut ditulis pada sebuah buk u yang wajib dimiliki oleh setiap penyelam yang lazim disebut "Diver Log Book". 




Isyarat pada Penyelaman

Isyarat
Isyarat sangat diperlukan untuk dapat berkomunikasi di dalam air  maupun dari dalam air dengan permukaan. Macam isyarat tersebut antara lain isyarat tangan, penglihatan, suara, sentuhan, dll. Semua isyarat dapat dipergunakan disesuaikan dengan kondisi saat itu.
Pengetahuan tentang isyarat dalam penyelaman mempunyai tujuan untuk mempermudah komunikasi antar penyelam sehingga kegiatan penyelaman akan mencapai kesuksesan, aman, dan selamat. Untuk itu adakan kesepakatan berkomunikasi dengan mitra sebelum memulai penyelaman.
Isyarat paling sederhana dan praktis adalah isyarat tangan, untuk itu setiap penyelam dianjurkan mengetahui arti dari isyarat tangan tersebut.  Dengan demikian, komunikasi di dalam air menjadi mudah dan pesan dapat disampaikan dengan tepat.










Sumber:
USN Diving manual 6th
Sumber elektronik



Pembacaan Tabel Selam

Konsep Haldane
Pada tahun 1900 seorang profesor dokter Inggris yaitu Haldane yang banyak berkecimpung dalam penyelaman, menemukan bahwa zat gas yang diserap oleh tubuh penyelam dapat ditahan didalamnya bila penurunan tekanan adalah 2:1 gantinya perbandingan tekanan permukaan dengan tekanan sekeliling selisih bandingnya tidak lebih dari 2.
Dengan demikian pada kedalaman 10 meter (33 feet) dalam waktu lama, seorang penyelam tidak akan mengalami dekompresi (tidak terjadi pembentukan gelombang saat muncul). Bila sudah melebihi 10 meter karena melebihi perbandingan 2:1 maka semakin dalam menyelam, makin singkat waktu dasar (BT). Untuk itu diperlukan tabel selam agar penyelaman terhindar dari penyakit decompressi.

Tabel Selam
Di dalam tabel USN 1-10 disamping terdapat empat kolom yang terdiri dari.
  • Depth (feet) yaitu penunjukkan kedalaman penyelaman dalam satuan feet.
  • Bottom time (min) yaitu waktu dasar adalah waktu penyelaman dihitung saat mulai masuk dalam air hingga pada saat akan naik ke permukaan dalam menit.
  • Decompression stop (min) yaitu pada kedalaman tertentu dalam waktu tertentu seorang penyelam harus berhenti dalam perjalanan naik ke permukaan dalam menit, terdiri dari kedalaman 20 feet dan 10 feet sebagai station pemberhentian.
  • Repetitif group yaitu abjad petunjuk tabel.

Pada kolom pertama tertulis kedalaman mulai dengan 40 feet, penambahan kedalaman sebesar 10 feet bagi seorang penyelam harus menjadi patokan untuk penentuan kedalaman selam. Bila kedalaman sebesar 62 feet maka harus dihitung menjadi 70 feet, dan bila kedalamannya 75 feet maka dihitung menjadi 80 feet dan seterusnya. Selalu harus dihitung kedalaman paling besar yang dicapai. Misalnya bila kedalaman penyelaman 60 feet tetapi karena sesuatu hal tiba-tiba harus turun ke 80 feet untuk beberapa saat saja, maka kedalaman penyelaman harus dihitung menjadi 80 feet.

Kolom kedua ditulis waktu di dasar (Bottom time) dalam menit. Bila waktu penurunan sampai kedalaman yang hendak dicapai 5 menit dan waktu yang digunakan sebelum naik adalah 20 menit, maka waktu BT adalah 25 menit. Pada kolom ini setiap kedalaman dimulai dengan angka yang menunjukkan waktu maksimal pada kedalaman tersebut yang belum memerlukan dekompresi, artinya muncul sampai di permukaan dapat dilakukan tanpa perlu berhenti untuk membiarkan kelebihan gas yang diserap oleh tubuh dapat lepas secara wajar. Laju kecepatan naik adalah 60 feet / menit atau 1 feet / detik. Waktu maksimal ini disebut "Batas Tanpa Dekompresi" atau lazim disebut "No Decompressi Limit" atau "Waktu Nol".

Bila melampaui batasan tersebut maka harus dilihat BT yang bersangkutan dan perlu berhenti untuk dekompresi. Kolom ketiga adalah waktu sampai pemberhentian dekompresi pertama (dalam menit dan detik). Kecepatan naik 1 feet/detik harus diambil sebagai patokan. 
Kolom keempat adalah kedalaman pemberhentian dekompresi (dalam feet).



Seorang penyelam scuba harus selalu berusaha agar jangan melampaui batas tanpa dekompresi (NDL). Pada kolom ini dapat dilihat bahwa pemberhentian dekompresi dapat dimulai pada kedalaman 500 feet. Biasanya pemberhentian dekompresi dibuat pada 10 feet. Bila perlu dilakukan pemberhentian dekompresi maka letak posisi paru-paru harus pada kedalaman yang ditentukan, bukan pinggang atau kepala.

Ambillah toleransi sedikit, kurangi BT sampai kira-kira 5 menit lebih kecil dari waktu "Tanpa Dekompresi" supaya aman. Demikian pula bila dilakukan penyelaman yang lama dan atau dalam, berhentilah untuk beberapa menit pada kedalaman 10 feet demi keamanan sendiri.

Contoh Seorang penyelam yang menyelam pada kedalaman 60 feet dalam waktu (bottom time) 70 menit maka penyelam tersebut harus Deco Stop di kedalaman 10 feet selama 2 menit dan dimasukkan dalam group K.

Muncul darurat, jika tidak ada tabung reserve hingga penyelam harus timbul di permukaan dari kedalaman, maka ia harus mengikuti prosedur darurat Angkatan laut Amerika. 

Contoh Penyelam harus dalam waktu 3 menit muncul, memakai tabung baru dan segera turun kembali ke kedalaman 40 feet. Pada kedalaman ini penyelam harus membuat "Decompression Stop" selama 1/4 waktu dekompresi yang seharusnya ia buat pada 10 feet. Lalu naik ke 30 feet dalam waktu tepat 1 menit, kemudian melakukan dekompresi stop selama 1/3 waktu dekompresi yang seharusnya pada 10 feet, naik lagi ke 20 feet dalam waktu 1 menit tepat dan melakukan dekompresi stop 1 waktu dekompresi 10 feet, dan terakhir naik ke 10 feet dalam waktu 1 menit tepat untuk melakukan dekompresi stop selama 1,5 waktu dekompresi stop kedalaman 10 feet, kemudian muncul ke permukaan. Prosedur ini harus diikuti apabila tidak ada "Recompression Chamber" didekatnya. Maka dari itu sediakanlah selalu  tabung untuk reserve.

1/4 pada 40 feet; 1/3 pada 30 feet;
1/2 pada 20 feet; 1/5 pada 10 feet
Dengan kecepatan 10 feet / menit

Waktu dekompresi seharusnya 3 menit pada 10 feet. Maka bila mengikuti prosedur di atas adalah sebagai berikut : 

0,75 menit pada 40 feet .
1  menit pada 30 feet .
1,5   menit pada 20 feet .
4,5   menit pada 10 feet .

Total 7,75 + 4 menit untuk naik 
Total di bawah air : 11,75 menit

Contoh Soal dengan Acuan USN 1-10 Lama
Pertanyaan
Seorang penyelam menyelam di kedalaman 40 feet. Waktu yang dibutuhkan untuk turun 4 menit. Kemudian menyelam statis selama 45 menit. Tentukan Bottom Time (BT)? Apakah perlu DecoStop? Group?
Jawab
BT adalah waktu penyelaman dihitung saat mulai masuk dalam air hingga pada saat akan naik ke permukaan dalam menit. Jadi BTnya adalah 45+4= 49 menit.
DecoStop tidak perlu karena tidak melebih NDL, namun sebaiknya melakukan karena dapat menghindari pembentukan gelembung udara. Dimasukkan dalam grup F.

Pertanyaan
Seorang penyelam menyelam di kedalaman 60 feet. Waktu yang dibutuhkan untuk turun adalah 5 menit. Penyelam kemudian menyelam stabil selama 70 menit. Tentukan BT, kedalaman dan lama DecoStop!
Jawab
BT: 70+5 = 75 menit
DecoStop kedalaman 10 feet selama 7 menit dan masuk ke dalam grup L.

Ingat!, waktu DecoStop lebih baik diperlama dalam prakteknya


Tabel Selam Ulang
Seorang penyelam yang akan mengadakan selam ulang harus dapat membaca tabel selam USN. Penyelaman ulang dilakukan bila penyelam  setelah penyelaman tunggalnya beristirahat dari 10 menit sampai dengan 12 jam.

Tabel 1-11
Merupakan tabel yang menunjukkan ¡°No Decompression Limit¡± dan ¡°Repetitive Group Designation¡± artinya dalam batas waktu maksimum bottom time pada suatu kedalaman tertentu tanpa terkena dekompresi dan abjad groupnya. Kemudian lanjutkan pembacaan di tabel 1-12.
Tabel 1-12
Tabel yang menunjukkan ¡°Surface Interval¡± artinya waktu istirahat penyelam sebelum dilakukannya penyelaman ulang dari 10 menit sampai dengan 12 jam dan baca groupnya. Kemudian lanjutkan pembacaan tabel 1-13.
Tabel 1-13
Tabel yang menunjukkan ¡°Repetitive Dive¡±. Artinya bila akan mengadakan selam ulang dalam waktu istirahat (SI) tertentu maka sisa nitrogen yang ada akan dapat dibaca dengan melihat kedalaman yang akan dilakukan untuk penyelaman ulang (penyelaman berikutnya).
Setelah membaca tabel maka penyelam dapat merencanakan penyelaman ulang yang aman terhindar dari decompresi dengan mengikuti prosedur dalam tabel tersebut.
Contoh Seorang penyelam merencanakan penyelaman di kedalaman 40 feet selama 5 menit, beristirahat 2 jam kemudian menyelam ulang di kedalaman 40 feet selam 30 menit maka sisa nitrogen yang ada dalam tubuhnya adalah 7 menit. Penyelam itu sebenarnya menyelam dalam waktu 37 menit di kedalaman 40 feet tersebut.  Sessi lanjut  akan diperdalam dalam profil selam ulang.

Contoh Soal dengan Acuan USN 1-11,13 Lama
Pertanyaan
Seorang penyelam menyelam 60 feet selam 40 menit kemudian naik ke permukaan. 4 menit kemudian menyelam lagi ke kedalaman 80 feet selama 35 menit. Berapakah kedalaman dan lama DecoStop penyelaman kedua?. 4 menit kemudian ia menyelam lagi ke kedalaman 80 feet selama 35 menit. Berapakah kedalaman dan lama DecoStop penyelaman ketiga?.
Jawab
Penyelaman pertama 60 feet selama 40 menit berarti tidak ada DecoStop dan dimasukkan ke grup G.
Sisa nitrogen setelah 4 menit di permukaan dan kembali ke kedalaman 80 feet adalah 13 menit dan dimasukkan ke dalam grup C dalam selam ulang.
Bottom time selam ulang kedua adalah 35+13= 48 menit. Jadi penyelaman ulang kedua harus DecoStop pada kedalaman 10 feet selama 10 menit dan dimasukkan ke dalam group K.
Sisa nitrogen setelah 4 menit menit di permukaan dan kembali ke kedalaman 80 feet adalah 18 menit dan dimasukkan ke dalam grup D dalam selam ulang.
Bottom time selam ulang ketiga adalah 35+18= 53 menit. Jadi penyelaman ulang ketiga harus DecoStop pada kedalaman 10 feet selama 17 menit dan dimasukkan ke dalam grup L.

Dengan uraian diatas maka penyelam scuba akan dapat membaca tabel untuk merencanakan suatu kegiatan penyelaman tanpa menyebabkan terjadinya penyakit dekompresi dengan mengikuti prosedur yang ada pada tabel tersebut.


Sumber:
USN Navy Diving manual 6th
NB: Mungkin berbeda dive table pada ADS dan PADI (komersil)




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer